Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 31 Mei 2026

Jelang Imlek, Ratusan Warga Tionghoa di Yogya Berdoa Agar Pemilu Lancar

- Kamis, 30 Januari 2014 14:09 WIB
291 view
Jelang Imlek, Ratusan Warga Tionghoa di Yogya Berdoa Agar Pemilu Lancar
Yogyakarta (SIB)- Ratusan warga Tionghoa di Yogyakarta melakukan doa bersama menjelang tahun baru Imlek 2565 di Kelenteng Poncowinatan Yogyakarta, Rabu (29/1). Mereka berharap agar di tahun Kuda ini, Indonesia dijauhkan dari bencana dan pelaksanaan pemilu legislatif dan pemilihan presiden berjalan lancar.

Mereka datang ke Kelenteng Zhen Ling Gong yang berada di Jl Poncowinatan No 16, Jetis Kota Yogyakarta itu sejak pukul 10.00 WIB. Namun doa bersama baru dilakukan sekitar pukul 11.15 WIB. Sebelum doa bersama beberapa warga Tionghoa melakukan doa sendiri di altar utama maupun beberapa altar lainnya.

Doa bersama yang dipimpin oleh Aji Chandra dari Majelis Agama Konghucu Indonesia (MAKIN) didahului pemukulan lonceng dan bedug. Setelah itu, Aji Chandra langsung memimpin doa bersama.

Mereka berdoa agar masyarakat Indonesia dijauhkan dari berbagai bencana alam seperti banjir dan tanah longsor seperti yang terjadi di beberapa waktu lalu di beberapa daerah di Indonesia. Selain itu, mereka juga berdoa krisis moral seperti kasus korupsi yang belum berhenti segera berhenti.

"Segala yang tidak baik atau ingkar dari kesucian agar tidak terjadi pada tahun baru 2565. Tanggal 4 April nanti juga ada pemilu. Kita berdoa agar pelaksanaan pemilu legislatif dan pilpres berjalan lancar dan aman. Bangsa Indonesia bisa memilih presiden yang dapat membawa ke arah kemajuan," kata Aji Chandra.

Menurut dia, tahun 2565 adalah tahun kuda. Kuda sebagai hewan yang memiliki kekuatan karena tubuhnya yang kuat. "Tahun ini adalah tahun kuda. Kuda ada simbol kekuatan yang berarti kuda kuat memanggul beban. Kita berharap ke depan ada pemimpin yang kuat membawa beban bangsa kita ke arah yang lebih baik," katanya.

Sementara itu pengurus Yayasan Bhakti Loka yang mengurusi Kelenteng Poncowinatan, Gutama Fanthoni menyatakan salah satu hal menarik dalam acara doa bersama adalah adanya dua buah tumpeng. Nasi tumpeng lengkap dalam tradisi Cina tidak ada, namun ada di setiap acara di kelenteng Poncowinatan.

"Ini menandakan adanya akulturasi budaya antara Cina dan Jawa. Kita yang sudah lama hidup dan tinggal Yogyakarta sudah menyatu dengan masyarakat lainnya. Ini juga simbol kebersamaan kita," kata Fanthoni.

Menurut dia, acara doa bersama ini juga dihadiri semua warga Tionghoa di Yogyakarta yang tidak hanya beragama Konghucu saja. Namun juga yang beragama lain. "Kita di sini dari berbagai agama yang mereka anut berkumpul setiap menjelang tahun baru imlek. Biasanya berkumpul di kelenteng," pungkas Fanthoni.(detikcom/d)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru