Dalam kegiatan maupun aktivitas sehari-hari yang kita lakukan tentu tanpa disadari akan selalu mempunyai suatu kaitan atau hubungan yang disebut Kamma atau Karma. Dalam kalangan Buddhis maupun secara umumnya, sebutan kata-kata Karma tentu sudah tidak asing lagi di telinga. Namun dalam realitanya sebagian masih banyak yang mensalahartikan pengertian Karma yang sesungguhnya. Kata-kata Karma selalu dihubungkan dan dikaitkan terhadap hal-hal yang buruk, akan hal-hal yang tidak baik. Padahal dalam literatur Buddhisme Karma sendiri tidak hanya selalu berhubungan pada hal-hal yang buruk atau pada tindakan-tindakan buruk saja, melainkan hal-hal yang baik juga dapat dikatakan sebagai karma. Selain itu, sebagian besar juga beranggapan dan mengidentikkan bahwa karmalah sesungguhnya yang menyebabkan segala sesuatu terjadi pada kehidupan, keadaan yang tidak bahagia, menderita, tidak beruntung, dll dipersepsikan penyebab semuanya adalah karma.
Jika ditinjau dari kaca mata Dhamma, penyebab segala sesuatu yang tidak menyenangkan pada kehidupan kita bukanlah semata-mata hanya karena karma, melainkan masih banyak faktor-faktor lain yang memunculkan hal itu terjadi. Sesuai uraian Buddha di dalam kitab Nibbedhika Sutta; Anguttara Nikaya yang disebut karma yaitu "Kehendak atau Niat yang melandasi suatu perbuatan, setelah berkehendak ia melakukan melalui pikiran (mano), ucapan (vaca) dan perbuatan jasmani (kaya). Ketiga hal itulah yang disebut karma".
Sehingga pengertian karma tidak hanya melalui beberapa faktor saja melainkan memiliki faktor-faktor lain yang mendukung dan memiliki pengaruh yang sama. Dari pikiran juga dapat menimbulkan karma baik maupun karma buruk, dari ucapan juga dapat menimbulkan karma baik dan buruk, dan dari perbuatan jasmani juga akan menimbulkan karma baik dan buruk. Dalam pembagiannya karma dapat ditinjau melalui waktunya (karma yang langsung dapat berbuah, karma yang berbuah lama dalam masa kehidupan, karma yang berbuah pada kehidupan berikutnya, dan karma yang tidak dapat berbuah yang disebabkan oleh kondisi atau ahosi karma), Fungsinya (karma yang berfungsi menyebabkan kelahiran, karma yang berfungsi untuk mendukung, karma yang berfungsi untuk mengurangi dan karma yang berfungsi untuk memotong), Bobotnya (bobot dari karma itu sendiri/ banyak atau sedikit).
Sang Buddha selalu menegaskan, agar senantiasa memiliki kewaspadaan dan kesadaran terhadap apa yang akan dilakukan baik melalui pikiran, ucapan dan perbuatan jasmani. Menjaganya melalui penguatan dalam praktik Dana (kemurahan hati/ gemar memberi), Sila (pengendalian/ samvara akan moralitas) dan Bhavana (pengasahan kualitas perhatian demi menciptakan kesadaran yang luhur). Segala bentuk apapun yang terkondisikan dari 3 pintu (pikiran, ucapan, perbuatan jasmani) selalu memiliki karma baik maupun karma buruk. Untuk itulah dari kebenaran dhamma, hendaknya kita selalu menanamkan pengertian luhur demi mendapatkan kebijaksanaan.
Selanjutnya pilihan ada pada diri kita masing-masih, dua hal telah teruraikan dengan jelas. Kebahagiaan dan penderitaan semata-mata tidak ditentukan oleh karma melainkan dikarenakan adanya kehendak dari niat kita melakukan yang baik dan yang buruk. Maka dari itu seyogianyalah kita selalu berupaya dan berusaha, karena dimana ada upaya maka disana pasti ada jalan dan dimana ada usaha disana pula pasti akan ada kesempatan. Jalan dan kesempatan diri kita sendiri yang akan menentukannya, oleh karena itu tetaplah memberikan yang terbaik untuk kemajuan kualitas kehidupan kita.
"Sesuai dengan benih yang ditabur maka itulah buah yang akan dipetik, pelaku kebajikan akan menuai kebajikan, pelaku kejahatan akan menuai kejahatan (Samyutta Nikaya I:227). Di dunia ini ia bahagia, di dunia sana ia berbahagia; pelaku kebajikan berbahagia di kedua dunia itu. Ia akan berbahagia ketika berpikir, " Aku telah berbuat bajik", dan ia akan lebih berbahagia lagi ketika berada di alam bahagia (Dhammapada Yamaka Vagga I-18). Ingatlah selalu bahwa, berbuat baik untuk menimbun kebaikan tidak akan merugikan seseorang, sebab seperti apapun banyaknya harta materi yang dimiliki itu semua tidak akan bisa menjamin kehidupan seseorang lebih baik (Nidhikanda Sutta). Ia terlahir dikeluarga terhormat, sehat jasmani maupun rohani, tidak terlahir dalam keadaan cacat, ia memiliki paras yang elok dan menawan, ia memiliki materi berlimpah, ia merasakan ketenangan dan kebahagiaan. SemuaNya didapatkan melalui kemurahan hati dalam memberi (Catukka Nipata-Anguttara Nikaya).
"Bibit yang ditanam di tanah yang subur akan tumbuh menjadi tanaman yang berkualitas, yang akan menghasilkan buah yang berbobot. Tetapi jika Bibit tanaman ditanam di tanah yang tandus/ gersang maka hasil yang diperoleh pun akan sangat sedikit. Demikian juga dengan perbuatan kebajikan yang kita tanam, akan membuahkan berkah dan kebahagiaan baik kehidupan sekarang maupun nanti jika ditanam di tempat yang sesuai (Dpd. 356-359).
Semoga semuanya semakin maju di dalam Dhamma, semoga semua makhluk turut berbahagia. Saddhu…Sadhu…Sadhu…(r)