Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 05 April 2026
Untuk Kesinambungan Organisasi, Bosna Kota Medan MS Akan Periodisasi Kepengurusan

Punguan Marga di Kota Perlu Agar Identitas dan Budaya Terjaga

- Senin, 26 Januari 2015 20:28 WIB
2.018 view
Punguan Marga di Kota Perlu Agar Identitas dan Budaya Terjaga
SIB/ Horas Pasaribu
Ketua Umum Panitia Pesta Parolop-olopon Borsak Sirumonggur Lumbantoruan Dohot Boruna Kota Medan Drs Edward Sihombing bersama unsur panitia lainnya foto bersama usai pelantikan, Sabtu (24/1) di aula Gereja HKBP Sei Agul Medan.
Medan (SIB)-  Parsadaan Pomparan Borsak Sirumonggur Sihombing Lumbantoruan Dohot Boruna (Bosna) Kota Medan Sekitarnya akan mengadakan pesta parolop-olopon ulang tahun ke-55 sekaligus melakukan periodisasi kepengurusan. Untuk menyukseskan perhelatan yang  akan digelar Oktober, dilantik panitia pelaksana yang diketuai Drs Edward Sihombing, Sabtu (24/1) di aula Gereja HKBP Sei Agul Jalan Gereja, Medan Barat.

Pelantikan tersebut diawali dengan syukuran Tahun Baru 2015 yang diwarnai dengan ibadah ucapan syukur dipimpin Bvr Maklin br Sihombing dan khotbah oleh Pdt Petrus Sihombing MTh. Selanjutnya dilaksanakan pelantikan oleh Penasehat Bosna Kota Medan Pdt Belsingk Sihombing MTh MA, didampingi St Djalantar Sihombing, SH, Ketua Umum Bosna Kota Medan St Ir Karmel Lumbantoruan dan Sekum Wilmar Lumbantoruan SE  Ak.

Edward Sihombing mengatakan, periodisasi kepengurusan dilakukan untuk penyegaran dan kesinambungan kepengurusan organisasi agar terus berjalan sesuai amanah AD/RT serta terlaksananya periodisasi sesuai ketentuan.  Menurut dia, di tengah kehidupan kota yang sangat majemuk, modern dan mengglobal,  seperti Kota Medan banyak orang Batak mencari kembali  lingkungan seperti daerah asalnya. Untuk itu perlu adanya persekutuan marga, suku dan agama.

 Karena orang  Batak selalu rindu kembali ke kampung halaman atau keluarga besarnya, tempat paling aman bagi jiwanya. Punguan/kumpulan marga, kampung asal, keturunan dari satu kakek-nenek moyang,  dipandang paling efektif untuk pelepas rindu, termasuk Bosna Kota Medan sekitarnya.

“Sebab itu fungsi pertama punguan-punguan Batak adalah tempat bernostalgia atau reuni. Yang paling merindukan dan membutuhkannya tentu orang-orang yang pada masa kecil atau remajanya memang pernah bersama-sama di kampung. Dengan berjumpa kembali para kerabat dan sahabat masa kecil tentu hati kita merasa aman dan senang, walau hanya sejenak. Minimal dapat melupakan keras dan beratnya masalah kehidupan masa kini, apalagi jika memang di situ kita menemukan teman-teman yang bisa menjadi tempat curhat,” katanya.

Berhubungan dengan itu, disebut fungsi punguan-punguan ini adalah untuk memelihara identitas dan akar budaya. Tidak bisa dipungkiri di kota yang sangat besar dan majemuk serta modern seperti Jakarta orang bisa merasa kehilangan identitasnya. Dengan secara rutin mengunjungi-dikunjungi para saudara dan kerabatnya, bertutur kembali dalam bahasa ibu, menikmati makanan khas suku, melakukan kebiasaan-kebiasaan adat, maka orang-orang Batak kota ini merasa identitasnya  terpelihara, akar budaya agar tidak tumbang atau rubuh di tengah kehidupan modern ini.

“Fungsi lain dari punguan-punguan Batak ini tentu meneguhkan kebersamaan. Tantangan kehidupan modern sangat berat dan orang merasa tidak sanggup menghadapinya seorang diri. Kita benar-benar membutuhkan dukungan moral dan spiritual dari keluarga dan saudara. Pada akhirnya keluarga dan saudara inilah yang selalu tersedia bagi bagi marga-marga  saat kesulitan  membutuhkan orang lain hadir dalam pesta adat,” katanya. (A14/d)



SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru