Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 16 April 2026

Masyarakat Pakpak Bharat Keluhkan Kelangkaan Pupuk

Redaksi - Senin, 27 Januari 2020 16:36 WIB
216 view
 Masyarakat Pakpak Bharat Keluhkan Kelangkaan Pupuk
FORNEWS
Ilustrasi
Medan (SIB)
Anggota DPRD Sumut Dapil Karo, Dairi dan Pakpak Bharat, Franc Bernhard Tumanggor menerima keluhan masyarakat Desa Singgabur Kecamatan Sitelu Tali Urung Julu Kabupaten Pakpak Bharat terkait dengan terjadinya kelangkaan pupuk bersubsidi setiap musim tanam dan pemupukan tiba, sehingga masyarakat mengalami gagal panen.

"Masyarakat mengeluh dan mengalami kerugian besar akibat gagal panen, karena tanaman mereka tidak dipupuk, sebab sangat sulit memeroleh pupuk saat musim tanam dan pemupukan tiba," ujar Franc Bernhard Tumanggor kepada wartawan, Minggu (26/2) melalui telepon di Medan.

Berdasarkan pengaduan masyarakat ke lembaga legislatif, tambah politisi Partai Golkar ini, pada awalnya bibit jagung, cabe, kopi maupun padi ditanam tumbuh subur, namun hasilnya tidak memuaskan alias buahnya kecil-kecil, karena tidak ada pupuk yang seyogianya diberikan saat pemupukan tiba.

"Di sini masyarakat mengalami kerugian sangat besar karena kelangkaan pupuk bersubsidi. Kejadian ini kerap terjadi setiap musim tanam dan saat pemupukan tiba, sehingga menjadi dilema bagi masyarakat yang sangat menggantungkan tanamannya terhadap pupuk bersubsidi," ujar Franc Bernhard.

Berkaitan dengan itu, anggota Komisi B yang membidangi pertanian ini sangat berharap kepada distributor maupun agen-agen pupuk bersubsidi agar menyesuaikan pendistribusian pupuk kepada para kelompok tani di saat musim tanam dan pemupukan tiba, agar petani bisa menggunakannya.

"Memang persoalan kelangkaan pupuk ini menjadi masalah besar bagi petani, terutama yang menggantungkan harapannya terhadap pupuk bersubsidi, sebab pupuk non subsidi harganya tidak terjangkau masyarakat, karena harganya tidak lagi sebanding dengan hasil panen dan modal," tegas Franc Bernhard.

Dari penuturan masyarakat, tegas politisi muda ini, tanaman kopi, cabe dan padi dari Desa Singgabur selama ini terkenal sangat baik, tapi akhir-akhir ini hasilnya sangat mengecewakan dan gagal buah, akibat kelangkaan pupuk dan cuaca yang kurang baik.

"Dalam persoalan ini masyarakat juga sangat membutuhkan penyuluh pertanian yang bisa membantu para petani mengolah lahan secara baik dan benar sesuai dengan iklim setempat. Begitu juga pengawas pendistribusian pupuk bersubsidi, agar pupuk bersubsidi tidak terjadi kelangkaan serta sampai di tangan petani tepat waktu," ujar putra mantan Bupati Dairi MP Tumanggor tersebut.

Diakui Franc, masyarakat di Desa Singgabur mayoritas petani masih mengolah lahannya secara manual atau tradisional, sehingga perlu "diutus" tenaga penyuluh pertanian secara modern, guna membantu para petani mengolah lahannya sesuai dengan iklim daerah itu.

Ditambahkan Franc, untuk memaksimalkan hasil pertanian masyarakat Desa Singgabur, dibutuhkan beberapa hal, termasuk ketersediaan pupuk, penyuluh pertanian, pembangunan irigasi untuk mendukung lahan persawahan, serta alat-alat pertanian secara modern dalam mengolah lahan yang begitu luas.

"Kita berharap kepada Dinas Ketahanan Pangan dan Holtikultura Sumut maupun Pakpak Bharat untuk memenuhi kebutuhan petani, agar mereka tidak lagi mengalami gagal panen serta bisa mengelola areal pertanian mereka secara modern," ujar Franc Bernhard Tumanggor.(M03/c).
SHARE:
komentar
beritaTerbaru