Kalau seseorang yang kita kasihi meninggal, maka kita mencoba mengingat pengalaman-pengalaman bersama dengan orang tersebut, baik pengalaman suka maupun duka. Namun, terutama kita mencoba mengingat apa yang diucapkan pada saat-saat menjelang ajalnya, karena pesan pada saat-saat terakhir adalah penting dan penuh makna. Hal seperti itulah yang menjadi kilas balik atas peristiwa yang dialami Yesus untuk kita renungkan.
Peristiwa Salib di Golgota merupakan kisah tragis namun magis, sedih namun ada peristiwa kasih. Sebenarnya, tidak ada manusia di dunia yang menyukai dirinya disalibkan, meskipun demi untuk orang lain, atau sesama manusia. Mengapa? Karena manusia tidak akan sanggup menahan untuk disalibkan. Bagi Yesus yang rela dan demi misi Kristus, hal tersebut Dia lakukan pada Salib di Golgota.
Marilah kita mencermati peristiwa kasih yang bagaimanakah dibalik penyaliban Yesus yang dieksekusi oleh manusia berdosa yang keji dan penguasa yang lalim.
Motif Penyaliban Yesus
Pertama, Pertarungan Agama. Dari nenek moyang orang Yahudi hingga di zaman Tuhan Yesus, orang Yahudi tidak ingin disebut sebagai orang yang tidak beragama. Agama bagi mereka cukup kental, fanatik. Nilai-nilai ajarannya harus dipelihara secara murni dan konsekuen. Harus diakui, agama adalah bagian dari kehidupan masyarakat Yahudi. Agama pun dibuat sebagai pengikat persekutuan yang eksklusif di kalangan mereka.
Menurut kredo (pokok keyakinan) agama Yahudi, nama Yesus belum mereka terima, yang pernah diajarkan hanya nama Messias akan datang. Sulit sekali mereka mempercayai Yesus orang Nasaret. Sehingga pertarungan pun tidak dapat dihindarkan antara ajaran baru yang dibawa oleh Yesus sebagai Anak Allah, disebut Kristus dengan ajaran agama nenek moyang mereka yaitu, Allahnya Abraham, Allahnya Ishak, dan Allahnya Yakub.
Perbedaan seperti inilah yang mendasari kecurigaan mereka bahwa Tuhan Yesus ini tidak sepenuhnya mereka percayai sebagai Anak Allah, dan Tuhan. Inilah pandangan agama yang eksklusif, fanatik buta, dan tidak pluralis.
Kedua, Alasan Politik Agama. Sebelum Yesus memulai pelayanan-Nya, pertama sekali Dia dibawa iblis ke sebuah puncak gunung untuk dicobai (Matius 4:1-11). Pencobaan itu di bidang ekonomi, politik dan agama. Akan tetapi Yesus dengan lugas, dan tangkas menjawab sang iblis hingga ia menyingkir tanpa hasil. Sebatas ini, mereka belum bisa menjegal Yesus, namun mereka sudah mulai tersinggung dan berfikiran negatif.
Sebagai faktor yang dapat dijadikan pelanggaran dan manipulasi hukum Yahudi terhadap ajaran Yesus, sedikitnya ada tiga fasal, yaitu ; Satu). Mengenai Perceraian (Markus 10:1-12). Menurut Hukum pada zaman Musa, orang Yahudi boleh melakukan perceraian. Tetapi menurut ajaran Yesus, hal ini tidak dibenarkan. Maka oleh Farisi menganggap bahwa Yesus telah menciderai Hukum Taurat mereka. Dua), Penyembuhan pada Hari Sabbat (Markus 3:1-6).
Pengertian Sabbat ; hari perhentian, hari yang dikuduskan. Maka orang Yahudi dilarang bekerja pada hari Sabbat; meskipun pekerjaan menolong, atau menyelamatkan manusia. Ketika Yesus melakukan penyembuhan terhadap orang sakit maka perbuatan seperti itu juga dianggap sebagai pelanggaran Hukum Taurat. Artinya, Yesus dianggap tidak menghormati dan menguduskan Sabbat. Tiga), Yesus menentang orang Farisi (Matius 23:2-3, 27-28). Kritikan keras Yesus terhadap Farisi dalam ajaran dan khotbahnya supaya jangan mencontoh tingkah laku mereka. Ajaran seperti ini dianggap sebagai hasutan, dan melawan pejabat Yudikatif Agama. Memang selama zaman Yesus kaum Farisi menjadi tidak populer di kalangan masyarakat Yahudi.
Inilah yang membuat elit agama masyarakat Yahudi semakin berang melihat Yesus. Sehingga, pada setiap kesempatan mereka selalu mencari-cari kesalahan, mencobai dan berusaha mencegah supaya popularitas Yesus tidak diakui oleh orang banyak. Belakangan, mereka menuduh Yesus sebagai seorang pemberontak, kelompok oposisi pemerintah Romawi, yang membawa ajaran baru, yang memanipulasi Hukum Musa.
Peristiwa Kasih di Golgota
Inilah beberapa peristiwa kasih yang terdengar dari bukit Golgota, 1. Pengampunan, "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Luk 23:34). Di kayu Salib Yesus sebagai korban kejahatan manusia namun ia tidak dendam justru dari pesakitan ia menyampaikan pengampunan atas salah dan dosa manusia. 2. Negeri Firdaus disediakan, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." (Luk. 23:43). Negeri Firdaus yang pertama disebut taman Eden, negeri awal dosa manusia. Kini, pada peristiwa Golgota kembali terulang, namun dari ucapan Yesus negeri itu kembali diperbaharuiNya, sebab kita bersama Dia yang disalibkan. 3. Mengasihi keluarga Allah, "Ibu, inilah, anakmu!" dan "Inilah ibumu!" (Yoh. 19:26-27). Hendaknya semua orang melihat dan mengasihi Yesus yang disalibkan - dan hendaknya juga semua orang menganggap setiap perempuan adalah ibu kita juga. Keluarga Allah tidak lagi dibatasi oleh garis keturunan, garis darah. 4. Suara yang nyaring, "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Mark 15:34). Pertanyaan Yesus di sini sebagai peringatan kepada kita, bahwa dalam penderitaan tidak boleh berputus asa, hendaknya kita berseru, memanggil namaNya pada saat menderita sekalipun.
5. Yesus haus keselamatan manusia, "Aku haus!" (Yoh. 19:28). Logika ini, seharusnya manusia di sekitar Golgota yang memberi minum. Namun yang termahal dari ungkapan ini justru Yesus merasakan bahwa manusia haus keselamatan. 6. Pasrah diri, "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku." (Luk 23:46). Kepasrahan Yesus untuk menyerahkan sepenuhnya terhadap rencana dan kehendak Bapa di sorga. Allah akan mengasihi jika kita pasrah terhadap petunjuk, dan arah jalan Tuhan. 7. Bekerja dalam waktu, "Sudah selesai" (Yoh. 19:30). Allah bekerja dalam kurun waktu tertentu, pekerjaan Illahi telah diselesaikanNya, waktu adalah Alfa dan Omega di dalam Yesus Kristus.
Kesimpulan
Kini, kemuliaan Allah akan menghampiri AnakNya, Yesus Kristus di kayu Salib. Ini mangartikan tidak selamanya penderitaan menguasai kita - percayalah, ada kemuliaan Allah pada salib yang kita pikul. Inilah kasih yang sejati dari Allah. Semoga.
(Penulis, Dosen Pengajar di UHN Pematangsiantar/f)