Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 04 April 2026
Bakoorluh P2K Gelar Bintek Budidaya dan Agribisnis Jamur

Minat Terhadap Produk Olahan Jamur Tinggi di Pasaran

- Selasa, 27 September 2016 15:30 WIB
354 view
Minat Terhadap Produk Olahan Jamur Tinggi di Pasaran
SIB/Dok
Kepala Bakoorluh P2K Sumut Ir. Bonar Sirait, M.Si menyamatkan tanda kepesertaan secara simbolis kepada perwakilan peserta Bimbingan Teknis Budidaya dan Agribisnis Jamur Provinsi Sumut, Senin (26/9) dan acara ini berlangsung 26-29 September 2016 di Hotel G
Medan (SIB)- Tingginya minat pasar terhadap produk dan beragam olahan jamur membuat banyak pihak mulai menjalankan bisnis budidaya dan pengolahan aneka jenis jamur konsumsi, khususnya di Sumut. Apalagi proses perawatan yang mudah dan didukung kondisi iklim di Sumut yang sangat cocok untuk budidaya jamur tersebut. Hal ini juga menjadikan jamur ini menjadi salah satu primadona agribisnis yang banyak dikembangkan di berbagai tempat di Sumut.

Demikian disampaikan Kepala Badan Koordinasi Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (Bakoorluh P2K) Sumut Ir Bonar Sirait MSi di acara pembukaan Bimbingan Teknis (Bimtek) Budidaya dan Agribisnis Jamur Provinsi Sumut yang digelar Senin (26/9) dan  berlangsung hingga 29 September 2016 di Hotel Grand Jamee Medan. Acara diikuti para penyuluh dari sejumlah  kabupaten/kota di Sumut.

Dia mengatakan, jamur tiram merupakan jenis jamur yang telah banyak dibudidayakan. Jenis jamur tiram yang umumnya dibudidayakan di Indonesia yaitu, jamur tiram putih dan ini sangat mudah ditemui di pasar tradisional. Jenis ini bisa dikatakan sebagai penopang ekonomi keluarga petani sehari-hari, karena harganya yang  relatif murah, sehingga mudah dijual . "Diharapkan melalui pelatihan ini, para penyuluh dapat berperan memerbaiki manajemen budidaya jamur yang telah dilakukan petani. Hal ini dilakukan dengan menyampaikan informasi mengenai pola penanaman yang benar kepada petani," kata Sirait.

Selain itu, kata dia, 1.657 orang yang terdaftar sebagai tenaga honorer penyuluh pertanian yang masuk kategori Tenaga Harian Lepas dan Tenaga Bantu (THL-TB) di Sumut berpeluang menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja.

Dikatakan Bonar Sirait,  dari jumlah tersebut sebanyak 519 orang berusia di bawah 35 tahun dan akan mengikuti tes CPNS. Sedangkan selebihnya, yang berusia di atas 35 tahun sebanyak 1.138 orang juga akan diangkat sebagai pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (ASN P3K).

"Kalau yang di bawah 35 tahun ikut tes CPNS pada 3 sampai  6 Oktober 2016. Sedangkan yang ASN P3K pengangkatan menunggu Peraturan Pemerintah (PP) dari UU ASN,"ujarnya.

Dia menjelaskan, proses pengangkatan honorer Penyuluh Pertanian menjadi CPNS mengacu kepada UU Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, dan UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN).

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, jumlah tenaga Penyuluh Pertanian yang berstatus PNS hanya 30% dari jumlah petugas Penyuluh Pertanian yang telah bekerja pada bagian desa binaan. Sisanya telah diisi petugas penyuluh yang berasal dari THL-TB. Sedangkan  Tenaga Harian Lepas dan Tenaga Bantu (THL-TB) yang berusia diatas 35 tahun pemerintah melalui Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB) dalam waktu dekat akan mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) tentang Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K).(A12/c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru