Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 05 April 2026

Informasi Negatif Pengaruhi Kehidupan Masyarakat Kawasan Danau Toba

- Senin, 27 Februari 2017 22:35 WIB
599 view
Informasi Negatif Pengaruhi Kehidupan Masyarakat Kawasan Danau Toba
SIB/Dok
Wisatawan : Sejumlah wisatawan mandi dan bercengkrama di Danau Toba. Adanya informasi tentang lintah di Danau Toba, diharapkan tak mempengaruhi kunjungan wisatawan ke kawasan Danau Toba.
Ajibata (SIB)- Sejumlah masyarakat di kawasan Danau Toba meminta agar masyarakat tidak terpengaruh dengan  pemberitaan tentang adanya  lintah dan kutu di Danau Toba, tanpa ada konfirmasi dari instansi yang berwenang. Begitu juga dengan masyarakat yang tidak melihat langsung keberadaan lintah tersebut, jangan ikut menyebarkan informasi tersebut karena berdampak buruk bagi kemajuan Danau Toba, terutama dunia wisata.    

"Sejauh ini saya  belum ada menemukan yang namanya lintah dan kutu. Setiap sore saya berenang di pinggiran Danau Toba, tapi belum pernah menemukan lintah dan badan saya juga tidak gatal-gatal," kata Robinson Sirait, seorang warga Ajibata, kepada wartawan, Kamis (23/2) di Ajibata, Kecamatan Ajibata,  Toba Samosir (Tobasa).

Ia berharap, semua pihak bisa bertanggung jawab atas apa yang disebutkan, karena memberi informasi tanpa disertai bukti akan mempengaruhi ekonomi masyarakat yang banyak menggantungkan kehidupannya dari pemanfaatan air Danau Toba dan keindahan alamnya.

Menurut Robinson (35), misalnya seseorang menemukan adanya lintah. Hal itu juga harus dipertanyakan, apakah orang itu dari sawah atau tidak. Kalau seseorang itu datang dari sawah, bisa jadi lintah itu terbawanya dari sawah yang kemudian dia mandi di Danau Toba. "Apakah itu bisa kita katakan, Danau Toba sudah dicemari dengan lintah?" kata Robinson lagi.

Sementara itu, menanggapi lintah dan kutu yang menyerang Danau Toba, mantan Bupati Samosir Mangindar Simbolon menyebut, harusnya upaya pemerintah yang ingin memajukan Danau Toba sebagai salah satu destinasi wisata international harus didukung semua pihak.

Mangindar juga mengatakan, setiap ada kemajuan dalam kehidupan selalu ada dampak positif dan negatif. Sebagai contoh keberadaan KJA. Dampak positifnya, perekenomian masyarakat meningkat (baik) dan  dampak negatif ekologi (lingkungan) terganggu.

"Itu sejalan. Namun bagaimana upaya pemerintah dan elemen terkait menjaga keseimbangan (ekonomi dan ekologi) itu untuk jangka panjang. Jadi, tidak ada yang bersih seratus persen. Itu yang harus kita pahami," jelasnya.

Putra daerah Samosir ini mengharapkan,  pemberitaan tentang Danau Toba  itu jangan dilebih-lebihkan bila tidak didasari pembuktian secara ilmiah. "Mungkin ada pihak  yang ingin menyerang Danau Toba dari sisi negatif atas kehadiran perusahaan di lingkungan itu. Tapi,  sebaiknya dipikirkan secara matang karena bisa  merugikan masyarakat Danau Toba sendiri," kata Mangindar yang saat ini sedang mendirikan suatu lembaga Sahabat Danau Toba.
Sementara itu, dari pengamatan sejumlah awak media di perairan Ajibata dekat dermaga dan juga di perairan Pangambatan, Kecamatan Simanindo Kabupaten Samosir tidak jauh dari KJA, tidak ditemukan yang namanya lintah.

Sementara itu, Kepala Laboratorium PT Aquafarm Nusantara (AN) Friska Setiawan Saragih mengatakan, pengelolaan dan pemantauan kualitas air Danau Toba sekitar KJA dilakukan pengujian sample air di lab PT AN secara rutin tiap bulan.

Selain itu, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provsu bekerjasama dengan BLH Kabupaten Samosir, Simalungun dan Tobasa setiap enam bulan juga melakukan pengawasan kualitas air sekitar KJA PT AN dengan mengambil sample air dan menguji di lab BLH dan badan independen lainnya. Hasil pengujian kualitas air ini, dilaporkan dalam laporan rencana pengelolaan dan rencana pemantauan lingkungan.

"Hasil pengujian parameter kualitas air masih berada dalam batas ambang baku mutu sesuai dengan ketentuan Permen LH dan baku mutu air kelas I Danau Toba," jelas Friska didampingi Humas PT AN Afrizal dan Konsultan PT AN Saruhum Rambe. (R5/f)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru