Kini diperkirakan lebih dari 1 miliar jiwa umat Islam di seluruh dunia melaksanakan ibadah puasa wajib Bulan Ramadan. Sebuah kegiatan individu spiritual yang sangat kolosal sebab dilakukan secara bersamaan oleh umat Islam di dunia ini sehingga menjadi fenomenal.
Puasa Bulan Ramadan memiliki makna universal yakni menjadikan manusia yang berpuasa menjadi taqwa. Umat muslim yakin dengan berpuasa tubuh dan pikirannya menjadi sehat, mampu memahami tujuan hidup yang hakiki. Umat Islam yang berpuasa mampu menguasai diri sendiri. Berpuasa mampu menyalakan aspirasi positif dalam diri dan semakin dekat dengan Allah SWT. Bulan Ramadan adalah bulan ikhtiar fisik menuntut untuk meraih prestasi spiritual.
Bulan Ramadan bermakna pendidikan (tarbiyyah) dalam Islam, di mana Allah SWT berperan sebagai Pendidik Agung (ar-Rabb). Pada dasarnya berpuasa bukan sekadar tidak makan, tidak minum dan menghindari seks. Bukan hanya sekadar menahan haus dan lapar. Berpuasa memiliki makna yang dalam dan universal. Puasa bertujuan untuk menemukan kembali filsafat hidup yang menuntut usaha yang terus menerus untuk meningkatkan kualitas kehidupan.
Umat Islam yang berpuasa akan menemukan kembali makna rahmat (rahma) dan kasih sayang, dimulai dengan diri kita sendiri. Bulan Ramadan merupakan bulan rahmat dan damai. Bulan Ramadan bulan kedamaian batin maka bulan Ramadan adalah bulan cinta. Sebab, umat Islam yang berpuasa menunjukkan kasih mengasihi (al-Wadud) dan menyebarkan cinta kasih di sekitarnya terhadap orangtua, anak-anak, sesama manusia dan khususnya masyarakat miskin.
Bulan Ramadan merupakan momentum mencari makna hidup untuk mengendalikan diri dan disiplin. Namun, semua makna tidak sepenuhnya dapat diimplementasikan. Sebaliknya banyak hal-hal yang seharusnya tidak terjadi pada Bulan Ramadan, justru terjadi. Hal ini boleh jadi pemaknaan Bulan Ramadan belum secara total.
Hal yang seharusnya tidak terjadi seperti ketika Bulan Ramadan umat Islam justru mengalami pengeluaran bertambah. Anggaran belanja meningkat. Ada kecenderungan umat Islam makan lebih banyak. Sudah seperti tradisi, setiap kali berbuka puasa, biasanya makanan berbeda ketika tidak dalam bulan puasa.
Ketika berbuka puasa selalu makan besar dan meriah. Berbagai menu makanan disiapkan untuk memenuhi hawa nafsu. Tutupan meja makan sangat berbeda dengan hari-hari diluar Bulan Ramadan. Terkadang sudah satu menjadi kemewahan.
Sementara hidup dalam Bulan Ramadan seharusnya hidup sederhana. Hal ini jarang terlihat, hidangan yang disajikan tidak lagi sederhana akan tetapi sudah mewah. Sesungguhnya ibadah puasa melatih diri menguasai diri sendiri, tidak larut dalam kemewahan.
Misi dan Target Ramadan
Umat Islam seharus menyadari kewajiban melaksanakan ibadah puasa pada Bulan Ramadan karena panggilan iman, terintegral keimanan seseorang dengan pelaksanaan ibadah puasa maka puasa Ramadan merupakan rangkaian semua kewajiban yang diperintahkan Allah SWT. Bila demikian maka ibadah puasa pada Bulan Ramadan bukan sebatas syakliayah (simbolik) dan rutinitas.
Pelaksanaan ibadah puasa memiliki syarat dan rukun yang merupakan titik awal dari langkah menuju ketinggian nilai hikmahnya. Nabi Muhammad SAW bersabda, "Kam min shoim laisa lahu min shiyamihi illa alju' wakam min qa'imi laitsa minqiyamihi illa al-sahr," Artinya, "Berapa banyak orang yang berpuasa tetapi dia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu kecuali hanya lapar dan berapa banyak orang yang sholat malam tetapi dia tidak mendapatkan apa-apa dari sholat malamnya itu kecuali hanya sekedar begadang saja."
Syarat dan rukun melaksanakan ibadah puasa sebagai pertanda sahnya ibadah puasa itu akan tetapi nilai dari ibadah puasa itu berbeda buat setiap orang yang melaksanakannya. Ibadah puasa pada Bulan Ramadan merupakan perwujudan keadilan sosial. Rangkaian kegiatan dalam Bulan Ramadan mendorong umat Islam untuk meningkatkan amal saleh. Allah SWT menjanjikan balasan yang lebih besar dari biasanya.
Pada Bulan Ramadan semua amal ibadah akan dilipatgandakan oleh Allah SWT. Amal ibadah, amal saleh akan mendapat porsi kebaikan dari Allah SWT yang lebih besar jika dilaksanakan pada Bulan Ramadan. Kesalehan sosial yang terus dibangun oleh sebagian umat Islam pada Bulan Ramadan mendapat penilaian tersendiri dari Allah SWT.
Jelasnya pelaksanaan ibadah puasa wajib pada Bulan Ramadan menciptakan keadilan sosial yang baik. Umat Islam yang melaksanakan ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya pada Bulan Ramadan akan mendapatkan kelezatan ma'nawi dan juga akan merasakan kenikmatan hidup dalam keadilan sosial Islam.
Pengalaman spiritual individu umat Islam merupakan tindakan pembebasan (liberasi) diri dari sifat keegoisan dan kerakusan yang kerap merasuki kehidupan manusia. Hakikat hidup di dunia adalah hidup yang bahagia di akhirat. Kebahagiaan di dunia apabila mampu mencapai kebebasan batin sejati. Seorang muslim yang ingin mendapatkan kebahagiaan di dunia maka harus terlebih dahulu membebaskan diri sendiri.
Bulan Ramadan sesungguhnya bulan pendidikan tertinggi bagi umat Islam. Dalam mewujudkan pendidikan tertinggi itu umat Islam harus mampu menjadikan dirinya sebagai insan yang soleh, manusia yang dermawan dan kedermawanan seorang muslim akan dinilai langsung oleh Allah SWT.
Hadist Nabi Muhammad SAW diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas RA, Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya, "Nabi SAW adalah orang yang amat dermawan, dan beliau lebih dermawan pada Bulan Ramadan, saat beliau ditemui Jibril untuk membacakan padanya Al-Qur'an. Jibril menemui beliau setiap malam pada Bulan Ramadan, lalu membacakan padanya Al-Qur'an. Rasulullah SAW ketika ditemui jibril lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus."
Menurut riwayat Al-Baihaqi, dari Aisyah RA: "Rasullullah SAW jika masuk Bulan Ramadan membebaskan setiap tawanan dan memberi setiap orang yang meminta."
Sifat kedermawanan dan solidaritas ada pada diri orang yang berpuasa. Hal itu karena orang yang berpuasa tidak makan dan minum. Membantu orang lain berpuasa agar kuat dengan makan dan minum maka kedudukannya sama dengan orang yang meninggalkan syahwat karena Allah SWT.
Dalam ajaran Agama Islam memberi hidangan berbuka puasa kepada orang-orang yang berpuasa bersamanya. Hal itu karena makanan sangat disukainya, maka hendaknya ia membantu orang lain dengan makanan tersebut. Bila ini dilakukan maka orang tersebut masuk kepada orang yang memberi makanan yang disukai dan menjadi orang yang bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat makanan dan minuman yang dianugerahkan kepadanya.
Orang yang berpuasa memberikan pebuka puasa kepada orang yang berpuasa maka berlipat ganda pahala yang diperolehnya. Hal ini karena sebelumnya ia telah mendapat pahala, kemudian dilipat gandakan lagi pahalanya oleh Allah SWT.
Rasa sosial tumbuh dari pendidikan yang ada dalam ibadah puasa. Rasa sosial sesama manusia, rasa cinta akan tumbuh dalam kehidupan sehari-hari, rajin memberi, banyak bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT. Dalam Bulan Ramadan diwajibkan membayar zakat fitrah untuk mensucikan orang yang berpuasa dari perkataan kotor dan perbuatan keji.
Hubungan horizontal sesama manusia terbangun sebab zakat fitrah yang diwajibkan itu agar tidak ada orang yang tidak memiliki makanan ketika tiba Hari Raya Idul Fitri. Tegaknya satu keadilan pada Bulan Ramadan. Perwujudan keadilan yang diajarkan dalam Agama Islam bahwa hidup manusia di dunia ini hanya sementara dan akan kembali kepada Allah SWT, pencipta alam semesta termasuk manusia.
Kewajiban membayar zakat fitrah menandakan Agama Islam mendorong terwujudnya keadilan sosial yang dilakukan secara bottom up dan diawali oleh tiap-tiap umat Islam. Terlihat jelas Islam memberikan solusi yang tepat dalam mengatasi persoalan kesenjangan dan ketidakadilan sosial. Dasarnya pendidikan pada Bulan Ramadan, tumbuh cinta sesama manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT. Pendidikan pada Bulan Ramadan merupakan pendidikan karakter, menumbuhkan rasa cinta sejati dengan dasar keimanan yang besar kepada Allah SWT. (Penulis Dosen Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), mantan Sekretaris Majelis Kebudayaan PW. Muhammadiyah Sumut dan mantan Bendahara Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tapanuli Utara/q)