Duta Besar Jepang untuk Indonesia Yasuaki Tanizaki mengatakan bahwa proyek angkutan massal cepat atau mass rapid transit (MRT) sebagai wadah transfer teknologi antara Jepang dan Indonesia.
“Proyek ini seperti ‘on job training’ (pelatihan) untuk mengadakan transfer teknologi dari Jepang ke Indonesia,†katanya saat mengunjungi pembangunan MRT di Senayan, Jakarta, Kamis (17/3).
Selain untuk menyediakan pilihan transportasi yang dapat digunakan masyarakat, menurut dia, proyek tersebut juga menjadi salah satu upaya untuk mengembangkan sumber daya manusia.
Dubes Tanizaki berharap kerja sama antara Jepang dan Indonesia akan makin kuat ke depannya.
“Saya berharap proyek ini selesai tepat waktu,†ujarnya.
Dalam kunjungan pertama kalinya ini, Dubes Tanizaki mengatakan bahwa proyek itu melibatkan empat kelompok yang masing-masing terdiri atas 25 orang Indonesia.
Direktur Proyek MRT Jakarta Osako Kazuya menambahkan bahwa transfer teknologi dilakukan melalui semua aktivitas kerja yang dilakukan oleh tenaga lokal Indonesia dengan panduan dari orang Jepang.
Warga Indonesia berada di posisi operator, pengebor atau penggali, teknisi listrik, mekanik, dan pekerja di tiap kelompok. Masing-masing kelompok bertanggung jawab pada satu pengawas yang berasal dari Jepang.
Ketua Umum Perhimpunan Persahabatan Indonesia Jepang Rachmat Gobel mengapresiasi proyek MRT dan adanya transfer teknologi dalam pembangunannya.
“Kita berharap bahwa ini bisa menjadi proyek yang bisa membangun tenaga-tenaga Indonesia yang berketerampilan untuk bisa berperan serta dalam pembangunan industri transportasi publik termasuk MRT,†ujarnya.
Menurut dia, kebutuhan warga Indonesia, terutama daerah Jakarta, terhadap alternatif transportasi untuk mengurangi kemacetan sangat besar.
“Saya kira kalau transportasinya bagus pelayanannya baik, orang akan mulai beralih menggunakan transportasi publik yang baik,†tuturnya.
Ia memandang perlu pengembangan infrastruktur transportasi terus-menerus karena kebutuhan ke depan dalam hal efisiensi akan makin besar seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang makin berkembang.
“Saya kira pemerintah sekarang ini terus mendorong percepatan pembangunan infrastruktur seperti MRT ini,†ujarnya.
BERBAGI
Menurut Chief Representative Japan International Cooperation Agency (JICA) Indonesia Naoki Ando, dapat berbagi sistem evakuasi angkutan massal cepat ketika ada gangguan operasional saat angkutan beroperasi.
“Kerja sama teknologi di antara kedua negara sangat penting. Misalnya, karena kereta ini meluncur di bawah tanah khususnya pada saat terjadi misalnya kecelakaan atau kebakaran bagaimana sistem evakuasi mekanisme maupun prosedur yang harus dilalui, ini merupakan bagian yang bisa kami konstribusikan,†katanya saat memaparkan proyek MRT di lokasi pembangunan terowongan di Senayan, Jakarta, Kamis (17/3).
Ia berpendapat bahwa kerja sama teknologi itu tidak hanya sebatas membangun MRT. Akan tetapi, setelah MRT dibangun, dapat dilanjutkan dengan memberikan pemahaman dalam mengantisipasi kendala operasional angkutan massal cepat itu.
Naoki Ando mengatakan bahwa MRT nantinya menjadi alternatif angkutan baru yang juga memerlukan berbagai macam peraturan, termasuk juga kebijakan salah satunya standar teknis pengoperasian MRT.
Untuk itu, kata Naoki, Jepang akan dapat bertukar pengalaman dan pengetahuan tentang mengoperasikan MRT di wilayahnya.
Selain itu, dia mengatakan bahwa pihaknya melihat ada kemungkinan penambahan jalur MRT ke depan jika masyarakat telah merasakan manfaat menggunakan angkutan cepat itu setelah beroperasi, yang bisa menghemat waktu.
Ia memperkirakan waktu perjalanan dari Lebak Bulus hingga Bundaran HI (Hotel Indonesia) selama 25 menit dan perjalanan dari Lebak Bulus sampai Kampung Bandan selama 41 menit.
Tokyo dengan perkiraan populasi penduduk 14 juta jiwa, lanjut dia, sebanyak 13 jalur MRT telah dibangun dengan panjang 304 kilometer.
Kemudian, Delhi di India yang memiliki populasi penduduk 17 juta jiwa membangun MRT sepanjang 329 km.
Sementara itu, di Jakarta dengan populasi 28 juta jiwa, ada 10 jalur MRT yang direncanakan dibangun sepanjang 53 km.
Setelah MRT selesai dibangun dan dapat beroperasi, angkutan itu dapat mengangkut 433.000 orang per hari pada jalur utara-selatan, yakni Kampung Bandan-Lebak Bulus.
Sementara itu, MRT diperkirakan akan mengangkut satu juta orang per hari pada jalur timur-barat atau Kalideres-Ujung Menteng.
“Dengan menggunakan MRT, diharapkan kemacetan dapat dikurangi,†katanya.
TEROWONGAN MRT
Direktur Proyek MRT Jakarta Osako Kazuya mengatakan bahwa pembangunan terowongan pada proyek angkutan massal cepat dari Senayan menuju Setiabudi dijadwalkan selesai pada awal 2017.
“Terowongan sampai Istora Senayan pertengahan bulan depan dan sampai Setiabudi rencananya awal tahun depan,†katanya saat memaparkan proyek MRT di lokasi pembangunan terowongan, Senayan, Jakarta, Kamis (17/3).
Ia mengatakan bahwa pihaknya membangun dua terowongan saat ini untuk Jalan Jenderal Sudirman sampai Thamrin, yakni terowongan untuk kereta berangkat dan kembali, yang masing-masing berdiameter 6,5 meter.
Untuk pengeboran pertama telah dilakukan sejak Agustus 2015. Saat ini, terowongan sedang dibor dari Senayan mengarah ke Istora Senayan.
Osako Kazuya menargetkan pengeboran untuk membuat terowongan dari Senayan sampai Istora Senayan akan selesai pada pertengahan bulan depan, kemudian dilanjutkan menuju Setiabudi.
Ia mengatakan bahwa alat pengebor berasal dari Jepang yang berputar 360 derajat per menit.
Pengebor itu beroperasi selama 24 jam dalam 1 hari yang bisa menggali hingga 10 meter.
“Dengan memanfaatkan pengeboran ini, kami bisa menghindari kemacetan di atas jalanan karena semua dilakukan di bawah tanah sehingga pembangunan di atas jalan tidak diperlukan,†ujarnya.
Sementara itu, pengeboran kedua telah sampai ke bagian bawah tanah pada proyek Stasiun Senayan, kemudian akan dilanjutkan dari Senayan ke Istora Senayan.
Ia mengatakan bahwa risiko utama banjir adalah masuknya air dari pintu masuk dan keluar stasiun, bukan dari dinding stasiun atau terowongan. Untuk itu, pintu stasiun dibangun lebih tinggi dari tanah di sekelilingnya.
(Ant/ r)