Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 23 Oktober 2026

SULE-WM Lampaui Target Pengelolaan Sampah Plastik, Arta Jaya Bidik 10.000 Ton pada 2030

Donna Hutagalung - Jumat, 23 Oktober 2026 09:22 WIB
267 view
SULE-WM Lampaui Target Pengelolaan Sampah Plastik, Arta Jaya Bidik 10.000 Ton pada 2030
Foto: harianSIB.com/Dok
Exhibition Day “Partnership to Impact: Ketika Kolaborasi Tidak Berhenti di Atas Kertas”, di Restoran Bumbu Nusantara, Jalan Gatot Subroto Medan, Kamis (22/10/2026).

Medan(harianSIB.com)

Kolaborasi lintas sektor dalam pengelolaan sampah mulai menunjukkan hasil nyata melalui peningkatan volume sampah plastik yang berhasil dikelola, penguatan kapasitas pelaku usaha, hingga perluasan jaringan kemitraan.

Melalui Program Scaling Up Local Enterprise on Waste Management (SULE-WM), pelaku usaha pengelolaan sampah didorong untuk berkembang secara profesional dan membangun bisnis yang berkelanjutan.

Dalam pelaksanaannya di Sumatera Utara (Sumut), program tersebut mencatat capaian pengelolaan sekitar 4.000 ton sampah plastik, melampaui target awal sebanyak 3.000 ton. Capaian ini menjadi salah satu hasil yang dipaparkan dalam kegiatan Exhibition Day bertajuk "Partnership to Impact: Ketika Kolaborasi Tidak Berhenti di Atas Kertas", di Restoran Bumbu Nusantara, Jalan Gatot Subroto No. 143, Medan, Kamis (22/10/2026).

Kegiatan ini menjadi ruang berbagi pembelajaran dari implementasi SULE-WM sekaligus mempertemukan pemerintah, akademisi, dunia usaha dan pelaku pengelolaan sampah untuk membahas peluang kerja sama yang dapat diwujudkan secara konkret.

Baca Juga:

Dalam pemaparannya, Qinthar Aghnia Audiawarman yang mewakili Ecoxyztem menjelaskan, SULE-WM dirancang untuk memperkuat kapasitas pelaku usaha pengolahan sampah melalui asesmen kebutuhan, pelatihan, pendampingan, serta pengembangan model bisnis.

Ecoxyztem bertindak sebagai pelaksana program yang mengimplementasikan rancangan awal dari GIZ Jerman dan PT Unilever Indonesia agar pelaksanaannya sesuai dengan sasaran serta kebutuhan penerima manfaat.

Qinthar menjelaskan, rangkaian program dimulai pada Februari 2024. Sebelum pelaksanaan, tim melakukan asesmen dengan mewawancarai calon penerima manfaat. Hasilnya kemudian dibahas bersama tim kurikulum untuk menentukan bentuk pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan setiap pelaku usaha.

Setelah diluncurkan pada Februari 2024, program memasuki tahap akselerasi melalui pelatihan untuk membekali penerima manfaat dengan pengetahuan dan keterampilan dalam mengembangkan bisnis pengolahan sampah.

Selanjutnya, pada Juli 2025 hingga Juni 2026, penerima manfaat memasuki tahap pengembangan atau scale-up bisnis. Pada fase ini, mereka, termasuk Warama, memperoleh dukungan pendanaan untuk menjalankan berbagai kegiatan pengembangan usaha.

Salah satu indikator keberhasilan program adalah jumlah sampah plastik yang berhasil dikumpulkan dan dikelola oleh para penerima manfaat.

Baca Juga:

Qinthar menyebutkan, target pengelolaan sampah plastik ditetapkan sebanyak 3.000 ton. Selama 13 bulan pelaksanaan tahap pengembangan bisnis, para penerima manfaat memanfaatkan dukungan program untuk memperluas aktivitas usaha sekaligus meningkatkan volume sampah plastik yang dikelola.

Hasilnya, capaian yang dilaporkan mencapai sekitar 4.000 ton. Warama menjadi salah satu penerima manfaat yang turut berkontribusi terhadap pencapaian tersebut.

"Target ketercapaian pengelolaan sampah itu 3.000 ton plastik. Selama 13 bulan, para penerima manfaat bekerja keras memanfaatkan dukungan yang didapatkan dari program untuk mengembangkan usaha sekaligus mengumpulkan sampah plastik. Totalnya kita mendapatkan sekitar 4.000 ton, sehingga ketercapaiannya mencapai 137 persen," ujarnya.

Capaian tersebut menjadi salah satu hasil penting dalam pelaksanaan program. Di tengah berbagai tantangan di lapangan, para pelaku usaha terus berupaya menjalankan kegiatan pengumpulan dan pengolahan sampah sekaligus memperkuat keberlangsungan bisnis mereka.

Selain meningkatkan volume sampah yang dikelola, SULE-WM juga memberikan perhatian pada penguatan kapasitas pelaku usaha dan pekerja di sektor informal. Pelatihan menjadi salah satu bentuk dukungan untuk meningkatkan pengetahuan serta keterampilan pihak-pihak yang terlibat dalam rantai pengelolaan sampah.

Program ini turut mendorong penguatan hubungan bisnis antara perusahaan pengelola sampah atau waste management enterprise (WAE) dengan berbagai mitra, termasuk kontraktor dan pelanggan.

Baca Juga:

Menurut Qinthar, kesepakatan bisnis yang saling menguntungkan merupakan salah satu faktor penting untuk menjaga keberlanjutan usaha pengolahan sampah. Hubungan kemitraan yang kuat diharapkan dapat membantu pelaku usaha membangun rantai pasok dan pasar yang lebih stabil.

"Melalui rangkaian asesmen, pelatihan, pendampingan, dukungan pengembangan bisnis, dan penguatan jejaring, Program SULE-WM diharapkan mampu membantu usaha pengolahan sampah lokal tumbuh secara mandiri," katanya.

Kolaborasi Lintas Sektor untuk Memperkuat Pengelolaan Sampah

SULE-WM merupakan program akselerasi bagi perusahaan dan entitas bisnis pengelolaan sampah terpilih dari lima wilayah di Indonesia, yakni Sumatera Utara, DKI Jakarta, Yogyakarta, Surabaya dan Bali.

Program ini merupakan hasil kolaborasi Yayasan Unilever Indonesia, Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) Indonesia, Ecoxyztem, dan Greeneration Foundation.

Melalui program tersebut, pelaku usaha pengelolaan sampah lokal didorong memperkuat kapasitas bisnis dengan pendampingan para ahli serta penerapan model usaha yang dapat dikembangkan untuk menjawab kebutuhan industri pengelolaan sampah di Indonesia.

Secara keseluruhan, program ini dilaporkan telah berkontribusi terhadap pengumpulan lebih dari 3.000 ton sampah plastik dan menghasilkan penghematan emisi sebesar 5.070 ton CO₂ ekuivalen.

Baca Juga:

Head of Sustainable Environment, Unilever Indonesia Foundation, Maya Tamimi, mengatakan, kebijakan pemerintah dalam pengelolaan sampah membutuhkan dukungan dan partisipasi aktif berbagai pihak, mulai dari hulu hingga hilir.

Karena itu, keterlibatan pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan komunitas sangat penting untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

"Melalui Exhibition Day, para pemangku kepentingan didorong untuk mengidentifikasi peluang kerja sama yang realistis, baik dalam peningkatan layanan, pemanfaatan pengetahuan dan teknologi, penguatan jaringan antarpelaku, maupun perluasan akses pasar," katanya.

Ia berharap, kemitraan yang terbentuk tidak hanya berlangsung selama program berjalan, tetapi juga berlanjut melalui langkah konkret yang jelas dan sesuai dengan kapasitas masing-masing pihak.

Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada gerakan sukarela atau proyek jangka pendek, tetapi dapat berkembang menjadi kegiatan usaha berkelanjutan yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga lingkungan.

Di Sumatera Utara, Perkumpulan Arta Jaya turut berperan dalam mendorong penguatan usaha pengelolaan sampah lokal melalui pendampingan, pengembangan model bisnis, dan perluasan jaringan kemitraan.

Organisasi yang telah hadir sejak 2015 ini terus berupaya mengembangkan perannya dalam pengelolaan sampah di Sumut. Melalui SULE-WM, Arta Jaya memperoleh pembelajaran untuk meningkatkan profesionalisme usaha, mulai dari pengelolaan sumber daya manusia, manajemen, keuangan, hingga strategi membangun kemitraan dan melakukan negosiasi bisnis.

Baca Juga:

Direktur Perkumpulan Arta Jaya, Armawati Chaniago, mengatakan, pendampingan dalam program tersebut tidak hanya berfokus pada dukungan modal, tetapi juga membangun kemampuan pelaku usaha agar dapat menjalankan bisnis secara profesional.

"Jadi, bukan hanya membantu dari sisi modal. Bagaimana pekerjanya dibangun, manajemennya, keuangannya, kemudian bagaimana bermitra dan melakukan negosiasi bisnis. Semua itu benar-benar diajarkan dan didampingi," ujar Armawati.

Menurutnya, pembelajaran yang diperoleh melalui program tersebut tidak hanya relevan bagi sektor persampahan, tetapi juga dapat diterapkan pada berbagai jenis usaha lainnya.

Bagi pelaku usaha lokal, program ini menjadi kesempatan untuk mempelajari pola pengembangan bisnis yang lebih terarah, terutama dalam memperkuat manajemen dan memperluas peluang kemitraan.

Berbekal pengalaman tersebut, Arta Jaya menetapkan target menjadi salah satu perusahaan sosial terdepan di Sumatera Utara yang bergerak dalam pengelolaan sampah secara profesional pada 2030.

Target itu mencakup pengelolaan 10.000 ton sampah agar tidak berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA), pembukaan lebih dari 100 lapangan kerja di sektor persampahan, serta peningkatan keuntungan perusahaan hingga tiga kali lipat dibandingkan kondisi saat ini.

Baca Juga:

"Kami ingin menjadi solusi dalam pengolahan sampah. Visi kami, pada 2030 menjadi salah satu perusahaan sosial terdepan di Sumatera Utara yang mengelola sampah secara profesional," ujar Armawati.

Ia menegaskan, target tersebut bukan sekadar mimpi, melainkan cita-cita bisnis yang ingin diwujudkan melalui penguatan kapasitas usaha dan strategi pengembangan yang terarah.

Menurutnya, SULE-WM memberikan pembelajaran mengenai tahapan pengembangan bisnis secara menyeluruh, mulai dari memperkuat fondasi usaha hingga menyusun strategi untuk memperbesar skala bisnis atau scale-up.

"Target kami pada 2030, sebanyak 10.000 ton sampah bisa terserap dan dikelola, membuka lebih dari 100 lapangan kerja, serta keuntungan perusahaan bisa tiga kali lipat dari sekarang. Ini bukan sekadar mimpi, karena melalui program ini kami belajar bagaimana mengembangkan bisnis dari A sampai Z," katanya.

Armawati berharap, pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama mengikuti program dapat menjadi landasan bagi Arta Jaya untuk memperluas dampak pengelolaan sampah, menciptakan peluang kerja, serta membangun model usaha sosial yang berkelanjutan di Sumatera Utara.

Melalui penguatan kapasitas usaha dan kemitraan lintas sektor, pengelolaan sampah diharapkan tidak hanya mampu mengurangi beban lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi dan lapangan kerja bagi masyarakat. Dengan demikian, kolaborasi yang terbangun dapat terus memberikan dampak nyata, bahkan setelah program berakhir.(*)

Baca Juga:

Editor
: Donna Hutagalung
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Gereja Pentakosta Sumatera Utara/Pinksterkerk Usul Hapus Pembahasan Sekolah Minggu di UU
Sultan Deli Berharap Presiden Jokowi Sukses Pada Pilpres 2019
Pemko Medan Susun Rencana Strategis Pengelolaan Sampah Rumah Tangga
Sekdaprovsu: Sumatera Utara Memiliki Potensi Menjadi Pengekspor Pangan
Susi Pudjiastuti Minta Pemda Bikin Perda Sampah Plastik
Kadis LH Deliserdang Ajak Kendalikan Sampah Plastik
komentar
beritaTerbaru