Tak seberapa harumnya bunga melati dan kayu cendana, jauh lebih harum mereka yang memiliki sila(kebajikan), nama harum mereka tersebar di antara para dewa di alam surga.
Jika- ada pertanyaan, siapa orang terkaya di Medan? Mungkin salah satu jawaban kita sebutlah "Martua Sitorus" pengusaha kelapa sawit asal Medan. Bukan itu maksudnya, karena kita akan kembali di tahun 1920an, ke era penjajahan Belanda di bumi nusantara. Pada masa itu, hiduplah seorang pengusaha keturunan Tionghoa yang dikenal dengan "Tjong A Fie". Hingga kini, masih banyak yang mengenangnya sebagai seorang terkaya di Medan yang sangat dermawan.
Bahkan pengusaha yang memiliki Bank Kesawan, membangun rel kereta api di China dan menguasai sejumlah perkebunan di Sumatera ini masih menyempatkan diri melakukan kebajikan saat menghembuskan napas terakhirnya. Dengan tekad yang kuat, Tjong A Fie mewasiatkan seluruh harta warisannya di Sumatera maupun di luar Sumatera kepada Yayasan Toen Moek Tong yang harus didirikan di Medan dan Sungkow pada saat ia meninggal dunia. Dalam permintaannya, disampaikan agar yayasan tersebut memberikan bantuan keuangan kepada pemuda berbakat dan berkelakuan baik dan ingin menyelesaikan pendidikannya, tanpa membedakan kebangsaan. Tjong A Fie juga berpesan agar yayasan membantu mereka yang tidak mampu bekerja dengan baik karena cacat serta membantu para korban bencana alam tanpa memandang kebangsaan atau etnis. Karena kedermawanannya, nama Tjong A Fie masih harum dan dikenang hingga saat ini bahkan rumahnya menjadi objek yang sayang terlewatkan bagi wisatawan yang ke Kota Medan.
Memiliki nama harum itu tidaklah dengan sendirinya datang sendiri, tidak turun dari langit, tidak keluar dari mulut Brahma bukan pula dewa/ dewi yang memberikan nama itu. Tapi nama itu harus dibuat dan diciptakan dengan cara yang baik dan benar. Tanpa pengorbanan mustahil dapat nama harum, pengorbanan itulah yang mengharumkan nama.
Di dalam ajaran Sang Buddha pun, praktek berdana memiliki tempat dan pengertian khusus, yaitu sebagai fondasi dan benih perkembangan spiritual. Dipandang sebagai sifat kedermawanan, berdana memiliki hubungan yang amat dekat dengan jejak Jalan Sang Buddha. Tujuan Sang Jalan adalah hancurnya keserakahan, kebencian dan kegelapan batin, sedangkan pengembangan kedermawanan secara langsung akan melemahkan keserakahan dan kebencian, serta membantu keuletan pikiran yang memungkinkan hapusnya kegelapan batin. Dengan demikian secara tidak langsung, dengan kedermawanan seseorang menjadi tidak gelap bathin sehingga memperlancar bisnis dan usahanya sebagai hasil karma baiknya. Hal inilah yang menuntun keberhasilan demi keberhasilan Tjong A Fie. Segenap usahanya melalui kebijaksanaan yang murni dan usaha yang dimilikinya menjadi terlindungi karena nama harum yang dimilikinya menjadikan masyarakat ikut merasa perlu turut menjaga hartanya secara tidak langsung.
Seperti halnya semua perbuatan baik, berdana akan memberikan kebahagiaan pada kita di masa depan, sesuai dengan Hukum Karma tentang sebab-akibat yang diajarkan oleh Sang Buddha. Berdana menghasilkan manfaat di dalam kehidupan sekarang dan dalam kehidupan-kehidupan yang akan datang, tak peduli apakah kita sadar akan kenyataan ini atau tidak. Tetapi jika niat itu dibarengi dengan pemahaman, kita dapat dengan pesat meningkatkan jasa kebajikan yang diperoleh lewat pemberian kita.
Sang Buddha mengatakan bahwa praktek berdana akan membantu usaha kita untuk memurnikan pikiran. Pemberian yang dermawan, dengan niat baik, akan membantu menghapus penderitaan dengan tiga cara. Pertama, bila kita memutuskan memberikan milik kita pada orang lain, sekaligus kita mengurangi kemelekatan kita pada objek itu. Maka, membiasakan perbuatan berdana akan melemahkan faktor mental keserakahan, yang merupakan salah satu penyebab utama ketidakbahagiaan. Kedua, berdana dengan niat baik akan membuat kita terlahir di alam bahagia di masa mendatang, di lingkungan yang cocok untuk bisa bertemu Buddha Dhamma murni dan mempraktekkannya. Ketiga yang paling penting, bila berdana dipraktekkan dengan niat untuk pencapaian Nibbana, maka tindakan kedermawanan itu membantu kita mengembangkan moralitas, konsentrasi, dan kebijaksanaan (sila, samadhi, pañña) langsung di kehidupan ini yang membawakan kita pada padamnya penderitaan.
Kita dapat belajar dari Tjong A Fie, dengan kedermawanannya, harta yang dimilikinya tidak semakin berkurang. Justru melalui kedermawanannya, Tjong A Fie semakin mengembangkan konsentrasi dan kebijaksanaannya yang secara tidak langsung memperlancar keputusan keputusan bisnisnya. Bahkan tidak hanya mendapat berkat dengan kelancaran usaha, karma baik juga menuntun jasanya dikenang sepanjang masa terutama dalam usaha mengembangkan kota Medan dengan menyumbangkan menara lonceng untuk Gedung Balai Kota Medan yang lama, turut membantu pembangunan Istana Maimoon, Gereja Uskup Agung Sugiopranoto, Kuil Buddha di Brayan, kuil Hindu untuk warga India, Jembatan Kebajikan di Jalan Zainul Arifin serta dikenal pula sebagai pelopor industri perkebunan dan transportasi kereta api pertama di Sumatera Utara, yakni Kereta Api Deli (DSM), yang menghubungkan kota Medan dengan pelabuhan Belawan.
(r)