Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 17 April 2026

Hidup di Dunia Hanya Sebentar

* Oleh : Islahuddin Panggabean SPd
- Jumat, 26 Januari 2018 22:31 WIB
11.972 view
Hidup di Dunia Hanya Sebentar
Islahuddin Panggabean
"Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?" Mereka menjawab, "Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada mereka yang menghitung." Dia (Allah) berfirman, "Kamu tinggal (di bumi) hanya sebentar, jika kamu benar-benar mengetahui," (QS Al-Mu'minun: 112-114)

Orang bertakwa bakal mendapat balasan surga dari Allah. Merekalah orang-orang yang beruntung. Itu adalah ketentuan pasti. Begitujuga sebaliknya, mereka yang durhaka pada Allah bakal berakhir di neraka yang apinya membara.

Dari firman Allah Swt di atas, setidaknya Allah mengisyaratkan bahwa kesempatan dan panjangnya waktu yang telah diberikan pada orang yang kufur di dunia agar mereka merenung, bertobat dan membawa bekal untuk akhirat. Akan tetapi, dari waktu ke waktu, kekufuran malah semakin menjadi. Semakin  jauh dari Allah. Mereka tidak memanfaatkan sebaik-baiknya kehidupan di dunia yang begitu singkat.

Ada ungkapan yang menggambarkan sebentarnya hidup di dunia. "Lamanya hidup di dunia ibaratnya hanya diapit oleh azan dan shalat: diazankan ketika lahir dan disholatkan ketika mati". Begitulah singkatnya kehidupan di dunia.

Dalam Islam diajarkan ada kehidupan lain yang lebih panjang dan abadi yakni akhirat. Ajaran ini kerap tidak mudah dipahami apalagi tercermin dalam kehidupan orang-orang tertutup hatinya. Bahkan sejumlah kematian yang terjadi pada orang-orang di sekelilingnya atau musibah yang menimpanya tidak membuat tersadar bahwa hidup hanya sebentar.

Al-Quran menggambarkan beberapa hal yang menjadi muasal tertutupnya hati ini. Pertama, kesejahteraan dan kekuasaan yang dapat membuat seseorang lupa diri. Sering sekali ketika seorang merasakan kejayaan hidup membuat dirinya lupa bahwa kejayaannya itu tidak abadi dan akhirat tidak bisa dibeli dengan harta maupun kekuasaan itu. ini tergambar dalam QS 18 ayat 35-36. "Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku kira Hari Kiamat itu tidak akan datang, dan sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada ini"

Kedua, Godaan Setan. Dalam Al-Quran diinformasikan tekad setan, "pasti akan kusesatkan mereka, dan akan kubangkitkan angan-angan kosong pada mereka" (QS 4:119). Salah satu angan-angan kosong ialah ilusi keabadian seperti yang dibisikkan kepada Nabi Adam dan Hawa tentang buah keabadian. Padahal, tiada yang abadi kecuali Allah.

Untuk meyakinkan bahwa hidup hanya sebentar, Al-Quran memberi banyak ilustrasi. Di antaranya dengan menunjukkan beberapa peradaban besar yang hancur lebur oleh bencana, yang reruntuhannya masih dapat ditemukan sampai hari ini. Selain itu, Al-Quran juga menceritakan peristiwa khusus mengenai orang yang mendapat kesempatan istimewa.

Tepatnya, kisah Allah mematikan seseorang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah Swt bertanya, "Berapa lama kamu tinggal di sini?" Ia menjawab, "Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah hari." Allah berfirman," Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya" (QS 2: 259).

Bagi Allah, tidak ada awal dan tidak ada akhir, maka di tangan-Nya hitungan waktu menjadi tidak ada. Di dalam al-Quran disebutkan, sehari di sisi-Nya seperti seribu tahun dalam perhitungan manusia (QS 22: 47). Sedangkan umur rata-rata manusia sebagaimana diinformasikan Nabi selama 60-70 tahun. "Umur-umur umatku antara 60-70 tahun, dan sedikit orang yang bisa melampaui umur tersebut (HR Ibnu Majah).

Maka, jika satu hari 1000 tahun, sedangkan rata-rata umur manusia 65 tahun, maka kehidupan di dunia ini kurang lebih hanya 1,5 jam saja jika ukurannya hari di akhirat. Kesenangan yang ada hanya sebentar sebagaimana tercantum dalam surah an-Nisa ayat 77 "Katakanlah: Kesenangan di dunia hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa." Sayangnya, tidak hanya sebentar tetapi Quran juga menyebutkan dapat memperdayakan (QS 3 : 185).

Hari akhirat itu pasti akan datang dan di sana manusia akan menemukan balasan atas apa yang dilakukannya di dunia yang hanya sebentar. Al-Quran sebutkan orang yang tak percaya akhirat dengan yukaddibu bi ad-din. Kata ad-din juga berarti agama. Pendusta akhirat sejatinya juga merupakan pendusta agama. Oleh karena itu, Allah Swt berfirman kepada orang beriman, "Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah disiapkannya untuk esok." (QS 59:18).

Karena hidup di dunia hanya sebentar, maka setiap diri harus mempertimbangkan umur. Kata 'Umur' di samping berarti usia,  waktu yang dilalui selama hidup, dapat bermakna juga ma'mur. Dalam al-Quran kata umur dengan berbagai bentuknya diulang sebanyak 27 kali, tiga kali berkaitan dengan memakmurkan bumi dan melaksanakan umrah, dua kali dengan memakmurkan masjid, sekali menyebut Baitul Ma'mur, tiga kali dikaitkan  dengan keluarga Imran dan lima belas kali mengenai usia.

Penutup
Al-Quran sering mengingatkan kepada manusia bahwa dunia hanya sementara sedangkan akhirat selamanya. Akan tetapi kesenangan hidup yang memperdayakan serta ditambah godaan setan sering membuat lupa bahwa sesungguhnya umur itu berarti jika digunakan untuk memakmurkan dunia dengan ketaatan. Filosofi Qurani itu menyimpulkan bahwa umur yang semakin menua, lamanya hidup di dunia tidak bermakna dan akan sia-sia tanpa upaya memakmurkan jiwa. Wallahua'lam. (Penulis adalah Kabid Humas Jaringan Pemda dan Remaja Masjid Indonesia Kota Medan/l)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru