Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 29 April 2026

Agribisnis di Tapanuli Perlu Terobosan Inovatif

* Catatan : Ads Frans Sihombing, Wartawan SIB
- Jumat, 29 April 2016 14:17 WIB
556 view
Ketua Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Quality  mengungkapkan bahwa pertanian di wilayah Tapanuli akan cenderung jalan di tempat jika tidak ada terobosan-terobosan yang inovatif. Hal ini terutama karena kondisi, tekstur dan struktur tanah di wilayah Tapanuli secara umum relatif berbeda dibanding daerah lain sehingga membutuhkan traitment/perlakuan-perlakuan khusus agar bisa dicapai produktivitas yang optimal. Belum lagi dari aspek sosial budaya masyarakat Tapanuli yang cenderung masih bertahan dengan pola-pola pertanian lama dan hanya sebagian kecil yang tertarik dan mau mengadopsi teknologi pertanian yang lebih baru.

Hasudungan Butar-butar yang merupakan mantan Ketua Komisi Penyuluhan Pertanian Sumatera Utara (2005-2010) adalah seorang pakar pertanian yang sangat inovatif dan sekarang sedang menyelesaikan studi Doktor (S3). Dia adalah   inisiator pemecahan rekor Muri Manggadong yang diperoleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) dengan peserta 18.829 orang pada  8 September 2011 ketika masih menjabat Kapuslit Ketahanan Pangan dan Agribisnis USU . Rekor tersebut memecahkan rekor sebelumnya di Sulawasi Tengah dengan jumlah peserta 10.279 orang. Dia juga menggagas pendirian Pondok Bina Tani di Desa Sosor Ladang Kecamatan Parmaksian Tobasa tahun 2006 yang merupakan cikal bakal sumber bibit ternak babi untuk didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Menurut putra asli kelahiran Desa Tangga Batu-2 Kecamatan Parmaksian Tobasa ini ada beberapa saran/masukan dalam upaya percepatan pembangunan agribisnis di Tapanuli, antara lain:

1. Bupati harus menjadi "inovator".
Kita sangat merindukan hadirnya seorang bupati di wilayah Tapanuli yang benar-benar serius dalam pengembangan agribisnis. Dimana dengan berbagai kebijakan dan strategi yang diambilnya mampu mendongkrak percepatan pengembangan agribisnis di wilayahnya masing-masing. Hasil Pilkada serentak baru-baru ini telah memunculkan pemimpin-pemimpin baru di Kabupaten Toba Samosir, Samosir dan Humbang Hasundutan. Ekspektasi masyarakat sangat besar kepada para pemimpin baru ini untuk dapat menggerakkan roda pemerintahan dengan baik yang bermuara pada peningkatan tingkat kesejahteraan masyarakat. Dalam  kampanye mereka kepada masyarakat pemilih semuanya mengaku memiliki kelebihan khusus dibanding calon-calon lain dan mampu membangun daerah masing-masing jika kelak terpilih dan dibumbui dengan janji-janji lain yang mampu mempengaruhi pilihan masyarakat. Salah satu hal krusial yang sangat penting sebagai masukan bahwa jika pemimpin baru ini serius dalam pengembangan agribisnis adalah dalam hal pengangkatan pimpinan SKPD yang tupoksinya berkaitan dengan agribisnis agar benar-benar selektif, karena Tapanuli sebagai daerah agraris berarti jika agribisnis berkembang di suatu Kabupaten di wilayah Tapanuli maka mayoritas penduduknya sudah memperoleh peningkatan tingkat kesejahteraan.

Ada fenomena buruk yang berkembang saat ini di Indonesia yaitu upaya-upaya dalam hal pencitraan kepala daerah, dimana sebagian kepala daerah lebih mengutamakan pencitraan dirinya  dari pada pembangunan daerahnya; paling signifikan fenomena ini terlihat terutama pada saat menjelang Pilkada. Pada hal, jika kita sadar, upaya pencitraan ini membutuhkan biaya yang cukup besar tapi dampaknya tidak akan pernah dirasakan masyarakat. Harapan kita kepada para kepala daerah di wilayah Tapanuli tidak terlampau mengutamakan pencitraan diri tapi lebih mengutamakan pembangunan daerah demi peningkatan sosial ekonomi masyarakatnya. Ada baiknya kita merenungkan apa semboyan para pejuang inovasi "I want to make history but not story" (Saya mau membuat sejarah bukan sekedar cerita). Untuk itu tidak ada salahnya kita belajar dari kabupaten lain yang telah lebih maju dalam pengembangan agribisnisnya, dan dari sana bisa diseleksi inovasi atau terobosan mana yang layak dan bisa dengan cepat diterapkan di daerah Tapanuli sesuai dengan kondisi wilayah.

2. Zonasi Pengembangan Komoditas
Di tiap kabupaten, masing-masing kecamatan bahkan desa memiliki potensi SDA dan faktor pendukung yang bebeda satu sama lain. Kecamatan atau desa yang memiliki keunggulan dalam pengembangan komoditas tertentu seharusnya mendapat perhatian khusus dari pemerintah kabupaten, karena dengan sentuhan sedikit saja akan diperoleh margin atau peningkatan produksi yang signifikan. Sebagai contoh Desa Patane Kecamatan Porsea Tobasa dari dulu  dianggap sebagai desa potensial  penghasil ikan mas kolam selain penghasil padi,  karena didukung oleh ketersediaan air yang kontinu dari Sungai Aek Mandosi. Jika Pemkab Tobasa serius untuk mengembangkan desa ini sebagai sentra produksi ikan kolam tidaklah terlampau sulit. Adapun langkah-langkah yang mungkin diambil antara lain: 1). Perbaikan saluran irigasi primer, sekunder dan tersier agar distribusi air irigasi merata; 2).
Penyuluhan kepada para petani dalam rangka menghidupkan kembali budaya gotong royong dalam pemeliharaan saluran irigasi dan kesadaran terhadap pemerataan distribusi air. Ada baiknya kita belajar dari budaya "Subak" di Bali menyangkut pengaturan distribuasi air. 3). Melakukan uji coba pemeliharaan ikan lain selain ikan mas, seperti ikan gurami, bawal tawar, ikan patin, lele dumbo dll, untuk memperoleh pilihan jenis ikan mana yang paling diminati pasar dan menguntungkan petani. 4).Mencari informasi saluran pemasaran hasil dengan harga jual yang paling menguntungkan bagi petani, yang merupakan tupoksi Dinas Perindag kabupaten.  Pengembangan usaha ikan kolam dalam jangka panjang akan mengurangi budidaya Keramba Jaring Apung (KJA) di kawasan Danau Toba yang diproyeksikan sebagai destinasi wisata. 5). Mencoba diversifikasi usaha dengan tersedianya air, misalnya ternak bebek, tanaman hortikultura, dll.

Perlu ditambahkan bahwa ada beberapa kecamatan di wilayah Tapanuli yang potensial untuk kelapa sawit, misalnya Kecamatan Habinsaran di Tobasa  dan daerah Parlilitan di Kabupaten Tapanuli Utara. Sudah ada beberapa petani yang mengusahakan kelapa sawit di daerah tersebut tapi kesulitan dalam hal pemasaran TBS karena jarak PKS terlalu jauh sehingga biaya transportasi dan marketing loss terlampau tinggi. Untuk itu perlu pemikiran pendirian PKS di daerah Tapanuli jika luas tanam dan jumlah produksi sudah mendekati kapasitas pabrik. Untuk itu masih perlu dilakukan kajian seberapa luas lagi lahan yang masih layak ditanami untuk ekspansi kelapa sawit di wilayah Tapanuli.

3. Pendirian BUMD Pertanian
Demi percepatan pengembangan agribisnis di Tapanuli, sudah saatnya masing-masing pemerintah kabupaten dengan dukungan DPRD memikirkan pendirian BUMD Pertanian. Selain meningkatkan PAD kabupaten dan kesempatan kerja, pendirian BUMD juga akan memunculkan multiplier effect terhadap perekonomian daerah. Banyak alternatif usaha BUMD yang bisa diusahakan di wilayah ini. Misalnya saja, BUMD Peternakan Sapi atau Kerbau, BUMD Peternakan Babi, BUMD Perkebunan Teh (dulu Kebun Sibosur di Tobasa kuantitas dan kualitas produksinya cukup baik) dan lain-lain. Dalam jangka panjang BUMD bisa mengembangkan Pola PIR, misalnya saja BUMD Peternakan Sapi; bisa saja BUMD sebagai inti dan masyarakat sekitar jadi plasma penghasil rumput untuk pakan ternak dengan dukungan saprodi dari BUMD. Masalah harga beli rumput per kg oleh BUMD bisa dihitung dari tingkat konversi ternak sehingga masyarakat memperoleh harga jual yang adil dan mereka memperoleh kesempatan kerja dan pendapatan. Dengan begitu roda perekonomian daerah jadi hidup dan berkembang.

4. Pertanian Organik
Sesuai dengan kondisi, tekstur dan struktur tanah di wilayah Tapanuli, maka salah satu pola pilihan yang baik adalah pengembangan Pola Pertanian Organik dengan model Integrated Farming System (IFS). Pola ini sudah dilaksanakan di Kabupaten Tobasa sejak tahun 2003 dan hasilnya cukup baik.
Cuma sangat disayangkan sebagian dari para petani tidak mempertahankannya dengan alasan desakan ekonomi rumah tangga sehingga mereka menjual ternak lembunya. Pola Integrated Farming System/IFS (pertanian terpadu) dengan zero waste bisa dilakukan dengan jenis ternak lain seperti kerbau, kambing, domba dan babi. Pola pertanian organik terpadu dengan sisa produksi nol ini sangat positif dalam konservasi, peningkatan tingkat kesuburan tanah dan diversikasi usaha, sehingga para petani memperoleh sumber pendapatan yang lebih beragam. Persoalannya masalah kemauan petani, untuk itu sangat perlu dukungan dari pemerintah daerah untuk melakukan penyuluhan dan bantuan saprodi. (A4/c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru