Fakta bahwa Danau Toba dikelilingi oleh tujuh kabupaten, namun hingga saat ini belum ada masterplan pengembangan Danau Toba sebagai destinasi wisata yang melibatkan ketujuh kabupaten. Dengan kata lain hingga saat ini belum ada perencanaan komprehensif dan terintegrasi yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi bersama pemerintah di tujuh kabupaten untuk menjadikan Danau Toba sebagai aset yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Walaupun saat ini pemerintah telah melakukan upaya-upaya untuk menjual kekayaan alam yang dimiliki Danau Toba ke masyarakat luar, tetapi sifatnya masih sektoral dan terkesan seolah-olah berjalan sendiri-sendiri.
Dalam hal ini, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara telah berupaya untuk "menjual" Danau Toba ke berbagai pihak untuk menarik minat investor mengelola kawasan tersebut. Bahkan Pemerintah Sumatera Utara dan organisasi masyarakat telah mengusulkan Danau Toba sebagai Geopark (Taman Bumi) Kaldera dan Pusat Kebudayaan Bangso Batak ke UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Culture Organization), walaupun upaya tersebut belum membuahkan hasil sebagimana yang kita harapkan. Menanggapi usulan tim Pemerintah Sumatera Utara tersebut, pihak UNESCO meminta untuk menunggu dan mempersiapkan berbagai hal dalam menjadikan Danau Toba sebagai taman Bumi Dunia. Dan jika Danau Toba menjadi Taman Bumi Dunia, maka akan terjadi added value yang sangat luar biasa dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat Sumatera Utara khususnya masyarakat sekitar Danau Toba termasuk Pematangsiantar (news.detik.com).
Fenomena sebagaimana diuraikan penulis di atas merupakan sesuatu yang menggelitik pemerintah pusat, khususnya Presiden Joko Widodo, mengenai kehidupan masyarakat Batak, umumnya masyarakat Sumatera Utara dengan Danau Tobanya. Moral obligation presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan terus bergelora untuk melahirkan Tapanuli Baru bersama Danau Toba melalui "Badan Otorita" yang kelak diharapkan mampu mendorong perubahan landscape ekonomi masyarakat Sumatera Utara. Kebijakan Presiden RI merupakan kebijakan politik yang sangat dahsyat dan luar biasa harus disambut dan diapresiasi seluruh masyarakat Sumatera Utara, khususnya orang Batak, untuk ikut mengambil bagian dari landscape dan turbulensi kehidupan masyarakat ekonomi ASEAN melalui potensi Danau Toba kedepan. Harapan Presiden, masyarakat Batak harus menjadi tuan di rumah sendiri bahkan dapat ikut serta dalam pusaran landscape dan turbelensi kehidupan global yang terus bergerak menuju kesempurnaan.
BERBASIS LOCAL WISDOM
Sejalan dengan penulis uraikan di atas, dalam mewujudkan Tapanuli Baru melalui Danau Toba sebagai pengungkit kehidupan sosial ekomoni masyarakat Batak yang lebih baik, umumnya masyarakat Sumatera Utara. Berbagai langkah dan upaya strategis harus dilakukan secara holistik, integral dan komprehensif, ditinjau dari berbagai aspek, terutama geopolitik dan geostrategi yang muaranya ditujukan pada kepentingan nasional serta kepentingan rakyat banyak dengan beberapa pertimbangan antara lain:
1. Pengembangan wisata harus melestarikan budaya
Penduduk yang bermukim di kawasan Danau Toba tersebar di tujuh kabupaten dengan adat istiadat yang tidak jauh berbeda, semuanya masuk dalam satu rumpun yaitu Batak. Namun demikian karakteristik budaya dan adat istiadat dari masyarakat tersebut terus dilestarikan sebagai produk unggulan dari masing-masing daerah tersebut sebagai keragaman budaya yang akan menjadi daya tarik bagi para wisatawan domestik maupun internasional, bahkan dapat dijadikan sebagai wilayah penelitian. Di samping itu pertumbuhan penduduk dan kecenderungan persebarannya ditinjau dari aspek sosial dan ekonomi. Kecenderungan tersebut sama dengan kecenderungan para pemuda saat ini yang ingin tinggal di kota. Hal tersebut merupakan pekerjaan rumah para pengelola ke depan agar implikasi dari Danau Toba sebagai destinasi wisata internasional tetap memperhatikan ketersediaan pangan (food resilience) maupun jasa. Oleh karena itu, pertumbuhan penduduk dan distribusi proyeksi penduduk dan kemungkinan-kemungkinan lainnya harus diperhatikan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang optimal dan terdistribusi secara merata.
Tanah bagi orang Batak adalah harta yang tak ternilai harganya sebab tanah bagi orang Batak adalah tanah hatubuan (asal), dan kalau tanah hatubuan hilang, maka hilanglah identitas dan komunitasnya. Oleh karena itu, berbagai nilai yang terkandung dalam kehidupan sosial dan budaya yang sekarang dipegang teguh oleh masyarakat Batak harus menjadi acuan utama pada masa mendatang. Karakteristik orang Batak yang terbuka dan berpikir logik dan rasional merupakan jalan yang sangat mudah untuk mengajak seluruh masyarakat di sekitar Danau Toba untuk ikut serta dan merasa memiliki akan rencana pembangunan Danau Toba sebagai destinasi wisata Internasional. Persoalan yang mendasar menurut penulis adalah pada tataran birokrasi yang masih dalam kecenderungan berperilaku konvensional dan koruptif, yang membuat persyaratan administrasi segudang dalam berbagai perizinan atau hal-hal yang menyangkut administrasi publik. Sebab, sampai saat ini pelayanan publik yang murah, mudah dan cepat merupakan hal yang masih langka kita temukan di Sumatera Utara.
Adat dan istiadat masyarakat sekitar Danau Toba yang secara umum dibangun atas dasar klien "marga" Batak Toba dengan "Dalihan Na Tolu", Batak Simalungun dengan "Sisadapur", Batak Karo dengan "Merga Silima, Tutur Siwaluh, Daliken Sitelu atau Rakut Sitelu" dan Batak Pakpak dengan "Sulang Silima", semuanya dirajut atas dasar geneologis (keturunan, keluarga sedarah). Hal ini harus dijaga dan dilestarikan, jangan sampai dalam pengembangan Danau Toba sebagai Monaco Asia, masyarakat tercabut dari akar budayanya.
Pola dan struktur pemukiman penduduk melalui Huta, Luat maupun Bius dan pemukiman memanjang, mengikuti jalan raya merupakan cerminan dari budaya Batak, harus menjadi perhatian serius dan dijaga kelestariannya serta eksistensinya. Huta, Luat dan Bius terkandung di dalamnya nilai sosial yang sarat makna, yang interaksi sosial kehidupan masyarakat dibangun atas adat dan istiadat Batak melalui marga, sapanganan atau sabutuha. Pergeseran eksistensi "Bona Pasogit" atau "Bona ni Pinasa" akan menjadi pemukiman modern atau real state atau perumahan mewah membutuhkan kajian khusus, sebab pola pemukiman ini merupakan produk budaya yang memiliki nilai historis dalam proses perjalanan peradaban Batak menuju kesempurnaan.
Masyarakat Batak di sekitar Danau Toba memiliki konsep interaksi inter-dependensi yaitu hubungan saling ketergantungan/memengaruhi dengan perbedaan kondisi desa dengan desa, baik satu kecamatan maupun antar kecamatan serta antar kecamatan dan kota, maupun sebaliknya antar kabupaten dan kota, adalah suatu hal yang tidak dapat diabaikan dalam pengembangan daerah. Oleh karena itu, penataan keruangan sebaiknya meliputi faktor lokasi, faktor letak distribusi, dan letak tanah berdasarkan kesuburan dan lokasi yang strategis. Sedangkan pendekatan lingkungan, yaitu antar relasi mahluk hidup dan lingkungannya, antara komponen fisik dan non fisik, serta pendekatan ekologi yaitu melihat perubahan komponen biotik dan abiotik seperti pengunungan dan pembukitan yang ditumbuhi kayu khususnya kayu pinus yang merupakan komoditi yang merangsang untuk dieksploitasi.
Interaksi sosial masyarakat dengan masyarakat pendatang khususnya investor serta hubungannya dengan kerjasama luar negeri, semua harus ditafsirkan atas dasar kepentingan yang lebih luas khususnya masyarakat bawah seperti petani dan pedagang kecil. Berbagai kebijakan yang mendapat resistensi dari masyarakat setempat harus ditemukan solusi dalam kerangka kepentingan masyarakat dan kepentingan nasional, sesuai dengan pendekatan komponen alat atau parameter yang ditentukan dalam mewujudkan Danau Toba sebagai destinasi wisata internasional, baik pendekatan sistem, terutama pendekatan sosial ekonomi masyarakat kecil. Politik pemerintah dalam berbagai kebijakan khususnya dalam membuat peraturan dan perundang-undangan semuanya bermuara dalam rangka melindungi masyarakat adat dan rakyat banyak.
Oleh karena itu, dalam pengembangan Danau Toba mesti merefleksikan budaya luhur yang dipegang turun temurun masyarakat Batak, di mana budaya masyarakat Batak sangat dipengaruhi oleh anasir-anasir religious. Kegiatan pariwisata tidak boleh mengesampingkan ritual-ritual keagamaan yang menjadi pegangan hidup orang Batak, khususnya 25 Desember sebagai Hari Raya Natal, 1 Januari Tahun Baru, Jumat Agung dan Paskah, merupakan hari-hari istimewa yang harus dijaga keagungannya sebagaimana Hari Raya Nyepi di masyarakat Hindu di Bali.
2. Pengembangan Wisata dan Sektor Pertanian
Daerah sekitar Danau Toba bukanlah hamparan luas yang datar akan tetapi merupakan perbukitan, pegunungan, lembah dan daratan yang terbatas. Hal ini harus mendapatkan perhatian khusus, sebab pada umumnya akitifitas masyarakat Batak hidup dari sektor pertanian dengan skala keluarga, fungsi dan tanah memiliki nilai sosial yang merupakan sumber dan ruang hidup.
Pembangunan Tapanuli Baru bersama Danau Toba harus diarahkan pada ekonomi rakyat sebagaimana dikatakan Mubyarto; sebab benang merah dari sistem ekonomi Pancasila adalah sebuah sistem ekonomi yang tidak meninggalkan pentingnya persaingan, namun juga tidak mengabaikan tujuan perwujudan keadilan sosial. Secara khusus dalam konteks pembangunan ekonomi Indonesia ke arah pembangunan sistem ekonomi Pancasila, tidak sekedar upaya membangun kekuatan ekonomi raksasa seperti Korea Selatan, melainkan juga mengembangkan ekonomi rakyat, yaitu para pelaku ekonomi kecil. Artinya bagaimana masyarakat sekitar Danau Toba terutama kepada individu-individu, rumah tangga sebagai pelaku ekonomi kecil, mampu ikut serta dalam landscape dan tubelensi dari pembangunan Danau Toba, baik sejak proses pembangunan maupun pasca pembangunan, bahkan mereka dapat berperan dalam membuat keputusan untuk mendistribusikan sumber daya yang dimilikinya dari permintaan komoditi bahkan bisa memengaruhi pasokan, baik harga maupun hasil dari seluruh permintaan baik barang maupun jasa.
3. Perhatian terhadap Pelaku Industri Kecil
Sumber Kekayaan Alam daerah sekitar Danau Toba memiliki potensi yang tidak jauh berbeda antara satu kabupaten dengan kabupaten lainnya, secara umum memiliki karakteristik yang sama kecuali Kabupaten Simalungun dan Karo. Arah politik ekonomi dalam mengoptimalkan Sumber Kekayaan Alam sekitar Danau Toba, harus dijaga sebab pengembangan Danau Toba adalah pengembangan Wisata yang didasari atas geografi. Hal ini merupakan prasyarat yang sangat urgent untuk diperhatikan dari implikasi pembangunan dan pemanfaatan sumber kekayaan alam sekitar Danau Toba, baik hutan, tambang dan air. Dipastikan, implikasi perwujudan Tapanuli Baru bersama Danau Toba tidak akan mengganggu ekosistem. Sumber kekayaan alam harus benar-benar dikelola dengan baik agar terus berkelanjutan (sustainable production activity). Semua kebijakan harus dikaji secara paripurna, komprehensif dan integral dengan melibatkan para ahli, khususnya para ahli dari USU, Unimed, UNITA, DEL, Unversitas HKBP Nommensen, dan perguruan tinggi lainnya, khususnya para ahli profesional di bidang pariwisata dan planologi.
(h)