Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 29 Juni 2026

Ustadz Khairil Abdi : Tiga Jenis Tingkatan Puasa

- Jumat, 10 Mei 2019 18:30 WIB
289 view
Ustadz Khairil Abdi : Tiga Jenis Tingkatan Puasa
SIB/Usni Pili Panjaitan
TAUSIYAH : Ustadz Khairil Abdi menyampaikan tausiyah tentang tingkatan puasa, Rabu (8/5) usai shalat Subuh di Musholla Arrohim Perumahan Sriwijaya, Kecamatan Datuk Bandar Kota Tanjungbalai.
Tanjungbalai (SIB) -Ustadz Khairil Abdi mengungkapkan dalam tausiyahnya usai shalat Subuh, Rabu (8/5) di Musholla Arrohim Perumahan Sriwijaya Kelurahan Pahang, Kecamatan Datuk Bandar, ada tiga jenis tingkatan puasa.

Menurutnya, ketiga tingkatan puasa itu yakni puasa umum, puasa khusus dan puasa paling khusus. "Imam Al-Ghazali membagi tiga tingkatan puasa. Puasa umum menurut Imam Al-Ghazali adalah puasa menahan perut dari memenuhi kebutuhan syahwat," ujar Ustadz Abdi.

Sedangkan puasa khusus adalah puasa menahan telinga, pendengaran, lidah, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari dosa. Sementara puasa paling khusus adalah menahan hati agar tidak mendekati kehinaan, memikirkan dunia, dan memikirkan selain Allah SWT.

"Untuk puasa yang ketiga ini (shaumu khususil khusus) orang yang hanya melaksanakan ibadah mulai subuh dia shalat, baca Al-Qur'an, lalu shalat Sunnat, shalat Zuhur dan sampai shalat Isya terus beribadah. Tidak memikirkan pekerjaan karena selama sebulan dia hanya beramal dan beribadah," kata Ustadz Khairil Abdi memberikan contoh terhadap orang yang puasa paling khusus.

Imam Al-Ghazali menetapkan tiga tingkatan ini disusun berdasarkan sifat orang yang mengerjakan puasa. Ada orang puasa hanya sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi perbuatan maksiat tetap dilakukannya, inilah puasa orang awam. Umumnya, mereka mendefenisikan puasa sebatas menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa secara dzahir.

Berbeda dengan tingkatan kedua, yakni puasanya orang-orang soleh. Mereka lebih maju dibandingkan orang awam, karena mereka mengerti bahwa puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, akan tetapi menahan diri dari perbuatan dosa. Kelompok ini menyatakan bahwa percuma puasa jika masih terus melakukan maksiat karena itu membatalkan puasa.

Selanjutnya puasa paling khusus. Puasa model ini hanya dikerjakan oleh orang-orang tertentu. Hanya sedikit orang yang sampai pada tahap ini. Pasalnya, selain menahan lapar dan haus dan menahan diri untuk tidak bermaksiat, mereka juga memfokuskan pikirannya untuk selalu mengingat Allah SWT. Bahkan, pikiran selain Allah SWT dan pikiran terhadap dunia dianggap merusak dan membatalkan puasa.

Ustadz Khairil Abdi menegaskan di akhir tausiyahnya, ibadah puasa merupakan kesempatan terbesar untuk melatih diri supaya lebih baik dari sebelumnya. "Semoga puasa kita tidak bersifat bukan sekadar memenuhi kewajiban semata, namun lebih dari itu dapat bermanfaat dan berdampak positif, serta hendaknya kita tergolong orang yang beriman, Amin," tegasnya. (A08/f)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru