Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 29 April 2026

Kapolri Baru Harus Berani Menggebrak

* Oleh Ramen Antonov Purba
- Jumat, 24 Juni 2016 14:33 WIB
800 view
Kapolri Baru Harus Berani Menggebrak
Munculnya nama Komjen Tito Karnavian alumnus Akademi Kepolisian angkatan 1987 sebagai calon tunggal Kapolri membuat banyak pihak "terkejut". Kenapa tidak, Tito melompati perwira yang lebih senior, seperti Irwasum Komjen Pol Dwi Priyatno (82), Wakapolri Komjen Pol Budi Gunawan (83) dan Kepala BNN Komjen Pol Budi Waseso. Senioritas dikalahkan oleh hak prerogatif Presiden. Presiden sepertinya sudah memikirkan secara matang terkait dengan pilihannya. Komjen Tito Karnavian memang figur yang penuh dengan prestasi. Komjen Tito juga bukan polisi partisan. Netral, tidak punya keberpihakan kepada partai politik tertentu. Tentunya figur yang sangat tepat sebagai pengganti Jenderal Badrodin untuk memimpin Tribrata I.

Sebelumnya banyak pihak  meyakini jika Presiden akan memilih di antara Komjen Pol Budi Gunawan dan Komjen Pol Budi Waseso. Apalagi Komjen Pol Budi Gunawan sebelumnya kandidat kuat Kapolri yang akhirnya menjadi Wakapolri. Komjen Pol Budi Waseso juga memiliki segudang prestasi membanggakan di BNN. Tetapi Presiden ingin mencari figur yang berbeda, tegas, berani, dan cerdas. Presiden juga menginginkan Kapolri yang mendukung pemberantasan korupsi, terorisme, kriminal dan memberantas mafia peradilan di Indonesia. Bisa jadi semua yang dibutuhkan ada dalam sosok Tito Karnavian. Mengingat pengalaman Tito Karnavian yang sudah pernah menjadi Kepala Datasemen 88 Antiteror Polri, Kapolda Metro Jaya dan Kepala Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Dengan beragam tanggungjawab yang sudah dilalui, tentunya sangat diharapkan gebrakan-gebrakan yang luar biasa dari seorang Komjen Pol Tito Karnavian.

Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S Pane mengatakan, ada 265 jenderal di kepolisian, namun Jokowi hanya mengenal Tito. Pernyataan tersebut diungkapkan Neta karena lompatan Tito yang kelewat jauh. Ada ketakutan akan terjadi guncangan dalam internal Polri yang sebelumnya sangat kental dengan tradisi senioran. Di sini kedewasaan Tito akan teruji. Bagaimana dia akan melakukan konsolidasi agar semua kalangan di tubuh Polri dapat dengan legowo mendukung kepemimpinannya. Keputusan Presiden juga akan teruji, apakah Tito memang layak, atau belum saatnya untuk muncul. Kita akan melihat hal tersebut dari kinerja yang diperlihatkan oleh Komjen Tito, jika kelak DPR merestui penunjukannya sebagai Kapolri dan dilantik oleh Presiden.

Reformasi Internal
Polri disebut sebagai pengayom masyarakat. Namun sejumlah survey mengatakan jika Polri juga merupakan salah satu lembaga korup di Indonesia. Terbukti dengan tertangkapnya beberapa petinggi Polri yang terkena kasus korupsi. Sebut saja kasus simulator SIM yang melibatkan Djoko Susilo. Sering pula kita mendengar ada anggota Polri yang menjadi backing dari kegiatan melanggar hukum. Tak jarang ada anggota Polri yang melakukan penangkapan di jalan dengan dalih razia. Kondisi ini menjadikan citra Polri sebagai pengayom menjadi ternoda. Ini merupakan tugas pertama yang kelak harus dibenahi oleh Kapolri yang baru. Citra Polri sebagai pengayom harus benar-benar diperlihatkan dengan bukti dan karya nyata. Tito harus tegas menghantam praktek uang di tubuh Polri.

Polri sebagai lembaga pengamanan dan hukum harus bebas dari korupsi. Mereka yang bertindak tak terpuji harus segera ditindak tegas. Tubuh Polri harus direformasi total agar mereka-mereka yang nakal dan menyalahgunakan kekuasaannya tidak ada lagi. Masyarakat banyak menyoroti kalangan reserse dan lantas, yang kian hedonis. Polisi hanya fokus memperkaya diri dan mengesampingkan tugas utamanya sebagai pelayan masyarakat dan penegak hukum. Kita tentunya menanti gebrakan Tito jika kelak diberikan mandat sebagai Kapolri. Mental anggota Polri harus diubah, agar jangan hanya cinta uang, namun juga cinta bangsa dan negara.

Reformasi total sesegera mungkin kita harapkan benar-benar akan diwujudnyatakan dalam tindakan. Jika memang mutasi menjadi salah satu jalan, maka harus dilaksanakan. Reformasi birokrasi, mentalitas pelayanan masyarakat yang lebih baik, menekan budaya korupsi dan pelanggaran-pelanggaran anggota harus sesegera mungkin dilaksanakan. Polri jangan sampai kehilangan wibawa karena ulah segelintir anggotanya yang tak bertanggungjawab. Wibawa Polri harus tetap dijaga dengan kinerja yang baik dan profesional.

Bekerjasama
Bagaimanapun hebatnya Tito tak akan mampu jika bekerja sendiri. Tito juga membutuhkan jajaran yang profesional, bersih, tegas, dan bertanggungjawab. Inilah tugas pertama Tito guna mencari tim kerja untuk menjadikan Polri lebih baik lagi. Tentunya tim kerja harus yang memiliki visi yang sama dengan Tito untuk mengembalikan wibawa Polri yang bisa jadi telah terkikis. Di sini juga perlu ketegasan dari seorang Tito. Tito harus berani untuk memilih tim yang memang benar-benar berkualitas dan profesional. Jangan hanya karena segan dengan senioritas, kualitas dilupakan. Jika memang berkualitas silahkan diajak bergabung, jika memang tak berkualitas tak perlu sungkan untuk tak memakai.

Selain itu, banyak juga oknum-oknum di tubuh Polri yang melakukan tindakan tak terpuji. Tito juga jangan sungkan untuk menindak atau memberhentikan oknum demikian. Tujuannya agar jangan sampai ada duri dalam daging, yang kerjaannya hanya bisa merusak, menodai, dan merusak citra Polri. Polri harus solid dalam kebenaran, jangan hanya solid karena ada keburukan yang ingin ditutup-tutupi. Tugas berat sudah menanti didepan mata. Korupsi, Narkoba, dan Terorisme sudah menanti untuk diberantas. Indonesia harus diamankan dari semua pelaku teror dan pengedar narkoba, begitu juga dengan para perampok uang rakyat. Indonesia harus segera dibebaskan dari segala kedaruratannya.

Kita tentunya menantikan kinerja yang maksimal dari Kapolri ke depan. Kita juga mendukung pilihan tunggal dari Presiden. Dengan harapan Indonesia akan lebih baik dan lebih aman. Rakyat sudah letih dengan tarik ulur. Rakyat sudah lelah dengan teror. Rakyat sudah lelah dengan penyalahgunaan kekuasaan. Rakyat sudah lelah dengan peredaran narkoba yang kian merajalela. Kita berharap Tito Karnavian dapat menjawab semua keinginan dan harapan banyak pihak. Kita meyakini Tito merupakan Kapolri yang tegak lurus. Sejalan antara ketegasan dan tindakannya.
Sejalan antara pemikiran dengan prinsipnya. Kita menanti Tito akan segera dilantik menjadi Kapolri dengan dukungan penuh DPR sebagai sosok top yang pas memimpin di Trunojoyo 1.(Penulis Pemerhati Masalah Sosial dan Kemasyarakatan, Staf UPT Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Unggul LP3M Medan/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru