Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 22 September 2026

Naiknya Harga Pertamax Tak Ngaruh Bagi Angkot di Deliserdang, Kalangan Elit di Sergai Terkejut

- Senin, 02 Juli 2018 11:24 WIB
330 view
Naiknya Harga Pertamax Tak Ngaruh Bagi Angkot di Deliserdang, Kalangan Elit di Sergai Terkejut
Lubukpakam (SIB) -Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis pertamax dari Rp 8.900 ke Rp 9.500 atau naik Rp 600 per 1 Juli 2018 tidak berdampak bagi masyarakat yang umumnya ekonomi menengah ke bawah apalagi sopir-sopir Angkot. Pasalnya jenis BBM Pertamax umumnya hanya dipergunakan masyarakat ekonomi atas atau elit pemilik kendaraan  atau mobil mewah.

"Kenaikan itu tidak berdampak bagi angkutan umum terutama kami-kami yang ada di Deliserdang. Sebab rata-rata angkutan hanya menggunakan BBM jenis premium yang lebih murah karena disubsidi pemerintah. Jika tidak ada premium, maka pertalite solusinya. Kalau Pertamax tidak pernah digunakan karena terlalu mahal, itu umumnya untuk mobil-mobil mewah, "ungkap sopir angkutan kota (Angkot), Bernad Pasaribu (45) ketika dimintai  wartawan komentarnya, Minggu (1/7) di Lubukpakam.

Disebutnya, dari segi efisiensi jika angkutan menggunakan BBM Pertamax tentu akan rugi. "Jadi tidak pernah angkutan umum gunakan Pertamax, yang menggunakan BBM itu paling -paling pemilik mobil mewah atau ekonominya sudah sangat mapan," papar Bernad.

Disimpulkannya, kenaikan Pertamax sebesar Rp 600 itu tidak berdampak bagi angkutan yang ada di Deliserdang. Ia juga meyakini, masyarakat ekonominya menengah ke bawah, tentu juga jarang membeli Pertamax untuk minyak mobilnya.

"Tidak masalah kenaikan itu bagi pengusaha dan masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Tetapi kalau Premium atau Pertalite yang naik, kita tidak dapat mengelak lagi tentu akan sangat berdampak bagi kelangsungan usaha atau kehidupan masyarakat," imbuh Bernad lagi.

Sementara itu, sejumlah warga dari kalangan elit di Kabupaten Serdangbedagai (Sergai) mengaku terkejut atas keputusan pemerintah yang menaikkan harga BBM Non Subsidi atau Bahan Bakar Khusus (BBK) yaitu Pertamax dan Pertamax Turbo  terhitung sejak 1 Juli 2018.

"Ini jelas kado kejutan dari pemerintah di awal Juli buat kita yang biasa menggunakan Pertamax. Padahal, jenis BBM Subsidi beberapa bulan lalu juga baru saja naik. Sekarang, BBM Non Subsidi juga naik," ungkap Ricki Sihombing salah seorang warga yang memiliki mobil kepada SIB, Minggu (1/7) di Seirampah Sergai.
Menurutnya, kenaikan harga itu bakal menimbulkan pro kontra khususnya masyarakat kelas menengah ke atas."Tadi saya beli Pertamax harga biasanya Rp 8.900 sekarang sudah Rp 9.500 per liter. Sedangkan untuk jenis lain setahu saya, seperti Pertamax Turbo sebelumnya Rp 10.100 kini naik menjadi Rp 10.700 per liter. Sah-sah saja menaikkan, namun, setidaknya disosialisasikan terlebih dahulu," tambahnya.

Sedangkan warga masyarakat kalangan bawah Pendi Nasution mengaku tidak terlalu ambil pusing terhadap kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM Non Subsidi secara mendadak itu."Kalau buat kami tidak begitu berpengaruh karena kita tak pernah menggunakan BBM jenis Pertamax itu. Bisa saja, kenaikan BBM Non Subsidi itu untuk penghematan anggaran bagi pembangunan di  Indonesia. Kan dapat membawa manfaat juga bagi masyarakat banyak," katanya.(C06/MRF/c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru