Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 29 April 2026

Bagaimana Solusi Permanen Erupsi Sinabung?

* Oleh Sanco Simanullang
- Senin, 06 Juni 2016 13:53 WIB
675 view
Bagaimana Solusi Permanen Erupsi Sinabung?
Gunung Sinabung, di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, sempat tertidur selama 400 tahun. Namun untuk kesekian kalinya, pada hari Sabtu, 21 Mei 2016, Ia kembali  berdenyut,  langsung memakan korban. Sebanyak 7 orang tewas akibat awan panas dan 2 orang lainnya kritis di rumah sakit . Mereka berasal dari Desa Gamber yang berada di zona merah yang berada pada radius 4 km di sisi tenggara dari puncak kawah Gunung Sinabung.

Faktor Ekonomi
Sejak 31 Oktober 2014, Desa Gamber telah direkomendasikan sebagai daerah berbahaya dan masyarakatnya harus direlokasi ke tempat yang lebih aman. Masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas, termasuk untuk mengolah lahan pertanian di Desa Gamber, apalagi saat status Awas. Hal ini tentu sangat disayangkan, dimana masih ada masyarakat yang beraktivitas di Desa Gamber,  meskipun sudah direkomendasikan tidak aman. Jika rekomendasi itu dipatuhi, seharusnya tak akan ada korban jiwa.

Namun disi  lain , sebagian masyarakat tetap nekat berkebun dan tinggal sementara waktu sambil mengolah kebun dan ladangnya. Mengapa hal itu terjadi?. Menurut penuturan sejumlah masyarakat pengungsi, alasan ekonomi adalah faktor utama yang menyebabkan masyarakat Desa Gamber tetap nekat melanggar larangan masuk ke desanya.

Erupsi Gunung Sinabung  yang berkepanjangan telah berdampak pada  masyarakat sekitar yang harus mengungsi ke tempat aman. Sawah ladang tanaman produktif juga rusak karena kena debu erupsi. Hal tersebut  terjadi berulang-kali, mengungsi - kembali ke rumah - mengungsi lagi - kembali ke rumah lagi - dst. Betapa hal ini sangat menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan yg mendalam. Dan harta benda lama-lama akan habis dalam proses ini, sementara itu sawah ladang tidak berproduksi. Dari mana lagi mendapatkan duit utk membiayai kebutuhan sehari-hari, mencukupi kebutuhan anak-anak sekolah, biaya kalau ada yg sakit, dll? Tekanan fisik dan mental pun datang bertubi-tubi.

Krusial
Sejumlah hal krusial menanti uluran tangan Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten Karo. Misalnya, bagaimana pemenuhan kebutuhan dasar bagi  pengungsi di  pos pengungsian. Rusiana Sembiring (35), pengungsi asal Desa Kuta Gugung Kecamatan Namanteran yang mengungsi di Jambur Ersada Kopri Kecamatan Brastagi mengatakan, dia dan anaknya tidak makan sebab, yang mau dimakan hanya nasi putih saja. "Sayur mayur dan lauk pauk tidak ada, saya lebih memilih tidak makan, begitu juga pengungsi lainnya yang tidak mau makan, meski lapar terasa melilit perut," tuturnya. http://harian.analisadaily.com/sumut/news/pengungsi-sinabung-terancam kelaparan/220569/2016/03/10.

Pemberitaan tanggal 10 Maret 2016  ada sebanyak 9.324 jiwa pengungsi erupsi Gunung Sinabung terancam kelaparan akibat pasokan logistik mandek. Pemerintah Kabupaten Karo tidak dapat menangani kebutuhan utk memberi makan para pengungsi itu. Biaya yg dibutuhkan Pemkab Karo yakni pengadaan biaya logistik berupa lauk pauk dan sayur mayur Rp12 miliar, anak sekolah Rp80 juta, air bersih, Rp100 juta, gas elpiji Rp150 juta. Itu belum perhitungan biaya beras yang perbulan habiskan 7 ton kurang lebih setiap bulan.

Hal ini tentu merupakan masalah krusial yang harus diselesaikan secara tepat. Bagaimana penanganan dampak erupsi Sinabung yang non relokasi. Mereka tidak perlu relokasi tapi saat terdampak langsung erupsi, Bagaimana masyarakat tidak dapat melakukan budidaya pertanian dan perkebunan karena rusak akibat debu erupsi dan beberapa fasum dan fasos juga rusak, bagaimana mencari lahan kosong untuk dibangun pemukiman. Kemudian, apakah sudah  dibangun payung hukum yang bisa mendorong percepatan penanganan erupsi Gunung Sinabung.  Disisi lain, bagaimana  para siswa secara khusus melalui sistem dan skema yang ada seperti pemberian Bantuan Siswa Miskin (BSM) dan pemberian beasiswa bagi para korban gunung Sinabung, di berbagai tingkatan pendidikan (SD, SMP, SMA, dan mahasiswa). Bagaimana membantu menstimulasi para korban agar dapat bekerja atau berkreasi di tempat penampungan sementara. . Bagaimana mengalokasikan dana bantuan untuk mengatasi kerusakan-kerusakan di sektor pertanian, perkebunan, perikanan, dan sebagainya. Itulah sejumlah pertanyaan yang harus segera dirumuskan dan butuhkan solusi cepat.

Bencana Nasional
Seluruh pihak harus bertekad mencari solusi permanen dalam menangani korban bencana erupsi Gunung Sinabung sebab menurut para ahli erupsi Gunung Sinabung akan berlangsung sangat lama dan tidak menentu.  Meskipun relokasi lahan untuk korban  sedang dieksekusi, pembangunan rumah sudah terbangun, tetapi  semua itu tidak cukup untuk menangani para korban erupsi Gunung Sinabung. Perlu langkah maju  solusi yang jauh lebih nyata dengan menggunakan pola baru yang bisa menyelesaikan persoalan secara permanen, menyeluruh dan terpadu. Maka model "pencitraan"  berupa kunjungan-kunjungan  dengan memberikan  bantuan seadanya bersifat, tampaknya  sesaat tidak banyak memberi solusi.

Relokasi penduduk yang nyata-nyata tidak boleh kembali di radius 30 kilometer merupakan langkah baik tetapi belum menjadi solusi menyeluruh. Jauh dari hal tersebut, masyarakat butuh  lahan pertanian , butuh makan, butuh minum, butuh sandang, butuhn sekolah, butuh ibadah, butuh semuanya minimal kebutuhan primer dan sekunder. Penambahan jumlah rumah yang dibangun bagi warga yang  direlokasi  harus diimbangi juga dengan  pemberian lahan yang tidak jauh dari letaknya  tempat tinggal, sebab pemerintah tidak bisa hanya menyediakan rumah saja tanpa lahan bagi para korban.

Erupsi Gunung Sinabung yang terus-menerus sudah sangat menyengsarakan masyarakat di sekitarnya. Berbagai pihak, termasuk pemerintah sudah memberikan bantuan untuk meringankan derita korban erupsi Sinabung.  Namun tuntutan beberapa pihak menjadikan bencana Sinabung sebagai bencana nasional, boleh jadi merupakan solusi permanen. Jika itu terjadi, Status bencana Sinabung secara otomatis sudah menjadi bencana nasional yang perlu ditangani dengan sigap.  Jika sudah dalam pengawasan penuh nasional, berarti anggaran semua dari pusat.  Kunjungan Presiden Jokowi diawal pemerintahannya  ke Sinabung  sejatinya diimbangi dengan implementasi serius dari Pusat.(r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru