Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 17 April 2026

Bupati Sergai Buka Seminar Gizi Buruk dan Stunting pada Balita

Redaksi - Jumat, 24 Januari 2020 12:54 WIB
201 view
Bupati Sergai Buka Seminar Gizi Buruk dan Stunting pada Balita
floresa.co
Ilustrasi
Sergai (SIB)
Masalah gizi merupakan hal yang sangat kompleks dan penting untuk segera diatasi, terutama karena Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai permasalahan gizi paling lengkap. Komitmen pemerintah pusat dalam upaya perbaikan gizi ini telah dinyatakan melalui Perpres Nomor 42 Tahun 2013.

Hal itu disampaikan Bupati Serdangbedagai (Sergai), H Soekirman saat membuka seminar dan workshop gizi buruk dan stunting pada balita di Aula Sultan Serdang, Komplek Kantor Bupati di Seirampah, Kamis (23/1). Acara itu dihadiri Wakil Bupati Darma Wijaya, Sekdakab HM Faisal Hasrimy, Kadis Kesehatan Bulan Simanungkalit, para camat serta Kepala Puskesmas se-Sergai.
Sebagai bentuk komitmen yang tinggi dalam upaya men"zero"kan balita gizi buruk dan stunting di Sergai, maka upaya penurunan gizi buruk dan stunting ditetapkan sebagai program prioritas daerah yang dimasukkan dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD).
Soekirman lebih lanjut menyampaikan, berdasarkan hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi stunting di Indonesia berada di angka 30,8 persen. Angka ini menurun dari 37,2 persen pada Riskesdas tahun 2013. Menurut Riskesdas tahun 2018, di Sumut ditemukan 32,4 persen balita stunting dan di Sergai ditemukan 30 persen.

Sedangkan menurut data laporan bulanan gizi sampai bulan November 2019 dari 20 Puskesmas yang ada di Sergai, ditemukan balita dengan kasus 2T sebanyak 349 balita, balita gizi buruk sejumlah 65 balita, gizi kurang 231 balita, stunting 79 balita dan Bawah Garis Merah (BGM) sebanyak 154 balita. Target stunting tahun 2019 Sergai 27,8 persen sedangkan pencapaian sampai dengan November 2019 adalah 2,02 persen.

Menurutnya, masalah balita stunting yang ada di Sergai tidak dapat diselesaikan oleh bidang kesehatan saja, namun memerlukan intervensi yang terpadu mencakup intervensi gizi spesifik dan gizi sensitif.

Percepatan perbaikan gizi di Sergai lanjut Soekirman, merupakan upaya bersama pemerintah daerah dan masyarakat melalui penggalangan partisipasi pemangku kepentingan secara terencana dan terkoordinasi dengan prioritas 1000 hari pertama kehidupan (1.000 HPK), melalui penetapan strategi "Simanja bikin Gemas" (Sistem Informasi Manajemen Notifikasi Kinerja Gerakan Empati Masyarakat Sakit) dengan pendekatan keluarga, serta sistem informasi kartu ibu bersalin sehat (Sikarbu lihat).

"Kegiatan ini merupakan momentum penting dalam menggalang kepedulian dan meningkatkan komitmen dari berbagai pihak untuk bersama mengatasi permasalahan balita gizi buruk dan stunting yang ada di Sergai menuju kabupaten yang unggul, inovatif dan berkelanjutan," tegas Soekirman.

Sebelumnya Ketua panitia, Tatik Iswandari melaporkan kegiatan ini diikuti 165 peserta dari lintas sektor, lintas profesi dan organisasi kemasyarakatan dengan tujuan mewujudkan "zero" angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB), stunting dan gizi buruk di Kabupaten Sergai. (T06/f)

SHARE:
komentar
beritaTerbaru