Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 03 Juli 2026

Puasa dan At-Takastur

* Oleh : Islahuddin Panggabean, S.Pd
- Jumat, 10 Juni 2016 18:21 WIB
416 view
 Puasa dan At-Takastur
Salah satu ibadah spesial di bulan Ramadhan adalah sholat tarawih. Sholat tarawih hanya terdapat di bulan ini tidak dijumpai di bulan lain. Di mana kaum muslimin berkumpul secara berjamaah melaksanakan sholat sunnat yang berjumlah 8 ataupun 20 rakaat ini. Ditambah pula sholat witir. Terlepas dari perdebatan jumlah rakaat, seyogianya kaum muslimin sadari bahwa yang terpenting dari tarawih ialah tartil. Tenang, teratur. Apalagi jika ditambah pemaknaan dan tadabbur ayat-ayat yang dibaca oleh imam. 

Bagi sebagian masjid, pada raka'at pertama sholat tarawih surah yang dibaca ialah surah at-takasur. Surat at-Takatsur merupakan surat Makiyah. Kata "at-Takatsur" diambil dari ayat pertama yang mempunyai arti bermegah-megahan. Ia terdiri dari 8 ayat dan memiliki beberapa nama selain al-Takatsur yaitu : alhakum (telah melalaikanmu) atau al-Maqabir (tempat pemakaman). Surat ini menggambarkan tentang orang-orang yang suka berlomba-lomba untuk mengumpulkan harta. Mereka merasa bangga jika harta yang mereka punya melebihi yang lain. Kecintaan dan kebanggaan mereka terhadap harta membuat lupa kepada Allah dan lingkungan sekitarnya. Bahkan persaingan tersebut terus mereka lakukan sampai kematian menjemput (dikubur).

Hal ini terjadi karena mereka tidak pernah puas dengan apa yang telah didapatkan. Dahaga mereka baru terpuaskan jika telah mendapatkan harta dan kedudukan yang tinggi. Meskipun untuk mencapainya harus menghalalkan segala cara dan menafikan syariat agama. Demikianlah gambaran jika seseorang telah terpesona dengan kehidupan duniawi. Dengan kata yang lebih modern, at-takasur ialah surat yang menggambarkan manusia yang terus mengikuti hasrat-hasrat duniawinya, kehendak nafsu, bahkan melebihi keperluannya. Ia pun menjadi pribadi-pribadi tamak dan egois. 

Menarik jika kita mengaitkan surah at-Takasur dengan Ramadhan. Ramadhan sejatinya membentuk kita menjadi pribadi-pribadi yg mampu mengendalikan diri. Baik itu konsumsi makanan maupun dorongan-dorongan kehendak atau hasrat lain. Selain itu, puasa merupakan amal privat. Hanya Allah yang tahu dengan sebenar apakah kita puasa atau tidak. Tentunya itu adalah pelatihan Muroqabatullah. Serta meningkatkan rasa ber-Tuhan secara drastis. Sehingga harusnya puasa yang berkualitas akan membentuk manusia yang senantiasa berhubungan dengan Tuhan (taqwa) dalam seluruh aspek hidupnya.

Akmal Tarigan (2008) mengemukakan ada dua hal yang merupakan cara keberagamaan dalam bulan Ramadhan yang tidak produktif dan tidak akan membawa perubahan pada diri. Pertama, ibadah yang menekankan sisi formalitas (aspek fikih) ketimbang substansi (pesan moral). Akibatnya ritual puasa menjadi hampa tanpa makna. Imsak hanya dipahami sebagai menahan untuk tidak makan, minum dan seks. Padahal seharusnya puasa juga bermakna imsak dari kecenderungan hawa nafsu, subjektifisme, egoisme dan sifat penghancur kemanusiaan lain.

Ini bisa diukur dari kemampuan melakukan internalisasi nilai-nilai puasa dalam kehidupan. Semua pejabat muslim pasti berpuasa. Tetapi apakah setelah Ramadhan kelak tingkat korupsi menurun? Penindasan terhadap rakyat berakhir? Apakah politisi akan bertobat dari segala kesalahan terutama pada rakyatnya?

Kedua,  adanya kapitalisasi Ramadhan. Seluruh aspek dalam ramadhan dari berbuka sampai sahur berubah jadi uang. Lihatlah betapa banyaknya iklan di televisi yang terkadang iklannya tidak berhubungan dengan masalah puasa. Puasa bahkan seolah terus berhubungan dengan masalah perut, hura-hura ataupun hiburan meski dibungkus dengan istilah musik religius. Ringkasnya pola dan model keberagamaan yang terlalu menekankan emosi, ritual dan simbol. Bukan keberegamaan yang bersifat intelektual dengan penghayatan spiritual.

Melalui surah awal yang sering kita dengar tatkala tarawih, kita tahu kehendak manusia itu tidak terbatas. Al-hakumu at-takastur. Manusia berlomba untuk perbanyak harta benda, anak, jabatan, ini dan itu. Dan semua akan berhenti jika manusia telah masuk ke kubur. Dengan adanya Ramadhan harusnya kehendak-kehendak itu diseleraskan dengan tujuan puasa yakni membentuk pribadi takwa. Dengan kata lain, Harusnya segala keinginan diri diseleraskan dgn perintah dan keinginan Allah. Konsumsi haruslah sesuai dengan keperluan bukan lagi dgn hasrat. Serta segala kehendak harus dilandasi karena Allah bukan karena syahwat pribadi.

Begitujuga, dengan menjalankan Ramadhan dengan khidmat, seyogianya kita semakin yakin bahwa segala yang kita terima adalah rezeki yang telah dijamin oleh Allah. Sedang yang nanti dimintai pertanggungjawaban juga ialah rezeki dari Allah itu juga. Jadi, yang terpenting ialah menjadikan apa yang dianugerahkan Allah itu berfungsi sebagai sarana ibadah.

Suatu ketika, Rasul bersama Abu Bakar dan Umar dijamu Abu Ayyub. Beliau bersabda, "Roti, daging, kurma matang, kurma segar, kurma muda.." kemudian air mata beliau berlinang, "Demi Dzat yang diriku ada di tangan-Nya, inilah nikmat yang kita akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan Allah nanti pada hari Kiamat. Lalu beliau membaca ayat terakhir surah at-takatsur "Kemudian, sungguh, kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang nikmat-nikmat". Sungguh, ungkapan Rasul yang memuat pesan betapa karunia-Nya harus dimanfaatkan sebaik mungkin karena-Nya dan untuk-Nya.

Penutup
Berulang-ulangnya surah at-Takatsur diperdengarkan kala Tarawih Ramadhan harusnya berdampak. Caranya dengan memaknai bacaan yang diperdengarkan. Salah satu surah yang sering diperdengarkan ialah At-Takasur. Ramadhan berkualitas akan menghadirkan pribadi-pribadi yang tidak berlebihan dalam memenuhi hasratnya. Tetapi ia justru menyelaraskan keinginannya dengan kemauan dari Tuhan yang selalu mengawasinya. Hingga Semua geraknya karena Allah. Serta seluruh nikmat anugerah yang diyakininya dari Allah semata akan dimanfaatkan serta digunakan sebagai sarana menjalin hubungan baik dengan-Nya. Wallahu'alam. (r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru