Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 06 September 2026

Jangan Mengeluh

- Sabtu, 11 Januari 2014 11:17 WIB
1.190 view
Jangan Mengeluh
Oleh : Mina Wongso M.Psi


"Jika permasalahan dapat diselesaikan, maka tak ada yang perlu dikhawatirkan. Jika masalah tersebut tidak dapat diselesaikan, maka mengeluh sama sekali tidak membantu.
Mengeluh sama sekali tidak memberi manfaat apapun.
Dalai Lama

Jujur saja, hampir semua orang merasa kurang nyaman berada dekat dengan seorang pengeluh. Sang pengeluh akan mengeluh dan khawatir tentang semua hal, terlalu panas terlalu dingin, terlalu terang terlalu gelap. Bos baik dibilang tidak tegas, bos tegas dibilang kejam.  Ketika sibuk ia mengeluh capek, ketika senggang ia bilang bosan. Tidak ada hal baik di matanya, sehingga ada teman menganalogikan orang seperti ini, jika orang ini berada di surga sekalipun, ia pasti dapat menemukan hal-hal yang bisa dikeluhkan. Tak pernah ada rasa puas dalam hidupnya.  Akhirnya orang-orang merasa tidak enak, dan mulai menjauh darinya, karena bosan dan capek mendengarkan keluhan-keluhan yang tiada habisnya itu. 

Bahwa hidup itu tidak enak dan penuh masalah memang tidak bisa dibantah. Buddha sendiri dalam klausul pertama di Empat Kebenaran Mulia menyatakan bahwa hidup adalah penderitaan. Semua orang memang memiliki masalahnya, apapun status dirinya. Uang dan materi tidak mampu menghilangkan masalah, sebab kalau bisa tentu tidak ada orang kaya yang bunuh diri ataupun mengalami stres.

Tapi apakah kenyataan ini menjadikan suatu pembenaran untuk semua perkeluhan ini. Mengeluh sama sekali tidak dapat membantu manusia menyelesaikan permasalahan. Alih-alih selesai, justru dengan makin banyak mengeluh, orang makin mengasihani dirinya, betapa malangnya saya, betapa menderitanya saya, sehingga makin terpuruk dengan kesedihannya. Makin tidak ada semangat untuk bangkit kembali. 

Dalam hidup yang penuh masalah ini, manusia dapat memilih apakah ia mau mengeluh sambil menunggu semua permasalahan itu pergi berlalu, atau mau menyelesaikan masalah itu, atau mau berdamai dengan masalahnya. Meminjam kata - kata bijak Dalai Lama "Jika permasalahan dapat diselesaikan, maka tak ada yang perlu dikhawatirkan. Jika masalah tersebut tidak dapat diselesaikan, maka mengeluh sama sekali tidak membantu. Mengeluh sama sekali tidak memberi manfaat apapun."

Ada dua cara menyelesaikan masalah, pertama kita action  langsung menyelesaikan permasalahan tersebut dan yang kedua adalah mengubah pola pikir kita sendiri tentang peristiwa tersebut.  Jadi ketika berjumpa masalah, kita lihat dulu apakah masalah tersebut  mampu diselesaikan. Jika ya, maka fokuskan semua energi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. misalnya jika keluhannya adalah kekurangan uang walaupun sudah bekerja keras, maka energi difokuskan untuk mencari kerja sambilan  yang dapat memberikan tambahan pemasukan, atau justru menambah keahlian sehingga tenaga kita dihargai lebih mahal.

Ada masalah yang tidak memiliki jalan keluar, misalnya orang yang kita cintai meninggal dunia, maka pahamilah bahwa orang tersebut tidak akan mungkin bangkit lagi dari kematiannya, sebesar apapun usaha ataupun keluhan kita. Justru kita sendiri yang harus  mengubah pola pikir kita sehingga tidak lagi terpuruk dalam kesedihan. Pertama memahami bahwa hakikat hidup adalah tidak kekal, kedua di dunia ini tidak ada orang yang belum pernah mengalami kehilangan seperti itu, dan bahwa bagi orang yang kita cintai meninggal adalah laksana melanjutkan perjalanan, yang mudah-mudahan menuju ke hidup yang lebih baik.

Buddha bersabda melalui Sutta tentang Penyu Buta tentang betapa sulitnya terlahir sebagai manusia. Sulitnya terlahir di alam manusia lebih sulit dibayangkan, dibandingkan dengan sulitnya kemungkinan seekor penyu buta yang muncul ke permukaan laut hanya 100 tahun sekali dan ketika muncul ke permukaan kepalanya masuk ke dalam gelang-gelang yang terapung di permukaan lautan. Hal ini disebabkan jumlah manusia yang bermiliar di dunia ini ternyata sangat tidak sebanding dengan jumlah mahluk bukan manusia. Yang dianalogikan Buddha dalam Sutta seujung kaki dengan perumpamaan sebagai berikut : makhluk yang terlahir di alam manusia lebih sedikit seperti debu yang ada di ujung kakiku dan begitu banyak makhluk yang terlahir di alam bukan manusia sama seperti debu yang ada begitu banyak di dunia ini.

Saat terlahir sebagai manusia merupakan berkah yang sangat besar, sebab alam manusia yang diliputi suka dan duka dalam kadar yang seimbang ini merupakan tempat paling sesuai bagi mahluk untuk berlatih diri dan berbuat kebaikan. Syukurilah, dan merasa puas dengan hidup saat ini. Rasa puas mendatangkan kebahagiaan besar bagi manusia. Banyak hal yang dapat kita syukuri dalam hidup ini. Jika orang  mengeluh karena pekerjaan tidak memuaskan, tahukah anda bahwa di Negara kita tercinta ini pengangguran di usia produktif mencapai angka 60%? Ternyata ia masih  beruntung dapat menjadi jumlah kecil orang yang memiliki pekerjaan. Bagaimana jika ternyata dia dipecat, ini adalah langkah pertama untuknya memulai usaha. Banyak orang sukses yang ketika diwawancarai menyatakan bahwa jika ia dulu tidak diberhentikan dari pekerjaannya, pasti sampai sekarang ia masih menjadi pegawai.

Bersyukur dan merasa puas telah diteliti secara ilmiah dan ternyata memang mendorong timbulnya energi positif bagi diri individu. Dalam status twitter seorang seniman muda Indonesia ia berkata bahwa ia bersyukur karena setiap menghadapi fitnah dan cobaan, maka ia akan diganjar dengan rezeki yang besar. Ada masalah ada peristiwa, yang dialami oleh setiap manusia, dan manusia juga dapat memilih bagaimana menanggapinya. Berkeluh kesah yang makin memperberat masalah, atau mencari hal positif dan bersyukur dengan hal itu. Pilihan di tangan kita. (r)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru