Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 29 April 2026

Menjelang Akhir Masa Kampanye Pilkada DKI

* Oleh Panca Hari Prabowo
- Sabtu, 11 Februari 2017 17:16 WIB
484 view
Proses Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta pada akhir pekan ini akan memasuki ujung masa kampanye yang berjalan hampir tiga bulan sejak Desember 2016.

Perhatian masyarakat, khususnya yang tinggal di Ibu Kota, tersedot oleh aktivitas yang dilakukan para pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang akan bertarung pada 15 Februari mendatang.

Jumat pekan ini, akhir masa kampanye akan ditandai dengan debat putaran ketiga para kontestan Pilkada Jakarta itu.

Salah satu perkembangan yang menggembirakan dari hiruk pikuk kampanye Pilkada, khususnya di DKI Jakarta adalah bagaimana konstituen bisa mengakses informasi apapun terkait program maupun rencana kerja para pasangan calon.

Saluran komunikasi yang sedemikian banyak, meski tak sedikit justru memberi efek negatif, juga memberikan dampak pada masyarakat untuk lebih mengetahui sosok pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta sekaligus juga mencermati sepak terjang mereka selama kampanye.

Pemerhati politik dari Universitas Nasional Mohammad Hailuki mengatakan dengan kondisi ini maka setidaknya pemilih pemula di Pilkada kali ini tak lagi apatis saat menjatuhkan pilihannya di tempat pemungutan suara pada 15 Februari mendatang.

Jumlah pemilih pemula dalam Pilkada DKI 2017, menurut KPU DKI Jakarta sebanyak 5 persen dari 7 juta pemilih. Selain itu masih menurut KPU, 10 persen dari 7 juta itu juga pemilih pemuda.

"Pemilih pemula adalah mereka yang baru pertama kali memiliki hak pilih pada tahun ini berjumlah sekira 350.000 pemilih, sedangkan pemilih pemuda adalah mereka yang berada dalam rentang usia 17-21 tahun berjumlah sekira 700.000 pemilih," kata Luki.

Ia memaparkan, kecenderungan pemilih pemula dan pemuda di negara berkembang di masa lalu memiliki orientasi politik yang apatis.

Menurut pakar politik dari Amerika Serikat Gabriel Almond proses pembentukan orientasi politik individu atau masyarakat terlihat dari sarana sosialisasi politik yang mempengaruhinya.

Ada enam sarana sosialisasi politik, yaitu keluarga, sekolah, kelompok pergaulan, media massa, tempat bekerja, dan kontak politik langsung.
Luki memaparkan, dari sisi sarana politik keluarga, para pemilih pemula merupakan remaja yang lahir pada tahun 2000 di tengah iklim reformasi dan demokratisasi.

Mereka beranjak remaja memasuki tahun 2009 yang mana sudah berlaku sistem Pilkada langsung. Meski saat itu mereka belum punya hak pilih, namun sudah merasakan iklim politik yang hingar bingar.

Kondisi ini berpengaruh dalam proses sosialisasi penanaman nilai-nilai politik di dalam keluarga di Ibu Kota yang lebih terbuka. Maka sebagian besar tidak lagi merasakan tekanan kuat dari keluarga dalam menentukan pilihan politiknya.

Dari sisi lembaga pendidikan sebagai sarana sosialisasi politik sekolah tidak lagi seperti masa Orde Baru yang tertutup rapat terhadap politik. Kurikulum ajaran tentang hak-hak politik warga negara sudah diajarkan dalam kadar yang lebih luas dibanding masa lalu, salah satunya hak untuk berpendapat.
Hal ini berdampak kepada pola pikir generasi saat ini yang lebih tinggi terbuka dan kritis dibanding sebelumnya. Mereka berani mengoreksi dan mengkritik hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran yang diberikan. Maka dari itu tidak mudah bagi guru-guru untuk mengarahkan orientasi politik, apalagi melakukan indoktrinasi kepada pelajar generasi ini.

"Dari sisi kelompok pergaulan sebagai sarana sosialisasi politik bagi generasi digital, wahana pergaulan telah bergeser ke ranah dunia maya (chatgroup) dan berbasis komunitas. Pergaulan dalam komunitas dibentuk oleh keminatan dan kegemaran terhadap objek yang sama mulai dari hal ringan, seperti hobi sampai kepada yang berat seperti kerohanian (agama) dan politik" paparnya.

Komunitas yang ada di Jakarta sangat banyak dan menjadi pusat pergaulan dari para pemilih pemula tersebut, sehingga orientasi politik terbangun secara alamiah di dalam komunitas tersebut.

Sementara dari sisi tempat bekerja, di generasi ini tidak ada remaja yang sudah menjadi pekerja. Mereka adalah murni pelajar yang tidak menyambi mencari nafkah. Kalaupun ada hanya bersifat penyaluran keterampilan, seperti misalnya para atlet/seniman yang tidak menjadikannya sebagai aktivitas utama mereka. Oleh karena itu tempat bekerja tidak mempengaruhi orientasi politik para pemilih pemula.

"Dari sisi media massa sebagai sarana sosialisasi politik generasi ini sangat well informed, mereka praktis tidak pernah kekurangan data dan informasi, bahkan mereka berkelebihan informasi," kata Luki.

Para remaja generasi ini sudah memiliki 'gadget' dan mengakses internet. Mereka cenderung menerima informasi dari media massa online dan media sosial. Minat membaca mereka dibentuk oleh melimpahnya data di internet, sehingga pada akhirnya asupan informasi tersebut membangun orientasi politik bagi pemilih pemula ini.

Dari kontak politik langsung dengan aktor politik sebagai sarana sosialisasi politik berkat media sosial remaja generasi ini bisa melakukan interaksi langsung melalui akun media sosial tokoh politik, lembaga politik, dan pemerintahan.

Mereka tidak sungkan melakukan mention atau tag kepada akun-akun tersebut terkait berbagai hal mulai dari kondisi lingkungan permukiman hingga persoalan pelayanan publik dan politik.

Respons yang diberikan para politisi, dan lembaga politik/ pemerintah tersebut memberi kesan bagi mereka sehingga terbangun orientasi dan tertanam nilai-nilai politik bagi pemilih pemula ini.

Berdasarkan unit analisis di atas maka dapat dilihat kecenderungan para pemilih pemula tampaknya tidak akan apatis dalam Pilkada DKI 2017, terlebih lagi sosok atau figur cagub/cawagub yang ditawarkan cukup mewakili identitas mereka, kata Luki.

Dengan kondisi ini, ia berkeyakinan kaum muda dan pemilih pemula di Jakarta sudah memahami dan memiliki harapan yang besar terhadap sosok pasangan yang didukungnya.

Dengan berbagai kanal informasi yang bisa digunakan, para pasangan Calon Gubernur dan Wakil Ggubernur DKI tersebut terus memanfaatkan momentum untuk menjaga angka elektabilitas mereka.

Calon Wakil Gubernur Sandiaga Uno, misalnya, mengajak para pemilih pemula untuk ikut menentukan masa depan Ibu Kota, dengan berpartisipasi dalam ajang pemilihan kepala daerah mendatang.

"Masa depan Jakarta itu juga ada di tangan pemilih pemula dan pemilih muda. Begitu pula masa depan mereka, yang akan bergantung dari pemimpin pilihan mereka," kata Sandiaga.

Dengan adanya potensi perubahan yang diciptakan pemilih pemula tersebut, Sandi menyayangkan, jika mereka tidak memberikan suara saat pemungutan suara berlangsung.

"Kami ingin memastikan bahwa mereka dalam jalur yang benar, dan kami juga ingin peran anak-anak muda signifikan dalam membawa Indonesia dan Jakarta menuju masa kejayaan," ujarnya.

Sementara itu Calon Gubernur Basuki Tjahaja Purnama berencana memberikan tunjangan bagi warga Ibu Kota yang sudah lanjut usia atau lansia.
"Selama blusukan, saya temukan banyak sekali lansia, terutama ibu-ibu yang sudah tidak bisa bekerja sama sekali. Makanya, saya mau bantu," kata Basuki saat blusukan di Kelurahan Tegal Alur, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat.

Menurutnya, besaran tunjangan pensiun yang akan diberikan kepada lansia tersebut, yakni berkisar mulai dari Rp600.000 hingga Rp1.000.000.

"Tunjangan itu hanya akan kami berikan kepada lansia yang menjalani usaha. Jadi, tunjangan itu sifatnya mirip-mirip seperti modal usaha. Besaran tunjangannya sekitar Rp600.000 sampai Rp1.000.000," ujar Ahok, panggilan akrabnya.

Akan tetapi, dia menuturkan apabila lansia tersebut tidak menjalani usaha dan tidak memiliki keluarga yang dapat merawatnya, maka akan ditempatkan di sebuah villa khusus jompo yang berlokasi di Ciangir, Kabupaten Tangerang.

"Kalau warga yang lansia itu tidak punya usaha atau tidak ada keluarga sama sekali, kami siapkan villa khusus jompo di Ciangir. Di tempat itu, kami yang akan merawat para lansia," tutur Ahok.

Sedangkan Calon Gubernur Agus Harimurti Yudhoyono mengatakan kini dirinya fokus pada kompetisi putaran pertama Pilkada 2017 menanggapi hasil survei yang menunjukkan potensi dia lolos ke putaran kedua.

"Saya menolak berandai-andai, saya fokus menang di putaran pertama," ujar dia usai melakukan acara silaturahmi dengan paguyuban Rakyat Tangguh Republik Wibawa (RTRW) di Sentul, Bogor.

Dalam mewujudkan ambisinya itu, pihaknya melakukan konsolidasi untuk meyakinkan simpul-simpul kekuatan yang sudah dibangun selama masa kampanye dalam hitungan hari menuju pemilihan pada 15 Februari 2017.

Selain itu, cagub yang diusung empat partai itu mengatakan akan tetap melakukan gerilya lapangan dalam waktu kampanye yang tersisa.
"Kami meyakinkan agar mereka tetap pada pilihan sejak awal, yakni Agus-Sylvi," tutur dia.

Agus mengimbau masyarakat untuk menggunakan hak pilih pada Pilkada 2017 untuk bersama-sama menentukan masa depan Ibu Kota.
"Masa depan Jakarta milik semua dan diawali dari menentukan pemimpin saat memilih," kata dia. (Ant/f)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru