Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 28 Juli 2026

PDIP Kota Medan Ajak Generasi Muda Rawat Demokrasi dalam Refleksi Kudatuli

Leo Bastari Bukit - Selasa, 28 Juli 2026 19:07 WIB
50 view
PDIP Kota Medan Ajak Generasi Muda Rawat Demokrasi dalam Refleksi Kudatuli
Foto Dok/PDIP Medan
SEMINAR: DPC PDI Perjuangan Kota Medan menggelar rangkaian kegiatan untuk memperingati Peristiwa Kerusuhan 27 Juli 1996 atau Kudatuli melalui seminar nasional bagi generasi muda dan malam renungan yang diikuti kader partai, Senin (27/7/2026).

Medan(harianSIB.com)

DPC PDI Perjuangan Kota Medan menggelar rangkaian kegiatan untuk memperingati Peristiwa Kerusuhan 27 Juli 1996 atau Kudatuli melalui seminar nasional bagi generasi muda dan malam renungan yang diikuti kader partai, Senin (27/7/2026).

Rangkaian peringatan diawali dengan seminar nasional bertajuk "Refleksi Kudatuli: Meretas Jalan Demokrasi, Spirit Kudatuli untuk Generasi Muda" yang diikuti lebih dari 200 mahasiswa dan perwakilan organisasi kepemudaan.

Seminar dimoderatori Dr Hj Fitriani Manurung MPd dan Dr Rosdiana Tarigan dengan menghadirkan narasumber Prof Dr Taufik Siregar SH MHum dari Universitas Medan Area (UMA), Prof Dr Anang Anas Azhar dari Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), serta keynote speaker Masinton Pasaribu SH MH.

Turut hadir Koordinator Acara Paul Mei Anton Simanjuntak, Sekretaris DPC Boydo HK Panjaitan, Bendahara Ust Fuad Akbar MSos, beserta jajaran pengurus DPC PDI Perjuangan Kota Medan.

Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Medan Hasyim SE mengatakan peristiwa Kudatuli merupakan tonggak penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia sekaligus simbol perlawanan terhadap tindakan represif pada masa Orde Baru.

Menurutnya, sejarah kelam yang pernah dialami partai menjadi pelajaran berharga sekaligus memperkuat militansi kader untuk terus berpihak kepada rakyat.

"Kudatuli adalah pengingat bahwa demokrasi lahir melalui perjuangan panjang. Karena itu, generasi muda tidak boleh apatis terhadap politik dan harus ikut menjaga demokrasi agar tidak dikuasai kepentingan elit maupun praktik politik transaksional," ujar Hasyim.

Ia mengajak mahasiswa menjadikan semangat Kudatuli sebagai kompas moral untuk aktif turun ke tengah masyarakat, memahami persoalan yang dihadapi rakyat, serta menghadirkan solusi nyata terhadap berbagai persoalan sosial dan ekonomi.

Hasyim berharap semangat kritis di kalangan generasi muda dapat diwujudkan dalam aksi nyata untuk mengawal dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Usai seminar, peringatan Kudatuli dilanjutkan pada malam hari melalui kegiatan malam renungan dan pemutaran film dokumenter yang mengangkat tragedi penyerangan Kantor DPP PDI Perjuangan pada 27 Juli 1996.

Kegiatan yang berlangsung khidmat itu diikuti kader dan pengurus partai mulai dari tingkat DPC, PAC, Ranting hingga Anak Ranting.

Dalam sambutannya, Hasyim menegaskan bahwa peristiwa 27 Juli 1996 menjadi catatan sejarah tentang upaya membungkam suara rakyat. Namun, menurutnya, penyerangan tersebut tidak mampu memadamkan semangat perjuangan maupun ideologi partai.

Ia juga mengingatkan agar pemutaran film dokumenter tidak hanya dipandang sebagai upaya mengenang peristiwa masa lalu, tetapi menjadi pengingat bahwa PDI Perjuangan lahir dan tumbuh melalui perjuangan yang penuh pengorbanan.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan komitmen seluruh kader untuk terus memperkuat soliditas organisasi, hadir di tengah masyarakat, serta memastikan perjuangan partai tetap berpihak kepada wong cilik di Kota Medan. (*)

Editor
: Wilfred Manullang
SHARE:
Tags
beritaTerkait
komentar
beritaTerbaru