Medan (SIB)- Musyawarah Nasional (Munas) II Forum Komunikasi dan Sinerji (FKS) Pomparan Si Raja Panggabean Indonesia menghasilkan sejumlah rekomendasi, di antaranya menyangkut eksternal, soal bahasa dan budaya Batak yang harus segera diselamatkan dari kepunahan serta menyerukan kepada seluruh marga untuk melestarikan budaya "martumba" dan "marturi-turian".
Demikian disampaikan Panitia Munas II FKS Pomparan Si Raja Penggabean Indonesia Prof Dr Himpun Panggabean MHum didampingi Drs John Heart Panggabean, Ir Parlinggoman Panggabean, Reinhard Panggabean, Amir Simorangkir, Dra Odorlin Boru Sihite MSi, Ny John Heart Boru Tampubolon MPd, Nancy Panggabean SE, Tiolina Panggabean SH, Panogari Panggabean SH MSi, Dra Tina Boru Panggabean, W Marpaung, Reynold Panggabean, Ny Parlinggoman Boru Hutahaean, Talenta Marbun SE MSi, Lidang Panggabean, Ny Arnold/dr Diana Boru Tobing melalui rilisnya yang diterima wartawan, Kamis (10/8) di Medan.
"Marga Panggabean merasa ikut bertanggung jawab melestarikan bahasa dan budaya lokal, termasuk bahasa dan budaya Batak yang kini terancam punah. Sehubungan dengan itu, Punguan Panggabean mengimbau agar pemerintah berperan maksimal dan aktif membina dan mengembangkan bahasa dan budaya Batak sesuai dengan amanah UU No 249/2009 Pasal 42;1," katanya.
Panggabean juga mengimbau marga-marga untuk menggunakan Bahasa Batak sesering mungkin di rumah, melibatkan generasi muda untuk aktif dalam kegiatan dan komunitas berbahasa Batak serta mempertahankan kebaktian-kebaktian berbahasa Batak di gereja-gereja berbasis Batak dan menggunakan Bahasa Batak di internet dan menulis buku berbahasa Batak," papar Himpun.
Disebutkan, mengenai unsur-unsur budaya, diserukan kepada seluruh marga-marga untuk mempraktekkan tradisi budaya seperti martumba dan marturi-turian. Perlu ditekankan bahwa apabila Bahasa Batak punah, maka Adat Batak akan punah dan marga juga akan punah.
Menurut Himpun, adapun sejumlah rekomendasi yang dihasilkan dalam Munas, di antaranya rekomendasi eksternal, yakni Forum Komunikasi Sinerji Panggabean mendukung pembangunan kawasan Danau Toba menjadi destinasi wisata dunia. Berkaitan dengan itu, masyarakat di kawasan itu harus melakukan akulturasi dengan budaya wisatawan, melalui keramahan, kesantunan dan kenyamanan. Masyarakat juga perlu mempersiapkan diri dengan keterampilan dan pengetahuan tentang kepariwisataan secara profesional.
Selain itu, katanya, penduduk lokal juga harus mempunyai porsi kepemilikan atas mesin-mesin ekonomi yang lahir dari sektor kepariwisataan. Atas dasar itu, dibutuhkan peraturan perundang-undangan yang menjamin porsi kepemilikan tersebut.
Sementara rekomendasi internal, katanya, menyerukan kepada seluruh punguan Panggabean, "tampakna do tajomna, rim ni tahi do gogona", adalah merupakan falsafah dan nafas pengurus Punguan Panggabean yang harus ditanamkan sejak usia dini. Falsafah ini harus terpatri secara mental dan emosional, sehingga koneksi kekeluargaan tetap dipraktekkan secara kongkrit.
Selain itu, ujar Himpun, Forum Komunikasi Sinerji Panggabean mempunyai komitmen untuk membuka akses kepada semua anak usia sekolah mulai dari SD sampai SMA, untuk menikmati pendidikan yang merupakan hak dasar manusia. Punguan Panggabean juga berkomitmen untuk memfasilitasi semua tamatan SMA melanjutkan studi ke perguruan tinggi melalui pemberian beasiswa, melalui pemberian informasi, motivasi dan pelatihan persiapan memperoleh beasiswa yang diproyeksikan.
