Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 17 April 2026

Lomba Dayung Nasional Antar-Universitas Perlu Digelar Pesta Danau Toba 2020

Wakil Sekretaris Bawisda Sumut Maranti Tobing
Redaksi - Jumat, 24 Januari 2020 14:51 WIB
219 view
Lomba Dayung Nasional Antar-Universitas Perlu Digelar Pesta Danau Toba 2020
sport.tempo.co
Ilustrasi lomba dayung
Medan (`SIB)
Praktisi bisnis pariwisata di daerah ini menilai even atau acara Pesta Danau Toba (PDT) 2020 perlu membuat terobosan baru berupa paket lomba dayung nasional antar universitas dari PTS-PTN di Indonesia, dengan kriteria perahu modern maupun tradisional.

Wakil Sekretaris Badan Pariwisata Daerah (Bawisda) Sumut Maranti Tobing yang juga mantan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Samosir, mencetuskan sesi lomba dayung antar universitas ini bisa juga menjadi varian even di samping pelaksanaan lomba dayung perahu tradisional Batak, yang dikenal dengan Solu Bolon yang pernah populer dan aktif digelar dalam setiap even-even Pesta Danau Toba di Parapat dan Samosir beberapa tahun lalu.

"Aksi lomba dayung perahu tradisional Batak atau Solu Bolon itu sebenarnya tak bisa dihapus dari setiap even Pesta atau Festival Danau Toba. Selain karena menjadi simbol PDT selama ini, juga sebagai wujud pelestarian nilai budaya dan etos kerja warga tani-nelayan kawasan Danau Toba. Nilai etos dan sportivitas inilah yang perlu dikembangkan dengan menggelar lomba dayung tingkat nasional antar-universitas. Kelak, sesi ini akan merangsang minat para pedayung dari kalangan publik atau komunitas dan universitas dari mancanegara," katanya kepada SIB, Rabu malam (22/1).

Bersama rekannya Drs Chandra Godang Silalahi dari kalangan pengelola rumah wisata (home stay) di Samosir, dia mengutarakan hal itu ketika berbicara tentang atensi kalangan Pemda Sumut, baik tingkat provinsi maupun kabupaten, yang dinilai kurang inovasi dan tidak melibatkan para praktisi wisata seperti biro perjalanan wisata (travel), pemilik hotel dan restoran serta para pemandu wisata. Akibatnya, gelaran PDT dari tahun ke tahun monoton, tidak menarik, bahkan popularitasnya sangat menurun.

Mereka menilai, Sumut juga perlu menggagasi gelaran khusus berupa Pekan Budaya Batak yang diselenggarakan secara aktif rutin setiap tahunnya, baik dalam rangka penyemarakan Festival atau Pesta Danau Toba, maupun digelar secara khusus seperti Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) di Aceh, Pekan Budaya Bali di Aceh, dan even khusus semacamnya di Jambi, Sumbar, Jawa dan daerah provinsi lain termasuk kawasan Indonesia Timur.

"Selama ini, even-even PDT atau semacamnya hanya diramaikan aksi tarian atau tortor. Orang mulai bosan karena tak ada kelanjutan aksi setelah tarian. Padahal, banyak makna pasca-tarian yang diimplementasikan dengan atraksi kreatif sebagai gerakan pelestarian nilai-nilai budaya dan nilai kearifan lokal (local wisdom) Batak yang dipadu melalui even rutin. Inilah yang harus didukung pemerintah, masyarakat dari lintas kalangan dan profesi, serta para dunia usaha," paparnya otimis.

Sumut sudah saatnya juga menggelar even kreatif yang melibatkan mayoritas masyarakat lokal. Misalnya, kompetisi maupun ajang kreasi kerajinan tenun (ulos), aksi ukir (gorga), sendratari tradisional (opera), olah raga khas Batak, lagu-lagu Batak kuno, lomba fotografi dan sejarah Batak, parade aneka cerita rakyat atau dongeng Batak, dan lainnya.

Maranti Tobing yang juga mengelola Hotel Toledo Inn di Samosir juga ungkapkan, berbagai menu makanan berupa penganan atau kue-kue Batak dan minuman sehat bisa ditampilkan sebagai produk yang halal dan higienis. Misalnya produk kuliner seperti kue ombus-ombus, itak gurgur, dolung-dolung, lampet, nira manis, ikan dengke arsik (Na Niarsik), ikan ala sushi (Na Niura), 'tahu' susu kerbau (dali horbo), kacang garing Sihobuk, martabak andaiman, dan sebagainya.

"Semua produk hasta karya (kerajinan tangan) dan produk makanan-minuman ini, selain akan menjadi menu publik yang halal di pasar-pasar kuliner umum atau di pusat-pusat jajanan wisata, juga akan menjadi produk oleh-oleh bagi para turis (Wisman-Wisnu) yang kembali ke negeri atau daerahnya setelah datang ke daerah ini, baik ketika menyaksikan Pesta Danau Toba dengan aksi lomba dayung antar kampus itu, atau kunjungan lainnya," ujar Maranti sembari menambahkan lomba dayung antar-kampus itu juga akan menjadi peluang ekonomi dalam permbuatan perahu-perahu lokal. (M04/c)

SHARE:
komentar
beritaTerbaru