Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 23 September 2026

Petani Palas, Paluta dan Tapsel Menjerit, Pupuk Langka dan Irigasi Rusak

Firdaus Peranginangin - Rabu, 03 Juni 2026 07:45 WIB
1.488 view
Petani Palas, Paluta dan Tapsel Menjerit, Pupuk Langka dan Irigasi Rusak
Foto harianSIB.com/Firdaus
Anggota DPRD Sumut Dapil VII Palas, Paluta dan Tapsel, Muniruddin Ritonga SHI, menyampaikan hasil reses terkait kelangkaan pupuk bersubsidi dan kerusakan jaringan irigasi yang dikeluhkan petani di tiga kabupaten.

Padang Lawas(harianSIB.com)

Ribuan petani di Kabupaten Padang Lawas (Palas), Padang Lawas Utara (Paluta) dan Tapanuli Selatan (Tapsel) menghadapi tekanan berat akibat kelangkaan pupuk bersubsidi dan rusaknya jaringan irigasi di sejumlah sentra pertanian. Kondisi tersebut dinilai mengancam produktivitas pertanian serta kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada sektor pertanian dan perkebunan.

Hal itu disampaikan Anggota DPRD Sumatera Utara Daerah Pemilihan (Dapil) VII Palas, Paluta dan Tapsel, Muniruddin Ritonga SHI, kepada wartawan di sela rapat paripurna DPRD Sumut dengan agenda penyampaian hasil reses, Selasa (2/6/2026).

"Akibat terjadinya kelangkaan pupuk tersebut, petani terpaksa membeli pupuk non-subsidi dengan harga mahal, sementara sebagian lahan persawahan terancam tidak produktif karena kekurangan pasokan air akibat irigasi rusak," ujar Muniruddin.

Menurut politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu, keluhan terkait sulitnya memperoleh pupuk bersubsidi hampir ditemukan di setiap titik reses yang dikunjunginya. Petani mengaku pupuk kerap tidak tersedia saat awal masa tanam, bahkan jika tersedia sering datang terlambat sehingga tidak dapat dimanfaatkan secara optimal.

Baca Juga:
"Keluhan ini hampir kami dengar di setiap titik reses. Petani mengaku pupuk subsidi sulit diperoleh. Kalaupun tersedia, sering datang terlambat sehingga tidak bisa dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan produktivitas tanaman," katanya.

Selain persoalan pupuk, Muniruddin juga menyoroti kerusakan jaringan irigasi yang menyebabkan pasokan air ke lahan pertanian terganggu, terutama saat musim kemarau. Kondisi tersebut membuat sebagian petani mengurangi luas tanam bahkan mengalihkan lahan persawahan menjadi perkebunan karena kesulitan mendapatkan sumber air.

"Para petani di Palas, Paluta dan Tapsel sangat memprihatinkan. Padahal daerah itu memiliki potensi besar sebagai kawasan pertanian. Namun jika persoalan irigasi terus dibiarkan, produksi pangan bisa menurun dan kesejahteraan petani ikut terdampak," ujarnya.

Muniruddin menegaskan seluruh aspirasi yang diperoleh selama masa reses akan diperjuangkan di tingkat provinsi melalui pembahasan bersama pemerintah daerah dan instansi terkait.

Ia juga meminta Pemerintah Provinsi Sumatera Utara melalui Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura serta instansi terkait segera melakukan pemetaan terhadap wilayah yang mengalami kerusakan irigasi dan kendala distribusi pupuk.

Menurutnya, langkah cepat dan terukur sangat diperlukan agar persoalan yang terus berulang setiap musim tanam dapat segera diatasi.

"Kita ingin petani mendapatkan pupuk tepat waktu, tepat jumlah, dan tepat sasaran. Begitu juga dengan irigasi yang harus segera diperbaiki agar produksi pertanian dapat meningkat dan ketahanan pangan daerah tetap terjaga," tegasnya.

Muniruddin menambahkan, petani merupakan ujung tombak perekonomian masyarakat pedesaan sekaligus penopang ketahanan pangan nasional. Karena itu, keberpihakan terhadap sektor pertanian harus diwujudkan melalui kebijakan yang nyata dan berkelanjutan. (**)

Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
F-PDIP DPRD Sergai Minta Pemkab Upayakan Penambahan Pupuk Bersubsidi
KPK Terima Pengembalian Rp8 Miliar dari Suap Anggota DPRD Sumut
Anggota DPRD Sumut Muhri Fauzi Hafis Minta Drainase Jalan Sukarno-Hatta Binjai Timur Diperbaiki
4 Tersangka Suap Anggota DPRD Sumut Menyusul Segera Disidang
Bocah Pengidap HIV Terancam Diusir, Pemprov Sumut Kirim Tim ke Samosir
KPK Perpanjang Penahanan 2 Tersangka Kasus Suap DPRD Sumut
komentar
beritaTerbaru