Punguan juga menargetkan 20 orang/tahun Marga Panggabean melanjutkan studi ke jenjang magister dan doktor, sehingga dalam waktu 10 tahun akan lahir 200 Panggabean bergelar master dan doktor yang sebagian diharapkan menjadi profesor. Forum Komunikasi Sinerji Panggabean dalam menciptakan kesejahteraan ekonomi anggotanya, berkomitmen untuk memaksimalkan peranan Koperasi Tri Gabe Jaya. Untuk mencapai tujuan ini, ditetapkan visi, bahwa tahun 2020, sedikitnya 50 persen Marga Panggabean akan menjadi anggota Koperasi Tri Gabe Jaya.
Pada kesempatan itu, John Heart Panggabean mengatakan, dalam Munas juga dibahas rencana penerbitan "Buku Tarombo si Raja Panggabean Edisi II", melanjutkan sebuah karya besar Buku Tarombo Si Raja Panggabean, yang terbit pertama kali tahun 1960, memuat seluruh pomparan Si Raja Panggabean yang lahir s/d tahun 1960.
"Dalam edisi kedua akan tertera nama seluruh Marga Panggabean dari generasi pertama sampai generasi ke-20 yang sudah ada sekarang," kata John Heart dan Tahan Panggabean sembari menambahkan setiap Marga Panggabean wajib memiliki buku ini, karena dari situ akan tahu partuturon, paradaton, dan tahu posisi nomor berapa.
Bandara Silangit dan Investor
Lebih lanjut Tahan Panggabean menambahkan, Munas juga membahas menyangkut Bandara Silangit yang akan diresmikan menjadi bandara internasional, diharapkan dilanjutkan dengan penabalan nama Bandara Sisingamangaraja XII sebagai bukti kecintaan terhadap pengorbanan Pahlawan Sisingamangaraja XII.
"Bukan hanya penabalan nama, tapi perlu pembangunan tempat-tempat bersejarah, misalnya Bakkara, Tombak Sulu-sulu, dan termasuk makam Sisingamangaraja XII yang sepertinya tidak begitu terawat dengan baik," katanya.
Demikian juga Salib Kasih sebagai tujuan wisata rohani, kata Wakil Ketua DPD Partai Demokrat Sumut itu, perlu dibenahi pemerintah, karena nilai tempat itu sebagai bagian dari sejarah penginjilan ke Tanah Batak, perlu diwariskan kepada generasi mendatang. "Lalu judi, narkoba dan penyakit sosial lainnya harus ditiadakan dengan langkah-langkah konkrit dan positif, sehingga tidak berdampak buruk terhadap pembangunan di Tapanuli," tegasnya.
Di akhir keterangannya, Tahan menyampaikan, Munas yang dibuka di Tugu Monumen si Raja Panggabean di Tarutung dengan pemberian 20 ribu benih ikan nila, 2.000 bibit kopi dan andaliman serta 400 bibit durian kepada masyarakat ini telah berlangsung sukses.
Yang membuat acara Munas lebih semarak, katanya, kegiatan dilanjutkan di Danau Toba Cottage Parapat selama dua hari, dengan agenda laporan pertanggungjawaban pengurus lama, penyusunan program dan pemilihan pengurus baru serta hadirnya sejumlah tokoh Panggabean, di antaranya Tumpak Hatorangan Panggabean, Sahala Panggabean MBA, Ny DR GM Panggabean, Dr Ing Hotma Panggabean, Dr Sabar Panggabean.
"Rangkaian Munas yang menghasilkan sejumlah rekomendasi internal dan eksternal ini ditutup dengan ibadah oleh Pdt Pantas Panggabean SSi dan Pdt Harry Panggabean STh," katanya. (A03/rel/h)