Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 15 April 2026

Pembangunan Fasilitas Objek Wisata Hutan Mangrove di Nisut Diduga Sarat Penyimpangan

Redaksi - Jumat, 28 Februari 2020 20:45 WIB
103 view
Pembangunan Fasilitas Objek Wisata Hutan Mangrove di Nisut Diduga Sarat Penyimpangan
news.okezone.com
Ilustrasi
Nias Utara (SIB)
Pembangunan fasilitas objek wisata hutan Mangrove di Desa Sisarahili Kecamatan Sawo, Nias Utara (Nisut) senilai Rp 2 miliar bersumber dari DAK TA 2019 diduga sarat penyimpangan. Pasalnya selain dikerjakan asal-asalan sejumlah item kegiatan belum rampung namun sudah dibayarkan 100%.

Seperti pantauan wartawan, Rabu (26/2) di lokasi, sebanyak tiga unit gajebo yang sebelumnya masuk dalam perencanaan, satu di antaranya belum rampung karena hanya pondasi dan tiang yang dibangun. Demikian juga MCK, selain pekerjaannya diterlantarkan kini bangunan tersebut sulit dimanfaatkan pengunjung karena hanya dinding dan cor tiang yang tanpa dilengkapi toilet.

Demikian tempat parkir senilai Rp 1 miliar disebut-sebut rawan penyimpangan. Seperti dituturkan salah seorang penggiat LSM, Iwan Harefa kepada SIB. Dikatakan, sebelum penimbunan, material batangan kayu, tidak diangkat pada saat pembersihan. Kedalaman pondasi juga tidak sesuai. Sementara bangunan pos jaga meski belum difungsikan namun nyaris tumbang diduga karena pekerjaan asal-asalan.

"Hutan mangrove ini kan salah satu objek wisata yang kini tengah dijejaki banyak pengunjung, jadi kalau cara kerja dinas terkait seperti ini, bukan hanya masyarakat yang dirugikan, tapi perkembangan sektor pariwisata Nisut otomatis akan mengalami kemunduran, kesalnya seraya menegaskan pihaknya segera melaporkan permasalahan ke pihak berwenang agar diusut.

Sementara Kadis Pariwisata Nisut, Bazisokhi Hulu ketika ditemui SIB di kantornya membantah adanya masalah. Dikatakan, dalam perencanaan sebelumnya memang gajebo ada tiga unit, namun karena kebutuhan lapangan terpaksa pekerjaan disesuaikan dengan ketersediaan dana. Demikian soal pos jaga. Menurut Bazisokhi, bisa saja bangunan itu miring karena faktor tanah yang labil atau bencana.

SIB yang mencoba meminta tanggapannya terkait rencana masyarakat melaporkan permasalah tersebut, Bazisokhi tidak menganjurkan saat ditanya. "Saya tidak menganjurkan, jadi jika hal itu terpaksa tentunya ada porsi masing-masing," katanya. (N04/q)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru