Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 04 April 2026

Hari Ini, GBKP Undang Pakar Geologi Temu Sosialisasi Memahami Gempa Bumi

* Pdt Masada Sinukaban: Karo Rawan Gempa, Warga Perlu Dilatih Mitigasi Mandiri
- Sabtu, 25 Februari 2017 18:58 WIB
454 view
Medan (SIB)- Para unsur pimpinan Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) se-klasis Barus-Sibayak yang meliputi 24 runggun gereja dengan total 11.000 jiwa jemaat GBKP di kawasan Kecamatan Dolat Rakyat Kabupaten Karo, hari ini (Sabtu 25/2) menggelar Temu Sosialisasi Memahami Gempa Bumi, dengan mengundang pakar geologi dan kegempaan, Ir Jonathan Ikuten Tarigan, di aula GBKP Tanjung Barus.

Ketua GBKP Klasis Barus-Sibayak, Pdt Masada Sinukaban MSi, menyatakan segenap warga atau masyarakat daerah Karo harus dilatih dan didorong penuh untuk memposisikan diri sebagai barisan mitigasi mandiri yang tangguh dan mapan secara permanen agar mampu berperan dan bertindak cepat mencegah dan menangani risiko yang diakibatkan terjadinya bencana gempa bumi dan sebagainya.

"Para pakar dan data ilmiah menunjukkan bahwa daerah Karo ini termasuk kawasan yang serba rawan gempa karena secara geologis terletak atau berada pada jalur patahan Toba Renun Angkola (TRA) sebagai garis gempa tektonik. Secara vulkanologis juga dikeliling sejumlah gunung api yang sewaktu-waktu bisa erupsi seperti Gunung Sinabung sekarang. Lalu, gempa berulang yang di Sumut (Medan, Deli Serdang dan Karo) yang terjadi berulang baru-baru ini disebutkan terjadi pada jalur patahan Tanjung Pura (di Langkat) dan patahan Tanjung Morawa (Deli Serdang). Ini memang perlu dipahami dan diantisipasi dengan mitigasi mandiri, yang akan kami mulai dari barisan diri sendiri di kalangan 11.000 jiwa jemaat GBKP Klasis Barus-Sibayak ini," papar Pdt Masana Sinukaban kepada SIB, Jumat (24/2).

Dia mencetuskan hal itu sehubungan rencana dan agenda Temu Sosialisasi Memahami Gempa Bumi Karo, yang akan dilaksanakan pada hari ini (Sabtu 25/2), yang akan dihadiri 80-an orang unsur pimpinan gereja klasis (14 pendeta) dan delegasi jemaat dari kalangan majelis seperti pertua dan diaken (50-an orang), mamre (perwakilan kaum pria) dan mamre (perwakilan kaum wanita) 20-an orang plus enam orang tenaga detaser (penginjil).

Lalu, pada 28 Februari, ujar Masada, pertemuan serupa juga akan digelar lanjut di GBKP Bandar Baru, yang akan dihadiri 120-an peserta (para unsur pimpinan gereja GBKP dan perwakilan jemaat GBKP) dari kawasan Semangat Gunung (Raja Berneh sekitarnya) 70-80 orang, dan peserta dari Bandar Baru (Sibolangit-Sukamakmur) 30-40 orang.

Pada diskusi dan paparan di Bandar Baru ini, pakar Jonathan Tarigan akan memaparkan profil daerah Karo yang telah terpetakan sebagai kawasan rawan gempa, dengan fokus pemahaman karakteristik gempa vulkanik maupun tektonik, serta reaksi gempa sebagai relaksasi bumi yang alami.

"Bahwa, gempa sebagai bagian dari bentuk bencana, memang akan terjadi swaktu-waktu tanpa bisa diprediksikan manusia. Namun, sebagai manusia yang punya hikmat dari Tuhan, tentu perlu dan harus memiliki pengetahuan untuk mitigasi atau pencegahan dan penanganan risiko bila terjadi sesuatu pada alam ini. Gereja sebagai wadah perhimpunan jemaat, di samping doa-doa tentu juga perlu karya dan peran melalui sosialisasi dan mitigasi bencana ini. Doa kami saat ini adalah bagaimana memampu kan 11.000 jiwa jemaat GBKP di sini sebagai barisan penyelamat yang diberkati Tuhan nantinya," ujar Pdt Sinukaban optimis. (A04/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru