Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 06 September 2026

Revolusi Mental

* Oleh : Upa. Madyamiko Gunarko Hartoyo
- Sabtu, 08 Agustus 2015 17:20 WIB
1.488 view
Revolusi Mental
Revolusi mental menjadi satu semangat besar yang sedang dikobarkan di tengah masyarakat. Semangat  yang dipopulerkan  Presiden Joko Widodo saat kampanye pemilihan presiden ini menjadi bagian penting sejarah bangsa Indonesia. Revolusi mental mengambil peran penting dalam memberikan haluan arah mendasar bagaimana perubahaan mentalitas bangsa dalam upaya untuk meningkatkan kualitas hidup berbangsa. Perubahan mentalitas mendasar ini mencakup bagaimana cara berpikir, cara merasa dan cara mempercayai sesuatu hal yang mempengaruhi perilaku sehari hari dan menyangkut semua bidang kehidupan mulai dari ekonomi, politik, sains-teknologi, seni hingga agama.

Secara singkat, revolusi mental dapat disederhanakan dalam bentuk nilai disiplin moral dalam kehidupan sehari  hari. Disiplin moral ini mencakup bagaimana tumbuhnya sikap mental senang disiplin, membiasakan diri hidup berdisiplin dan mempunyai mental disiplin. Pada dasarnya, individu yang sudah terbiasa hidup disiplin akan selalu siap untuk membangun kedisiplinan nasional serta bermuara pada peningkatan kualitas bangsa. Disiplin moral inilah yang akan menjadi dasar tegaknya disiplin nasional dalam berbagai sendi kehidupan bagi suatu bangsa karena masyarakat yang moralnya bobrok, jiwanya lemah  dan mentalnya rusak tidak akan dapat ikut menegakkan suatu disiplin nasional untuk pembangunan bangsa seutuhnya.

Disiplin moral adalah dasar ajaran Buddha Dhamma, dan diyakini disiplin moral ini juga merupakan ajaran semua agama. Kunci keberhasilan disiplin moral hanya mempunyai satu pilihan yakni keinginan melatih dan melakukannya. Tidak ada orang lain, sekalipun dewa, yang mampu membentuk seseorang memiliki  disiplin moral dalam dirinya. Setiap orang dituntut untuk mendisiplinkan moral bagi dirinya sendiri atas daya upayanya sendiri. Lebih jauh, jika seseorang yang tidak mampu memiliki disiplin moral, maka dirinya tidak akan mempunyai landasan  berdisiplin dalam kehidupannya. Mental yang tidak dididik atau dilatih untuk disiplin terutama disiplin moral akan sangat sulit diajak hidup berdisiplin dalam berbagai bagian kehidupannya.

Dalam setiap lapisan masyarakat, disiplin moral ini tidak hanya diperlukan oleh diri seseorang, namun juga sangat diperlukan pengaruhnya untuk kehidupan orang lain. Dalam kehidupan ekonomi masyarakat kita yang masih serba kekurangan, disiplin moral akan menjaga seseorang tetap bersih dan berharga. Tanpa disiplin moral, seseorang yang hidupnya serba kekurangan akan sangat mudah untuk terpengaruh melakukan segala usaha untuk memenuhi kebutuhannya termasuk membenarkan kejahatannya dalam upaya menutup kekurangan yang dimilikinya itu dengan segera. Berawal dari hal tersebut, muncullah keinginan menipu, mencuri, berbohong, merampas, membunuh dan hal buruk lainnya. Tindakan inilah yang akan menghancurkan mentalnya sendiri dan juga akan merugikan orang lain. Hal inilah yang menunjukkan bagaimana pentingnya disiplin moral bagi mereka yang kehidupannya dirasakan masih kekurangan. 

Bagi yang berlimpah kekayaan, perlu memahami bahwa kekayaan mental yang tumbuh karena disiplin moral sungguh jauh lebih berharga dibandingkan kekayaan materi dan kedudukan seseorang. Namun hal ini bukanlah bermakna bahwa agama Buddha anti materi atau kebendaan. Pada dasarnya, Agama Buddha sama sekali tidak anti materi maupun anti kedudukan karena bila dipergunakan sesuai dengan Buddha Dhamma, materi dan kedudukan itu akan menjadi sumber kebaikan. Yang perlu dipahami adalah jangan dalam mengejar materi atau kedudukan, seseorang mengorbankan disiplin moral.

Disiplin moral dalam agama Buddha disebut juga dengan Sila. Untuk membentuk disiplin moral, seseorang memerlukan pengendalian diri (Samvara). Dan pengendalian diri memerlukan ketekunan dan kesabaran (Khanti) serta semangat dan keuletan (Viriya). Tanpa keuletan, tanpa ketekunan dan kesabaran; seseorang akan gagal mengendalikan dirinya sendiri.

Makna dasar disiplin moral (sila) adalah bagaimana  upaya kita untuk mengendalikan diri  dalam menjaga moral untuk tidak menyakiti dan tidak merugikan makhluk lain. Menjaga diri untuk tidak melakukan penipuan pembunuhan, pencurian, perzinahan, pembicaraan yang tidak benar, korupsi, boros dan menjaga diri untuk tidak bermabuk-mabukan; inilah disiplin moral yang akan selalu dihargai oleh siapapun juga. Seseorang yang mempunyai kecakapan intelektual memang akan dipuji; tetapi seseorang yang mempunyai disiplin moral akan dihargai.

Dalam Dhammapada 168, 56, Sang Buddha berpesan:
"Bangun! Jangan lengah! Tempuhlah kehidupan benar. Barang siapa menempuh kehidupan benar, maka ia akan hidup bahagia di dunia ini maupun di alam selanjutnya. Harumnya mereka yang mempunyai disiplin moral (sila) akan menyebar sampai ke dunia dewa". (r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru