Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 05 April 2026
Wakil Ketua DRD Sumut Tohar Suhartono

Ada 9 Kendala Investasi Listrik di Sumut

- Kamis, 29 September 2016 11:20 WIB
260 view
Ada 9 Kendala Investasi Listrik di Sumut
Medan (SIB) -Daerah Sumut dinilai sudah saatnya membentuk tim Rencana Umum Energi Daerah (RUED) seperti yang telah terlaksana di sejumlah daerah provinsi lainnya, baik untuk mengatasi krisis listrik dengan solusi cepat dan juga untuk menjaring atau mengundang para calon investor bidang energi listrik.

Wakil Ketua Dewan Riset Daerah (DRD) Provinsi Sumatera Utara, Ir Tohar Suhartono MT, menyatakan minat dan arus investasi di bidang energi untuk pembangunan atau proyek pembangkit listrik di Sumut hingga kini terus terkendala akibat sejumlah masalah krusial yang belum teratasi dalam upaya perwujudan komitmen kemudahan dan percepatan proses izin bagi investor, khususnya pada sembilan masalah krusial yang masih terjadi selama ini.

"Pemerintah Propinsi Sumut harusnya sudah membentuk tim RUED untuk mengatasi berbagai permasalahan sektor energi primer di daerah ini yang meliputi listrik, gas, bahan bakar minyak (BBM) dan sebagainya. Selama ini, setidaknya ada sembilan kendala yang mengakibatkan para investor enggan masuk ke Sumut untuk investasi maupun investasi di bidang energi. Untuk ini, Sumut perlu dan harus segera membentuk tim rencana umum energi daerah (RUED) seperti yang sudah terlaksana di sejumlah provinsi lain di Indonesia. RUED ini juga perpanjangan tangan dari tim rencana umum energi nasional (RUEN)," papar Tohar Suhartono kepada pers di Medan, Rabu (28/9).

Dia mengutarakan hal itu dalam temu diskusi (coffee morning) tentang Program 'Sumut Mandiri Energi' yang meliputi kemandirian energi di bidang listrik dan gas di daerah ini, di Hotel Santika Medan. Diskusi yang dihadiri kalangan pemerhati listrik itu juga terkait dengan kondisi listrik yang belakangan ini kembali sering padam hingga belasan jam terutama pada malam hingga dini hari, yang di sebut-sebut akibat faktor cuaca.

Hadir antara lain Ketua Gabungan Pengusaha Konstruksi Indonesia (Gapkindo) Ir Mandalasah Turnip SH, praktisi jasa konstruksi listrik Edward Pangaribuan dari HIPSINDO Sumut dan pengurus Asosiasi Profesional Elektrikal-Mekanikal Indonesia.

Selain untuk pengkajian akan kondisi dan permasalahan energi primer, Tohar secara khusus menjelaskan RUED juga merupakan forum pengkajian pengembangan melalui upaya investasi, distribusi maupun ekspansi usaha energi agar energi jangan lagi diposisikan sebagai barang dagangan, melainkan sebagai 'modal bangsa'

Tohar menegaskan, ke-9 masalah krusial yang menjadi kendala utama bagi kalangan investor bidang energi di Sumut selama ini adalah: (1). Teknologi yang minim pada tingkat Sumut, khususnya bidang konstruksi kelistrikan (PLTA, PLTU, PLTG dan PLTMH), (2). Proses perizinan yang sulit dan rumit dalam kebijakan otonomi daerah. (3). Dampak atau aspek sosial yang serba rawan. (4). Nilai tukar mata uang (fklutuasi kurs rupiah-dolar) yang serba labil. (5). Nilai atau harga beli PLN yang belum wajar. (6). Situasi geopolitik nasional dan internasional. (7). Konsesi kepentingan antar pihak yang konspiratif. (8). Biaya penyaluran energi listrik yang tak merata. (9). Atensi dan dukungan lembaga keuangan (IMF atau IFC) yang minim, termasuk lembaga-lembaga pembiayaan domestik (di Indonesia).

Oleh karenanya, ujar Tohar, Sumut sebaiknya segera membentuk Tim RUED, untuk memastikan dan menjamin para calon investor asing maupun lokal agar berani dan gencar berinvestasi di bidang energi untuk membangun aneka sumber pembangkit listrik.

"Dengan RUED ini bisa dikaji dan dijajaki kerja sama monitor pembangunan sumber energi lainnya: BBM, gas, listrik yang sedang dan akan dibangun secara kerja sama (KSO) antar BUMN seperti Pertamina-Pertagas, Pertamina-PLN, dan lainnya. Kendati masalah listrik ini memang merupakan masalah nasional, tapi di sejumlah daerah mulai dan telah teratasi dengan RUED ini. Kalau daerah lain bisa, tentu Sumut juga pasti bisa, bahkan lebih bisa, dan lebih paten," katanya. (A04/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru