Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 03 Juli 2026

Gerhana Sebagai Momentum Penguatan Aqidah

* Oleh Mukti Ali Harahap, M.Si & Drs. H. Waluyo
- Jumat, 25 Maret 2016 19:25 WIB
473 view
Gerhana matahari total yang telah melanda sebagian wilayah Indonesia pada hari Rabu, 9 Maret 2016 lalu telah menyita perhatian penduduk dunia untuk bisa menyaksikannya dengan ramai-ramai berkunjung ke berbagai daerah di Nusantara. Ada sebagian lagi melihatnya melalui layar kaca atau membaca beritanya dimedia massa, maupun media sosial lainnya. Peristiwa langka dan spektakuler tersebut juga tidak luput dari perhatian para ilmuan dalam rangka penelitian dan pengembangan sains dan teknologi.

Sementara bagi masyarakat kita ada yang menyambutnya dengan melaksanakan berbagai even seperti Festival Gerhana Matahari Total, membuat rekor kacamata melihat GMT secara bersamaan, melaksankan sholat kusyuf (gerhana) sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ketika gerhana terjadi. Bahkan beberapa hari sebelum peristiwa gerhana terjadi Menkominfo mellaui PT Pos dan Giro telah meluncurkan perangko bergambar tokoh pewayangan Batara Kala yang sedang menelan matahari. Luar biasanya dalam tempo singkat, seluruh perangko tersebut ludes dibeli masyarakat apakah untuk digunakan atau sekedar untuk dikoleksi.

Terlepas dari keinginan untuk memeriahkan datangnya gerhana dimaksud atau dalam rangka menarik minat pariwisata, namun tidak bisa dipungkiri bahwa momentum gerhana, pelaksanaan festival, pembuatan gambar, prangko dan sebagainya dapat dikaitkan dengan peristiwa mitos yang berlaku di masyarakat. Dan hal tersebut bisa menyentuh aspek aqidah umat Islam yang berdampak kepada terjadinya syirik atau mensekutukan Allah. Kejadian seperti ini bukanlah peristiwa baru, namun ketika gerhana terjadi di zaman rasulullah masyarakat Arab meyakininya ada hubungannya dengan mitos, takhayul, yang berdampak buruk sehingga timbul rasa takut bahkan berdampak pada kehidupan maupun kelangsungan alam semesta.

Sesungguhnya gerhana adalah suatu kejadian yang biasa, karena hal ini merupakan sunnatullah akibat dua makhluk ciptaan Allah yakni matahari dan bulan senantiasa beredar pada garis edarnya masing-masing sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Anbiya ; 33 " Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan, masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya". Akan tetapi bagi masyarakat awam yang lemah iman, tidak memiliki ilmu pengetahuan justru menganggapnya sebagai hal yang luar biasa dan dihubungkan dengan ramalan, mitos.

Ketika putra Rasulullah yang bernama Ibrahim wafat, pada saat yang bersamaan terjadi gerhana matahari. Maka penduduk Makkah waktu itu ada yang mengatakan bahwa gerhana tersebut terjadi karena wafatnya putra yang mulia Nabi Muhammad SAW. Mendengar pernyataan-pernyataan tersebut Rasulullah bersabda " Bahwa matahari dan bulan adalah tanda-tanda kekuasaan Allah, keduanya tidak akan gerhana karena kematian seseorang dan tidak pula karena hidupnya" HR Bukhari Muslim.

Di negeri kita, konon gerhana selalu dikaitkan dengan mitos yang menyatakan Buto Ijo sedang memakan matahari atau bulan. Karenanya, agar matahari atau bulan bisa bersinar lagi, maka sang Buto Ijo harus diusir dengan cara memukul benda apa saja yang bisa berbunyi berisik dan keras, sehingga Buto Ijo ketakutan dan matahari atau bulan terlepas dari Buto Ijo sehingga matahari atau bulan dapat bersinar kembali. Dalam bentuk yang lebih kongkrit, mitos tersebut mengambil wujud dalam kesenian wayang dengan tokoh Batara Kala yang juga menelan matahari. Wayang adalah kesenian pertunjukan yang ditonton oleh masyarakat sehingga dapat berpengaruh kepada fikiran, jiwa, bahkan keyakinan. Dengan demikian gerhana dapat difahami atau diyakini karena ulah makhluk lain sehingga melupakan kekuasaan Allah yang mengatur garis edar keduanya sehingga suatu saat bisa terjadi saling menutupi dan itulah yang disebut gerhana.

Terjadinya gerhana harus mengingatkan kita pada pencipta matahari dan bulan. Itulah yang dituntunkan oleh Rasulullah melalui haditsnya " Jika kalian melihat gerhana maka berdoalah kepada Allah, sholatlah dan bersedekahlah" HR. Bukhori. Perintah ini menghendaki kita untuk menjadikan peristiwa tersebut sebagai momentum menguatkan kembali aqidah, ibadah dan akhlak serta introfeksi diri akan rutinitas keseharian yang bisa saja berobah atau terhenti.

Dalam keseharian kita, dimana setiap pagi matahari selalu terbit lalu memancarkan sinarnya yang menjadikan dunia ini terang benderang, menjadikan hidup kita seperti hanya berada dalam rutinitas belaka mengarungi kesibukan pekerjaan, bersama keluarga, seolah tidak ada habisnya. Keadaan seperti ini terkadang melalaikan kita untuk melakukan kesalehan vertikal (hablum minllah) maupun kesalehan sosial (hablum minannas). Terkadang tidak ingat sholat, lupa bersilaturrahim, acuh dengan kaum dhuafa.

Ketika matahari terjadi kelainan dimana cahanya tertutup oleh bulan sehingga tidak sampai ke bumi, maka oleh Rasulullah mengingatkan kita bahwa matahari dan bulan adalah tanda-tanda kekuasaan Allah, oleh karenanya manusia jangan lupa untuk menyembah yang menciptakan kedua makhluk tersebut. Allah berfirman dalam QS. Fusilat ; 37 "Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah yang menciptakannya"

Orang yang melaksanakan sholat gerhana sesungguhnya merupakan implementasi aqidah yang masih bersemai dalam jiwa seorangĀ  muslim, dengan ikhlas melakukan rukuk dan sujud lebih lama dari sholat lain sebagai lambang penghambaan diri kepada Allah SWT sebagai pencipta semua makhluk.

Betapa indahnya shalat kusyuf yang dilakukan tanpa rasa sungkan, wajah dan kepala yang selalu dimuliakan disurukkan ke sajadah tidak ada bedanya telapak kaki, bahkan lebih rendah dari lubang pelepasan kotoran kita yang tidak pernah dilihat oleh orang lain sembari mengucapkan "maha suci Allah Yang Maha Tinggi". Lafaz tersebut sejatinya adalah ikrar bahwa manusia tidak berharga sama sekali di hadapan Allah SWT.

Dengan adanya gerhana tersebut sekali lagi adalah bukti betapa Maha Kuasanya Allah. Dengan demikian masihkah umat manusia mengingkari adanya Allah (atheis), atau melawan perintah-Nya, tidak taat kepada Allah, tidak mau dengan ketetapan-ketetapan Allah dan rasul-Nya? Apabila masih ada manusia yang berani ingkar kepada Allah, masih lemah aqidahnya, maka ia harus berhati-hati sebab Allah menggolongkannya kepada hamba yang tidak berterima kasih sebagaimana Firman Allah dalam QS Al Adiyat; 6 "Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterim kasih kepada Tuhannya".

Rasulullah dalam kesempatan gerhana selalu menyeru untuk banyak mengingat Allah, mendirikan sholat, bersedekah. Semuanya itu merupakan pembinanaan, peningkatan nilai-nilai aqidah Islamiyah, ibadah maupun akhlak yang baik bagi kehidupan manusia di dunia ini. Maka seruan tersebut hendaknya dapat dijadikan motivasi bagi diri kita untuk menjadi insan kamil, religius dihadapan Allah dan manusia.

Wujud nyata dari manusia religius tersebut ialah kemampuan melaksanakan apa yang diperintahkan Rasulullah dalam sholat gerhana agar mau mendirikan sholat wajib dan sunat, memakmurkan masjid. Berusaha semaksimal mungkin menjadi manusia yang menebar kebaikan kepada sesama, mengaktualisasikan sifat-sifat peduli terhadap sesama, kasih sayang sebagaimana Firman Allah dalam QS: At-Taubah; 128 " Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin". (Penulis adalah Sekretaris PC NU dan Ketua PD Muhammadiyah Kab. Deli Serdang/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru