Ada pertanyaan, bagaimana kalau Nommensen tercatat sebagai yang paling berjasa memperkenalkan peradaban baru iman Kristen dan budaya tulis baca ke sebagian besar masyarakat di kawasan Danau Toba, siapa kira-kira yang dapat diandalkan mentransformasi daerah ini berselancar di gelombang peradaban informasi?
Sejarah mencatat Nommensen seorang pendeta Jerman mendarat di Tano Batak pada tahun 1862. Dia tercatat sebagai salah satu tokoh yang paling berjasa memperkenalkan peradaban baru bagi etnis Batak penghuni kawasan Danau Toba. Dia berjasa bukan hanya berhasil memperkenalkan barita nauli iman Kristen (Injil), tapi juga menjadi penyumbang utama etnis Batak - Dr Mauliate Simorangkir MSi dalam artikelnya di SIB (13/6/2016) menyebutnya bangso Batak - menjadi setara dengan etnis Jawa, Sunda, Minangkabau dalam perjuangan turut melahirkan Sumpah Pemuda (Amir Sjarifuddin Harahap), menegakkan kemerdekaan (Jenderal TB Simatupang) dan membangun NKRI.
Jika Nommensen tercatat sebagai tokoh yang membawa peradaban baru iman Kristen dan budaya tulis baca, yang memicu tumbuhnya konsep anakkon hi do hamoraon di ahu (anakku adalah kekayaan bagiku) - di kalangan masyarakat Batak, adakah kemungkinan Luhut B Panjaitan, yang telah mendirikan Institut Teknologi Del di Laguboti akan tercatat menjadi pioner pembawa peradaban informasi bagi Sumatera Utara? Mencermati kebolehan Luhut B Panjaitan, maka kemungkinan itu besar.
Posisi Luhut B Panjaitan baik sebagai Menko Polhukam maupun sebagai pendiri dan pemilik Institut Teknologi Del Laguboti cukup strategis. Political will dan dukungannya semakin memungkinkan penggunaan teknologi informasi kondusif untuk diimplementasikan. Gubernur Ahok diketahui sedang mengoperasikan berbagai aplikasi teknologi informasi. Untuk memulai misalnya beberapa aplikasi teknologi informasi di kawasan Danau Toba tidak dapat diharapkan prakarsa itu akan muncul dari kalangan pemerintahan daerah (bottom up). Tapi, dengan pendekatan Menko Polhukam Luhut B Panjaitan kepada Mendagri Tjahjo Kumolo dan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Marwan Jafar, kebijakan pemerintahan daerah untuk mengimplementasikan dua kebijakan aplikasi teknologi informasi berikut sangat mungkin untuk diberlakukan dan dioperasikan segera.
Pertama, menyusun APBD masing-masing tujuh kabupaten kawasan Danau Toba dengan menggunakan e-budgeting. Gubernur Ahok mengaku penerapan sistem e-budgeting pada tahun 2014 sempat ditolak. Namun, untuk mencegah APBD dari kebocoran, Ahok kemudian menempatkan Larso Marbun menyusun APBD dengan menerapkan sistem e-budgeting. Dia berhasil memotong Rp 3 triliun anggaran siluman.
Terobosan penyusunan perencanaan anggaran dengan e-budgeting di Provinsi DKI Jakarta diapresiasi oleh pemerintah pusat dengan penganugerahan empat penghargaan. Di Istana Negara (10/5/2016) dalam Anugerah Pangripta Nusantara 2016 yang digelar oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Gubernur DKI Jakarta Ahok menerima 4 penghargaan (1) Terbaik I kategori Provinsi dengan Perencanaan Terbaik, (2) Terbaik I kategori Provinsi dengan Perencanaan Inovatif, (3) Terbaik I kategori Pencapaian Indikator MDG Terbaik 2013 - 2015, dan (4) Terbaik I kategori Pencapaian MDG Tertinggi Tahun 2015.
Menurut Gubernur Ahok, keunggulan programnya karena Pemprov DKI Jakarta selain telah menerapkan sistem e-budgeting, juga menerapkan Musrenbang secara elektronik. Dengan sistem perencanaan yang dibangun seperti itu, penggunaan anggaran menjadi lebih transparan dan akuntabel. Anggaran siluman (mark up) cepat terdeteksi, kebocoran dapat segera dicegah.
Masihkah penerapan sistem e-budgeting di 7 kabupaten kawasan Danau Toba harus diperdebatkan dan ditunda? Presiden Jokowi dan Menko Maritim Rizal Ramli saja sudah sedemikian perduli untuk memajukan dan menyejahterakan rakyat di wilayah Danau Toba, maka tidak ada lagi alasan bagi 7 Pemkab tersebut untuk tidak menerapkan sistem teknologi informasi itu.
Kedua, dengan bantuan aplikasi Clue membangun Smart Desa. Di Jakarta Gubernur Ahok sedang menjalankan program menjadikan kotanya sebagai Smart City. Pemprov DKI Jakarta memberlakukan peraturan yang mewajibkan 2700 Rukun Warga (RW) dan 30.000 Rukun Tetangga (RT) tiap hari melaporkan kondisi lingkungannya masing-masing dengan bantuan aplikasi Clue. Kondisi lingkungan yang dilaporkan itu bersumber dari keluhan warga misalnya tentang listrik mati, air tidak jalan, jalan rusak, sampah numpuk, pelayanan Puskesmas buruk, preman mengganggu dan lain - lainnya. Laporan RW dan RT tersebut menjadi bahan masukan bagi lurah, camat, SKPD, untuk melakukan penanggulangan secepat mungkin. Dengan sistem itu tupoksi masing-masing unit organisasi pemerintahan untuk melayani kepentingan masyarakat berjalan lebih baik. Manfaat lain, Gubernur Ahok dapat menilai lebih objektif pejabat-pejabat mana yang paling perform melaksanakan tupoksinya.
Apakah sudah mendesak sekitar 1540 kepala desa di 7 kabupaten wilayah Danau Toba memerlukan bantuan aplikasi Clue dalam mengelola anggaran dana desa yang diterimanya? Jawabannya tergantung kepada apa sebenarnya tujuan ketersediaan dana desa sekitar Rp 770 miliar tersebut. Jika dana itu dianggap sebagai sekadar dana bancakan untuk kepala desa, lurah, camat dan aparat terkait lainnya - seperti nasib dana Bansos yang menjadi dana "sapi perahan" bagi sebagian pejabat Pemprov Sumut dan pimpinan serta anggota DPRDnya - maka penggunaan sistem aplikasi Clue itu belum dibutuhkan. Akan tetapi agar dana tersebut digunakan sesuai petunjuk Presiden Jokowi yakni untuk memampukan kemajuan dan kesejahteraan warga desa, maka penerapan sistem aplikasi Clue itu - tentu saja dengan bantuan Institut Teknologi Del - menjadi suatu kebutuhan.
Supaya penggunaan dana desa itu tidak diselewengkan, dan sejalan dengan kemajuan teknologi informasi, kurang lebih 1540 kepala desa tersebut tertantang untuk memelopori pembangunan "Desa Smart". Dalam implementasinya desa-desa tersebut wajib (1) melaporkan perencanaan penggunaan dana desa Rp 500 juta itu, dan (2) secara periodik melaporkan penggunaannya bukan saja kepada atasan terkait, tapi juga kepada publik dengan bantuan aplikasi Clue. Dengan pemberlakuan kebijakan seperti itu diperkirakan penggunaan dana desa akan efektif memberi manfaat sebesar-besarnya bagi kemajuan dan kesejahteraan warga desa.
Karena penerapan sistem tersebut memerlukan aliran listrik, program pembangunan Desa Smart ini juga akan mendorong terwujudnya isu strategis ke-6 yang dihasilkan Musrenbang tertanggal 8 Maret 2016 yang mengamanatkan "Peningkatan ketersediaan energi di kawasan dataran tinggi melalui pengembangan energi listrik dengan mengembangkan potensi minihydro power, energi panas bumi di kawasan dataran tinggi Danau Toba."
Apa maksud dan tujuan Luhut B Pandjaitan mendirikan Institut Teknologi Del di Laguboti? Untuk melakukan brain drain agar putera - puteri Batak yang berbakat setelah lulus perguruan tersebut meninggalkan bona pasogit lalu mencari hagabeon, hamoraon dan hasangapon di luar kawasan Danau Toba?
Kehadiran Institut Teknologi Del di Laguboti adalah sungguh - sungguh peluang besar untuk memajukan bukan hanya wilayah Danau Toba dan Sumatera Utara, tapi juga Indonesia. Dengan memanfaatkan kebolehan Institut Teknologi Del, dan dengan strategi "to get things done through others", Luhut B Pandjaitan berpeluang menjadi pelopor bertumbuh kembangnya peradaban informasi di wilayah Danau Toba, Sumatera Utara, juga Indonesia.
Atas kerjasama Menteri Luhut B Pandjaitan dengan Menteri Tjahjo Kumolo dan Menteri Marwan Jafar tentu saja dengan restu Presiden Jokowi, Institut Teknologi Del dapat ditugasi untuk membantu pertama, menyusun APBD masing - masing tujuh Pemkab kawasan Danau Toba dengan menggunakan e-budgeting. Kedua, membangun desa - desa di wilayah - wilayah Danau Toba menjadi Desa Smart dengan bantuan aplikasi Clue.
Ketiga, terwujudnya Laguboti menjadi Bengalore of Indonesia. Dalam hubungan menumbuhkembangkan peradaban informasi, penulis bermimpi mungkinkah Laguboti dikembangkan menjadi Bengalore of India? Seperti diketahui, Bengalore satu kota di India kini menjadi salah satu pusat peradaban gelombang ketiga (the Third Wave).
Wartawan Amerika Friedman dalam bukunya "The World is Flat" mengemukakan, India berhasil membangun kota Bengalore menjadi pusat kemajuan Information Technology (IT) berstandar dunia. Ribuan lulusan IT Bengalore menjadi andalan untuk memenuhi kebutuhan industri komputer Amerika. Mereka bekerja di Microsoft, Apple, Google dan lain - lainnya sebagai praktisi IT, developers, programmers, digital advisers, social media advisers.
Kebolehan lain yang ditawarkan oleh IT Bengalore kepada Amerika antara lain pertama, membantu rumah sakit Amerika. Di waktu malam, rumah sakit - rumah sakit di kabupaten (district) negara bagian Amerika hanya dijaga oleh dokter jaga malam. Namun, apabila ada pasien memerlukan operasi darurat yang tidak dapat dilakukan oleh dokter jaga, pilihannya dokter jaga dapat memanggil dokter spesialis operasi rumah sakit, atau cukup menghubungi Bengalore.
Bengalore menawarkan dokter ahlinya membimbing dokter jaga rumah sakit Amerika melakukan operasi terhadap pasien dengan bantuan Control System Video Camera.
Kedua, Bengalore juga menawarkan kemudahan bagi para pakar Amerika, yang terjadwal menjadi pembicara pada konferensi atau seminar terkait dengan bidangnya. Pakar tersebut karena waktu dan kesibukannya tidak sempat lagi mempersiapkan makalah. Pakar tersebut dapat mengirim materinya ke alamat tertentu di Bengalore dan dalam waktu tidak lama, si pakar dapat menerima makalah yang sudah diolah dalam bentuk power point.
Ketiga, sejumlah orangtua di Amerika butuh putera - puterinya mendapat les privat atau bimbingan tes misalnya tentang mata pelajaran matematika atau Bahasa Inggris. Bengalore menawarkan guru - gurunya yang berkualifikasi untuk memberi les privat tersebut via Web Camera tentu saja biayanya lebih murah ketimbang les privat itu diberikan oleh guru Amerika.
Untuk membangun IT Laguboti menjadi Bengalore of Indonesia, tentu saja dimulai dengan exercise termudah. Orangtua di kawasan Danau Toba, di Sumatera Utara bahkan di Indonesia membutuhkan ketersediaan guru - guru yang berkualifikasi untuk memberi les privat atau bimbingan tes persiapan untuk masuk Universitas Negeri bagi putera - puterinya. Universitas Sisingamangaraja XII Tapanuli (UNITA) di Desa Silangit memiliki Program Perkuliahan Pendidikan Matematika dan Bahasa Inggris. Dengan kerjasama UNITA Silangit dan Teknologi Informasi Del Laguboti melakukan exercise paling tidak dalam dua hal.
Pertama, untuk merekrut guru - guru yang berkompeten memberi les privat atau bimbingan tes persiapan masuk Universitas Negeri baik yang berada di Medan maupun di Jakarta. Kedua, menawarkan les privat atau bimbingan tes menggunakan Online System sehingga les privat atau bimbingan tes tersebut menjadi salah satu solusi untuk menjadi langkah awal dalam membangun kawasan Danau Toba berselancar di gelombang peradaban informasi.
MENGAWAL PERUBAHAN PERADABAN
Pembangunan kawasan Danau Toba menjadi Monaco of Asia dan dimanfaatkannya teknologi informasi guna percepatan kemajuan di kawasan ini perlu disikapi dengan hati-hati, arif dan bijaksana agar munculnya konflik dapat diminimalisir. Karena, fakta-fakta empiris menunjukkan, masuknya peradaban baru di kawasan ini selalu memunculkan konflik, yang biaya (cost) penyelesaiannya cukup mahal.
Misalnya, ketika dua pendeta Amerika Serikat Munson dan Lyman dikirim oleh American Board of Comissioners for Foreign Mission (ABCFM) Boston dan berlabuh di Sibolga pada 17 Juni 1834, kedatangan mereka tidak diterima. Dalam perjalanan mereka menuju Silindung untuk menyebarkan barita nauli iman Kristen, ketika tiba di sekitar Lobu Pining mereka ditangkap. Pada 28 Juni 1834 atas putusan pemuka adat dan rakyat pendukungnya, Munson dan Lyman dibunuh.
Sadarkah masyarakat Batak penghuni kawasan Danau Toba, seandainya Munson dan Lyman tidak dibunuh, maka masyarakat Batak di kawasan Danau Toba semestinya berpeluang lebih maju 28 tahun. Mengapa demikian? Karena, barulah pada tahun 1862 pendeta Ingwer Ludwig Nommensen yang diutus oleh Lutheran Rheinische Missionsgesellschaft (RGM) Jerman menapakkan kaki di tano Batak (Salib Kasih dalam buku "Otobiografi Lundu Panjaitan, SH" ) dan diterima baik memulai karya besarnya memperkenalkan peradaban baru yakni iman Kristen dan budaya tulis baca.
Kemudian, menurut temuan saya, Sukanto Tanoto tercatat sebagai pengusaha pertama dengan menginvestasi ratusan juta dolar AS mempekenalkan industri berstandar internasional ke tano Batak khususnya kawasan Danau Toba. Hal itu ditandai oleh mulainya PT Indorayon Inti Utama (PT IIU) memproduksi bubur kertas (pulp) dan serat rayon di Desa Sosor Ladang, Pamaksian, Porsea, Toba Samosir pada 1 April 1989.
Seperti apa yang telah di-warning oleh Alvin Toffler dalam bukunya "Culture Shock", beroperasinya industri kertas dan rayon milik Sukanto Tanoto tersebut juga menimbulkan kejutan budaya (culture shock). Kenyamanan rakyat yang berbudaya tradisional dan heavy berperadaban subsistens dikejutkan oleh masuknya hingar - bingar gelombang peradaban industri.
Muncul perlawanan. Paradoksnya, kalau pada tahun 1834 pemuka adat dan rakyat pendukungnya yang membunuh embrio kelahiran peradaban baru iman Kristen dan budaya tulis baca, kini di era tahun-tahun pertama gerakan reformasi justru sejumlah pemuka intelektual bergelar profesor yang bergiat di Jakarta, Bandung dan Medan berhasil mempengaruhi Presiden Habibie untuk menghentikan beroperasinya pabrik PT Indorayon Inti Utama. Mereka dan sejumlah pendukungnya mendesak Presiden Habibie untuk mengeluarkan Keppres yang melarang beroperasinya industri di kawasan Danau Toba.
Akan tetapi, atas perlawanan sejumlah aktivis yang berhimpun dalam Yayasan Permata, dengan tema perjuangan : "Menerbitkan Keppres yang melarang beroperasinya industri di kawasan Danau Toba berarti mempertahankan peta kemiskinan di Tano Batak "- draf Keppres tersebut batal ditandatangani oleh Presiden Habibie. Tidak lama kemudian, di era pemerintahan Presiden Megawati, Pemerintah memutuskan PT Toba Pulp Lestari Tbk (20 Februari 2001) melanjutkan usahanya dengan ketentuan hanya memproduksi bubur kertas (pulp).
Akankah masuknya industri pariwisata berskala internasional dan diaplikasikannya teknologi informasi dalam penyelenggaraan pemerintahan di kawasan Danau Toba akan kembali mengundang konflik dan resistensi seperti pernah dialami sebelumnya? Sepertinya, resistensi besar diperkirakan tidak akan muncul. Pertama, keterlibatan Presiden Jokowi, Menko Maritim Rizal Ramli dan Menko Polhukam Jenderal TNI (Purn) Luhut B Panjaitan dalam transformasi kawasan Danau Toba menyongsong peradaban baru menjadi faktor kunci keberhasilan. Kedua, hasil penelitian pada Mei 2016 yang dilakukan oleh Universitas Sisingamangaraja XII Tapanuli (UNITA) dan RE Foundation terhadap masyarakat di 7 kabupaten sekitar Danau Toba menyatakan 97 persen masyarakat setuju dibentuknya Otoritas Danau Toba.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan, masuknya industri pariwisata berskala internasional, juga dikucurkannya dana sebesar kurang lebih Rp 770 miliar per tahun untuk membangun desa dan beroperasinya Institut Teknologi Del di Laguboti memproyeksikan harapan, bahwa pembangunan dengan strategi mengindustrikan dan menggunakan teknologi informasi diperkirakan akan efektif mengakselerasi kemajuan dan kesejahteraan kawasan Danau Toba.
Akan tetapi, sebagaimana diingatkan oleh Alfin Toffler, bahwa perubahan dari masyarakat yang masih bergelombang peradaban subsistens menuju gelombang berperadaban industri dan gelombang berperadaban informasi mengundang krisis dan resistensi dari berbagai kalangan. Misalnya, masyarakat yang masih berpola pikir dan pola tindak tradisional, dan para pejabat yang masih butuh korupsi, serta mafia-mafia pendukungnya diprediksi masih berpotensi menimbulkan hambatan.
Mengantisipasi persoalan potensial tersebut media massa yang salah satu fungsinya adalah mengedukasi bangsa diharapkan turut aktif mengawal pembangunan kawasan Danau Toba efektif mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi menuju terwujudnya percepatan kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. Surat kabar "Sinar Indonesia Baru" media yang paling unggul dalam persebaran di kawasan ini, diharapkan terus komit atas terwujudnya cita-cita Bapak GM Panggabean almarhum, bahwa maju dan sejahteranya kawasan Danau Toba adalah untuk mengkontribusi kemajuan dan kesejahteraan Sumatera Utara demi kejayaan Indonesia. (f)