Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 29 Juli 2026

Aek Sibundong Doloksanggul Memprihatinkan Dijadikan Tempat Pembuangan Sampah dan Bangkai Binatang

- Sabtu, 08 Maret 2014 11:11 WIB
3.956 view
Aek Sibundong Doloksanggul Memprihatinkan Dijadikan Tempat Pembuangan Sampah dan Bangkai Binatang
SIB/Frans Simanjuntak
MEMPRIHATINKAN : Aek Sibundong sangat memprihatinkan karena sudah dipenuhi tumpukan sampah dan ditutupi semak belukar. Foto dipetik, Jumat (7/3).
Humbahas (SIB)- Kondisi  Aek Sibundong di Kecamatan Doloksanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) beberapa tahun terakhir ini sangat memprihatinkan. Selain sudah menyerupai parit busuk, kini sungai yang terkenal dengan lagu “Aek Sibundong Nauli” itu kayaknya hanya tinggal kenangan semata.

Hal itu disampaikan oleh tokoh masyarakat sekaligus pemerhati pembangunan di Kabupaten Humbahas, Erikson Simbolon kepada SIB di Doloksanggul, Jumat (7/3/2014).

Erikson mengatakan, sungai yang dulunya digunakan warga sebagai sumber air untuk pengairan persawahan, bahkan untuk mandi dan mencuci baju, kini telah berobah fungsi menjadi “tong sampah raksasa” masyarakat.

Masyarakat terkesan tidak memperdulikan kebersihan lingkungan dan dengan sembarangan membuang sampah ke sungai itu. Tidak hanya itu, masyarakat Kota Doloksanggul dan sekitarnya juga sering membuang bangkai ternak atau binatang yang mati serta sampah-sampah busuk.

“Kini lagu Aek Sibundong Nauli sudah tinggal kenangan. Pemerintah terkesan tutup mata. Begitu juga sebaliknya, masyarakat juga terkesan kurang memiliki kesadaran untuk menjaga, menata dan membersihkan sungai tersebut. Diharapkan kesadaran masyarakat dan perhatian pemerintah agar Aek Sibundong indah, bersih dan tertata. Mari sama-sama mencintai Aek Sibundong sebagaimana kita mencintai Kabupaten Humbahas ini,”harap Erikson.

Hal yang sama juga disampaikan oleh pemerhati kebijakan publik Humbahas Baringin Lumban Gaol. Dia mengatakan, selain akibat ulah masyarakat yang tidak disiplin membuang sampah, pemerintah setempat juga tidak memiliki program penyelamatan sungai tersebut.  Padahal, sungai itu  merupakan sungai terpanjang yang mengalir dari Aek Nauli Kecamatan Pollung hingga ke kawasan laut di Tapanuli Tengah yang dulu merupakan tempat mengambil air bagi masyarakat di sepanjang sungai itu.

“Kalau saya tidak salah, dulunya sungai itu digunakan sebagai sarana transportasi air untuk transaksi kayu pada era 60 an. Namun itukan tinggal cerita, sebab tidak ada pembenahan untuk sungai tersebut. Kita lihat saja badan sungai sudah mengecil dan airnya juga dangkal penuh dengan lumpur,”terang Baringin.

Mantan aktifis mahasiswa di Medan tersebut menjelaskan, pada era tahun 90 an sungai tersebut masih sangat indah. Sebab masih banyak digunakan warga untuk mencuci dan mandi. Bahkan anak-anak pada masa itu masih diijinkan mandi di Aek Sibundong.

Menanggapi hal itu, Pemkab Humbahas melalui Kabag Humasnya Osborn Siahaan mengaku, untuk pengerukan  Aek Sibundong memang belum diprogramkan tahun ini. Sebab sesungguhnya kondisi sungai tersebut masih bisa dialiari air dan tidak mengancam masyarakat. Yang menjadi perhatian serius dari pihak Pemkab Humbahas saat ini adalah upaya penyelamatan Aek Sibundong dari sampah-sampah masyarakat perkotaan yang ada di Dolok Sanggul. Sebab Aek Sibundong merupakan muara atau tempat pertemuan sejumlah sungai-sungai kecil yang ada di Dolok Sanggul, termasuk drainase perkotaan. Sehingga jika masyarakat tidak membuang sampah sembarangan khususnya di drainase dari pemukiman warga maka Aek Sibundong tidak akan tercemar.(F5/c)


Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru