Gunung Sinabung, di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, sempat tertidur
selama 400 tahun. Namun untuk kesekian kalinya, pada hari Sabtu, 21 Mei
2016, Ia kembali berdenyut, langsung memakan korban. Sebanyak 7 orang
tewas akibat awan panas dan 2 orang lainnya kritis di rumah sakit .
Mereka berasal dari Desa Gamber yang berada di zona merah yang berada
pada radius 4 km di sisi tenggara dari puncak kawah Gunung Sinabung.
Faktor Ekonomi
Sejak
31 Oktober 2014, Desa Gamber telah direkomendasikan sebagai daerah
berbahaya dan masyarakatnya harus direlokasi ke tempat yang lebih aman.
Masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas, termasuk untuk mengolah
lahan pertanian di Desa Gamber, apalagi saat status Awas. Hal ini tentu
sangat disayangkan, dimana masih ada masyarakat yang beraktivitas di
Desa Gamber, meskipun sudah direkomendasikan tidak aman. Jika
rekomendasi itu dipatuhi, seharusnya tak akan ada korban jiwa.
Namun
disi lain , sebagian masyarakat tetap nekat berkebun dan tinggal
sementara waktu sambil mengolah kebun dan ladangnya. Mengapa hal itu
terjadi?. Menurut penuturan sejumlah masyarakat pengungsi, alasan
ekonomi adalah faktor utama yang menyebabkan masyarakat Desa Gamber
tetap nekat melanggar larangan masuk ke desanya.
Erupsi Gunung
Sinabung yang berkepanjangan telah berdampak pada masyarakat sekitar
yang harus mengungsi ke tempat aman. Sawah ladang tanaman produktif juga
rusak karena kena debu erupsi. Hal tersebut terjadi berulang-kali,
mengungsi - kembali ke rumah - mengungsi lagi - kembali ke rumah lagi -
dst. Betapa hal ini sangat menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan yg
mendalam. Dan harta benda lama-lama akan habis dalam proses ini,
sementara itu sawah ladang tidak berproduksi. Dari mana lagi mendapatkan
duit utk membiayai kebutuhan sehari-hari, mencukupi kebutuhan anak-anak
sekolah, biaya kalau ada yg sakit, dll? Tekanan fisik dan mental pun
datang bertubi-tubi.
Krusial
Sejumlah hal krusial menanti
uluran tangan Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten Karo. Misalnya,
bagaimana pemenuhan kebutuhan dasar bagi pengungsi di pos pengungsian.
Rusiana Sembiring (35), pengungsi asal Desa Kuta Gugung Kecamatan
Namanteran yang mengungsi di Jambur Ersada Kopri Kecamatan Brastagi
mengatakan, dia dan anaknya tidak makan sebab, yang mau dimakan hanya
nasi putih saja. "Sayur mayur dan lauk pauk tidak ada, saya lebih
memilih tidak makan, begitu juga pengungsi lainnya yang tidak mau makan,
meski lapar terasa melilit perut," tuturnya.
http://harian.analisadaily.com/sumut/news/pengungsi-sinabung-terancam
kelaparan/220569/2016/03/10.
Pemberitaan tanggal 10 Maret 2016
ada sebanyak 9.324 jiwa pengungsi erupsi Gunung Sinabung terancam
kelaparan akibat pasokan logistik mandek. Pemerintah Kabupaten Karo
tidak dapat menangani kebutuhan utk memberi makan para pengungsi itu.
Biaya yg dibutuhkan Pemkab Karo yakni pengadaan biaya logistik berupa
lauk pauk dan sayur mayur Rp12 miliar, anak sekolah Rp80 juta, air
bersih, Rp100 juta, gas elpiji Rp150 juta. Itu belum perhitungan biaya
beras yang perbulan habiskan 7 ton kurang lebih setiap bulan.
Hal
ini tentu merupakan masalah krusial yang harus diselesaikan secara
tepat. Bagaimana penanganan dampak erupsi Sinabung yang non relokasi.
Mereka tidak perlu relokasi tapi saat terdampak langsung erupsi,
Bagaimana masyarakat tidak dapat melakukan budidaya pertanian dan
perkebunan karena rusak akibat debu erupsi dan beberapa fasum dan fasos
juga rusak, bagaimana mencari lahan kosong untuk dibangun pemukiman.
Kemudian, apakah sudah dibangun payung hukum yang bisa mendorong
percepatan penanganan erupsi Gunung Sinabung. Disisi lain, bagaimana
para siswa secara khusus melalui sistem dan skema yang ada seperti
pemberian Bantuan Siswa Miskin (BSM) dan pemberian beasiswa bagi para
korban gunung Sinabung, di berbagai tingkatan pendidikan (SD, SMP, SMA,
dan mahasiswa). Bagaimana membantu menstimulasi para korban agar dapat
bekerja atau berkreasi di tempat penampungan sementara. . Bagaimana
mengalokasikan dana bantuan untuk mengatasi kerusakan-kerusakan di
sektor pertanian, perkebunan, perikanan, dan sebagainya. Itulah sejumlah
pertanyaan yang harus segera dirumuskan dan butuhkan solusi cepat.
Bencana Nasional
Seluruh
pihak harus bertekad mencari solusi permanen dalam menangani korban
bencana erupsi Gunung Sinabung sebab menurut para ahli erupsi Gunung
Sinabung akan berlangsung sangat lama dan tidak menentu. Meskipun
relokasi lahan untuk korban sedang dieksekusi, pembangunan rumah sudah
terbangun, tetapi semua itu tidak cukup untuk menangani para korban
erupsi Gunung Sinabung. Perlu langkah maju solusi yang jauh lebih nyata
dengan menggunakan pola baru yang bisa menyelesaikan persoalan secara
permanen, menyeluruh dan terpadu. Maka model "pencitraan" berupa
kunjungan-kunjungan dengan memberikan bantuan seadanya bersifat,
tampaknya sesaat tidak banyak memberi solusi.
Relokasi penduduk
yang nyata-nyata tidak boleh kembali di radius 30 kilometer merupakan
langkah baik tetapi belum menjadi solusi menyeluruh. Jauh dari hal
tersebut, masyarakat butuh lahan pertanian , butuh makan, butuh minum,
butuh sandang, butuhn sekolah, butuh ibadah, butuh semuanya minimal
kebutuhan primer dan sekunder. Penambahan jumlah rumah yang dibangun
bagi warga yang direlokasi harus diimbangi juga dengan pemberian
lahan yang tidak jauh dari letaknya tempat tinggal, sebab pemerintah
tidak bisa hanya menyediakan rumah saja tanpa lahan bagi para korban.
Erupsi
Gunung Sinabung yang terus-menerus sudah sangat menyengsarakan
masyarakat di sekitarnya. Berbagai pihak, termasuk pemerintah sudah
memberikan bantuan untuk meringankan derita korban erupsi Sinabung.
Namun tuntutan beberapa pihak menjadikan bencana Sinabung sebagai
bencana nasional, boleh jadi merupakan solusi permanen. Jika itu
terjadi, Status bencana Sinabung secara otomatis sudah menjadi bencana
nasional yang perlu ditangani dengan sigap. Jika sudah dalam pengawasan
penuh nasional, berarti anggaran semua dari pusat. Kunjungan Presiden
Jokowi diawal pemerintahannya ke Sinabung sejatinya diimbangi dengan
implementasi serius dari Pusat
.(r)