Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 16 September 2026

Membangun Sumut Jadi Gerbang Pariwisata Internasional dengan Kawasan Kaldera Toba (Geoparks Toba)

(Laporan Wartawan SIB Wilfrid B Sinaga SH)
- Selasa, 21 April 2015 16:03 WIB
1.133 view
Membangun Sumut Jadi Gerbang Pariwisata Internasional dengan  Kawasan Kaldera Toba (Geoparks Toba)
"Danau Toba Truly Geoparks". Kalimat itu terucap dari Vice President Executif Global Geoparks Network  Geoparks Prof Ibrahim Komoo  saat menginjakkan kakinya di kawasan Danau Toba tahun 2011 lalu. “ Di tempat kelahiran saya ada kawasan yang dijadikan sebagai kawasan geoparks karena dikelola dengan baik dan ramai dikunjungi. Tapi Kaldera Toba bukan buatan manusia dan di atas kaldera itu ada kehidupan” ujarnya memuji fenomenalnya kaldera Toba.
Dalam kekaguman itu tersirat secara jelas bahwa siklus kehidupan di atas Kaldera Toba adalah suatu keajaiban yang patut menjadi perhatian dan dijaga kelestariannya. Siklus kehidupan yang muncul pasca letusan gunung raksasa 75 ribu tahun lalu itu adalah keajaiban yang membuat  orang  takjub.
Danau Toba  dengan panjang 87  kilometer dan lebar 27 kilometer yang mengelilingi Pulau Samosir  beserta  sistem kehidupan, budaya, adat, seni, flora dan fauna serta situs-situs yang ada di atas kaldera adalah saksi nyata yang bisa menggambarkan awal kehidupan di sana benar-benar pernah  terjadi.
Pengakuan itu menunjukkan bahwa ada potensi besar di kawasan Kaldera Toba yang bisa dijadikan untuk pengembangan kepariwisataan Sumut. Sejalan dengan itu presiden RI  telah mengukuhkan Geopark Kaldera Toba sebagai Geopark Nasional tahun 2014 dan pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2014 telah pula mengakui salah satu hasil kebudayaan warisan kaldera Toba dengan mencatatkan Ulos Batak (kain tenun khas Batak Toba-Tapanuli) dalam sertifikat warisan budaya non benda ke UNESCO PBB. Pencatatan itu bersamaan dengan 6 warisan budaya yang ada di berbagai kabupaten kota di Sumut seperti, Serampang Dua Belas (tarian tradisionil daerah Melayu), Merdang Merdem (seni musik tarian daerah Karo),Hoda-hoda (tarian atraksi topeng daerah Simalungun), Omo Hada (rumah adat Nias), Bola Nafo (semacam mangkuk tempat sirih warga Nias), Berahoi (tarian Ahoii kas Melayu pasca panen).
Kebijakan pemerintah sejalan juga dengan rute perjalanan wisata Sumut yang sudah pernah membawa kejayaan kepariwisataan Sumut. Dalam daftar map kepariwisataan tercatat bahwa  tujuan utama perjalanan wisata adalah Danau Toba disusul, Kota Medan sebagai pintu masuk dengan objek wisata Istana Maimun, Mesjid Raya Medan, Langkat dengan tujuan wisata Gunung Leuser, Kabupaten Karo dengan Gundaling, Gunung Sibayak (Karo), Air Terjun Sigura-gura (Asahan), Pantai Sorake dan Lagundri (Nias).
Potensi wisata itu telah pernah membawa kejayaan kepariwisatan Sumut dengan jumlah kunjungan 300 ribuan wisatawan mancanegara pada tahun 1995 lalu. Namun kejayaan itu berakhir pada tahun 1997 dan hingga tahun 2012, karena kunjungan wisatawan di bawah 300 ribu dan bahkan beberapa kali anjlok ke angka 200 ribu wasatawan. Kemudian mulai mengalami peningkatan tahun 2013 hingga tahun 2014. Terbukti dari laporan yang diterima Ketua BPP PHRI Hariyadi B Sukamdani pada pembukaan Musda PHRI Sumut tahun 2015 tercatat Sumut menempati urutan ke 5 secara nasional dengan jumlah 225 ribu wisatawan tahun lalu.
Adanya potensi kenaikan kunjungan wisata pada usia Provinsi Sumut yang ke 67 tahun merupakan semangat untuk bisa mengoptimalkan seluruh kekayaan sumber daya kepariwisataan Sumut menuju Sumut Bangkit. Pengoptimalan itu tentu tidak sekedar pengelolaan secara biasa tapi harus bisa menjadikan  potensi objek wisata itu mempesona dan memiliki daya saing, baik di Sumut maupun bersaing dengan daerah lain, bahkan tingkat internasional.
Upaya mengoptimalkan potensi kepariwisataan Sumut diperlukan penetrasi dengan desain dan gaya yang benar benar menarik sehingga semua pihak bisa mengambil peranan. Banyak slogan yang bisa dijadikan sebagai penyemangat dalam mengembalikan kejayaan kepariwisataan Sumut di antaranya,  semangat menjadikan Sumut menjadi gerbang pariwisata internasional, Sumut jadi destinasi adventure dengan spesifikasi, Kaldera Toba (Geoparks Toba), Karo Vulcano Park, Nias Segregation, Sumut jadi pusat wisata kuliner,  Sumut jadi pilihan objek wisata culture Diversity, Sumut sebagai kota wisata sejarah.
Sebelum melangkah  menggapai mimpi itu perlu dilihat persoalan kepariwisataan Sumut. Pengurus Badan Provinsi Pariwisata Sumut dalam berbagai even selalu menyebutkan bahwa persoalan kepariwisataan masih menyangkut persoalan birokrasi pemerintahan, perizinan, dan kemauan politik dari pemerintah untuk membangun industri pariwisata. Pemerintah pusat terkesan masih melakukan diskriminasi dalam hal pembangunan infrastruktur, kepastian hukum (kenyamanan turis),  regulasi tentang industri pariwisata belum tegas.
Dalam meretas berbagai persoalan yang ada diperlukan dialog untuk memotivasi stakeholder dan menyemangati pemerintah agar lebih fokus membangun sektor pariwisata. Khususnya untuk menjadikan sektor pariwisata sebagai sumber devisa terbesar dalam Top Three Product (pariwisata, pertanian dan industri) sebagaimana pesan dari WTO 2003.
Dialog menjadi salah satu langkah untuk membuat komitmen bersama antar kabupaten/kota dalam menggerakkan potensi kepariwisataan.Karena semua kabupaten kota memiliki potensi wisata dengan keunikan dan daya tarik wisata yang khas. Bila itu dikelola dan dikemas secara menarik dan alami maka akan menjadi rangkaian wisata dalam paket wisata yang didapat para wisatawan.
Langkah Jenderal Luhut Panjaitan menggelar pertemuan dengan Gubsu dan Bupati di Sumut mengusung Kaldera Toba ke Unesco adalah langkah maju dalam upaya mengoptimalkan potensi wisata Sumut pada momentum hari jadi Sumut ke 67.
Langkah tersebut sebenarnya merupakan tindak lanjut dari apa yang sudah dilakukan Pemerintah Provinsi Sumut dan RE Foundation dalam percepatan pengakuan Kaldera Toba sebagai taman bumi menyambut agenda kunjungan Tim UNESCO - GGN ke Kaldera Toba pertengahan tahun 2015.
Kebijakan pemerintah sebenarnya sudah sampai titik kulminasi yang menjanjikan karena Sumut telah masuk dalam bagian Top Ten Destination National dan Presiden RI telah meresmikan Kaldera Toba sebagai Geoparks Nasional tahun 2014 lalu.
Prestasi lain , Sumut telah menorehkan sejumlah keberhasilan di antaranya Sumut terfavorit dalam gelar kesenian daerah tingkat nasional tahun 2014, Sumut menyabet gelar grup musik terbaik dalam Festival Nasional Musik Tradisional Anak-anak 2014, Sumut terbaik festival nasional teater tradisional 2014. Sumut memperoleh 7 sertifikat warisan budaya tingkat nasional, Sumut sukses memasukkan objek cagar budaya 11 kabupaten di Sumut dalam Data Base Cagar Budaya Nasional, Sumut diapresiasi pusat atas pembentukan lembaga budaya di 6 daerah (kabupaten-kota) di Sumut, dan  Sumut berhasil membuat deskripsi situs peninggalan sejarah budaya di tiga kabupaten di Sumut yang akan dilestarikan secara nasional.
Dukungan yang menjanjikan juga dengan terbitnya kebijakan pemerintah pusat yang menetapkan Kawasan Strategis Sumut dengan program MP3EI, RPJM Danau Toba terutama tentang pembangunan ORRDT, Perpres RI No 81 Tahun 2014 tentang Rencana. Tata Ruang Kawasan Danau Toba dan Sekitarnya, serta  Undang Undang Pariwisata. Kebijakan terbaru pemerintah pusat terkait upaya peningkatan citra pariwisata dan arus wisatawan ke tanah air adalah dengan  pembebasan visa untuk 45 negara yang sebelumnya hanya 15 negara.
Kebijakan pemerintah itu dipertegas dengan pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla pada  Pertemuan Assosiasi Pemerintah Daerah Ambon  yang menyebut bahwa pariwisata merupakan daya ungkit perekonomian wilayah. Pernyataan itu tidak jauh berbeda dengan rumusan World Tourism Organization (WTO) terkait konsep pariwisata, yakni manajemen pengelolaan sumber daya wisata dengan melihat peluang untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi, sosial, estetika, kultur dan kelestarian ekologi.
Belum lagi  komitmen Gubernur Sumut H Gatot Puji Nugroho pada Pembukaan Musrenbang RKPD Sumut 2016 yang menegaskan bahwa prioritas unggulan dalam peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat adalah pengembangan destinasi wisata melalui program Destination Managenet Operation (DMO) dan pengembangan promosi kepariwisataan dengan fokus ekoturisme berbasis alam dan budaya  .
Lebih realistis lagi Dinas Pariwisata Sumut sebenarnya sudah membuat langkah dengan menetapkan 42 program pelaksanaan dan pengembangan wisata budaya Sumut untuk tahun 2015. (Keterangan kepala Disbudpar Sumut Drs Ellisa Marbun MSi)
Semua dukungan dan kebijakan itu tentunya menggambarkan bahwa optimisme akan kebangkitan pariwisata Sumut tidak hanya isapan jempol belaka karena  juga didukung infrastruktur  dengan kehadiran Bandara Kualanamu, adanya upaya peningkatan Bandara Silangit  maupun Bandara Binaka Nias.
Kombinasi dari kebijakan pemerintah pelaksanaan regulasi dan aksi yang dilakukan seluruh stakeholder diperkirakan akan bisa menjangkau dan melampaui target  capaian kunjungan wisatawan. Dari data terakhir saja tercatat bahwa tahun 2014 sudah terlihat peningkatan dibanding tahun 2013 dengan jumlah wisatawan 270.837 wisatawan mancanegara
Secara umum kondisi kepariwisataan Sumut sudah diakui publik di kancah nasional, namun bagaimana untuk tingkat internasional dan apa yang bisa dilakukan untuk eksis berkiprah di tingkat internasional.
Salah satu langkah yang bisa membawa kejayaan kepariwisataan Sumut adalah dengan tercapainya percepatan kawasan Kaldera Toba untuk mendapat pengakuan UNESCO menjadi Geoparks Dunia. "Advisor GGN Unesco telah melakukan kunjungan ke Geopark Kaldera Toba pada  Agustus 2014 lalu dan menyatakan Geopark Kaldera Toba memenuhi syarat untuk menjadi anggota GGN Unesco". Menyikapi itu Pemprovsu telah pula menindaklanjutinya dengan menerbitkan surat keputusan Gubernur Sumut nomor 188.44/404/KPTS/2013 tentang tim percepatan pengajuan Geopark Kaldera Toba Menjadi anggota GGN Unesco.
Selain pemerintah, salah satu pihak swasta, RE Foundation, telah pula dengan giatnya  menggalang kekuatan dan pemenuhan persyaratan untuk mendapat pengakuan dari Unesco akan Kaldera Toba.
Tetapi sebelum jauh melangkah, perlu melihat pernyataan Ibrahim Komoo  bahwa Kaldera Toba itu adalah Geoparks yang sebenarnya  yang mengisyaratkan bahwa bukan pengakuan dari Unesco yang dibutuhkan, melainkan pengelolaan kawasan kaldera sehingga siklus kehidupan yang ada  di atasnya bisa berlangsung dengan baik dan kehidupan itu berjalan secara berkesinambungan sebagaimana Trilogi Geoparks (geodiversity, lingkungan hidup dan ekonomi rakyat).
Pemerintah pusat yang telah menetapkan Danau Toba sebagai salah satu kawasan strategis nasional melalui PP No 26 Tahun 2008) dan pada PP No  50 Tahun 2011 tentang RIPPANAS tahun 2010 -2025 dan Danau Toba termasuk sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN), menegaskan bahwa kawasan Danau Toba akan menjadi perhatian pemerintah pusat dalam pengembangan dan pembangunan kepariwisataan.
Dengan adanya regulasi tersebut ke depan akan berfungsi  konservasi geologis objek wisata yang tersebar di kawasan Kaldera Toba. Dengan demikian objek wisata Kaldera Toba akan mendatangkan wisatawan, apakah dengan dalih wisata edukasi, penelitian tetapi multieffectnya akan  meningkatkan kesejahteraan dan perekonomian masyarakat sekitarnya.
Wisatawan akan tertantang  datang ke kawasan Kaldera Toba dengan harapan  bisa melihat hasil konservasi perkampungan khas Batak asli serta keberlangsungan sistem kekerabatan (Dalihan Natolu) dan kegiatan-kegiatan seni dan budaya tradisi.  Hal itu sebenarnya hal yang sangat sulit tapi dengan kemauan pemerintah dengan membuat regulasi yang tegas ditambah dengan langkah nyata ke depan secara perlahan akan bisa terbangun infrastruktur wisata tradisi di kawasan Kaldera Toba.
Untuk lebih fokus dalam percepatan pencapaian Geopark Toba, pemerintah Provinsi Sumut diharapkan sesegera mungkin mencanangkan Kabupaten Samosir sebagai pusat budaya sekaligus sebagai mahkota Geopark Toba dengan berbagai potensi yang ada,  Kabupaten Tapanuli Utara pusat pendidikan, Kabupaten Humbang Hasundutan sebagai pusat holtikultura, Kabupaten Tobasamosir pusat reboisasi (Foresty), Kabupaten Dairi pusat agropolitan serta Simalungun dan Karo sebagai gapura destinasi Geopark Toba.
Dengan adanya pencanangan itu tentu akan memotivasi semua kabupaten untuk menggerakkan semua potensi untuk melakukan pembangunan sesuai dengan fokus yang akan dicapai. Kabupaten Samosir misalnya membangun kawasan-kawasan pusat budaya dan seni tradisi yang bisa dikunjungi untuk melihat secara nyata aktivitas budaya tersebut. (Dalam publikasi yang ada, Kabupaten Samosir sebenarnya sudah memulai dengan menetapkan agenda Samosir Vista).
Selain membangun pusat-pusat wisata di kawasan kaldera Toba, langkah lanjutan adalah menggelar event-event wisata untuk menjual budaya dan objek wisata hingga ke kancah internasional dengan harapan  bahwa objek wisata dan budaya itu bisa dilihat langsung di kawasan Kaldera Toba. Salah satu instrumen penggerak pariwisata di Kaldera Toba adalah ‘Pesta Danau Toba” yang sudah menjadi kalender pariwisata nasional harus terus dipertahankan dan ditingkatkan hingga pembiayaan penyelenggaraannya bisa bersumber dari APBN, APBD Sumut dan APBD Kabupaten/Kota yang berada di kawasan Kaldera Toba.
Pakar Geolog Ir Jonathan Tarigan menggambarkan bahwa perjalanan wisata Sumut diawali dari Kota Medan kemudian berlanjut ke kawasan Karo Vulkano Park dengan cuaca dingin dan sejuk, kemudian berlanjut ke Kaldera Toba melalui kawasan Sipiso-piso menyeberang ke Pulau Samosir. Gambaran itu menunjukkan bahwa Kabupaten Karo adalah pintu masuk (gapura) menuju Kaldera Toba. Untuk mewujudkan Karo sebagai gapura maka harus  ditunjang dengan ketersediaan infrastruktur kepariwisataan dan sosial budaya,  mulai dari hotel, restoran, penerbangan dan travel serta pelayanan wisata. Menurutnya ketika para wisatawan  tiba di Medan, wajib disambut dengan Tarian Serampang 12 dan menyajikan wisata sejarah di Kota Medan. Kemudian membawa wisatawan ke Karo menyusuri Vulcano Park (Gunung Sinabung), Gunung Sipiso-piso di kawasan Tongging, Gunung Barus bisa dilihat dari  Desa Peceren, Tongkoh atau dari Desa Tanjung Barus, Gunung Pintau di kawasan Desa Doulu, Berastagi, Gunung Sibayak Tua dan Gunung Sibayak muda). Ketika menyeberangi Danau Toba menuju Pulau Samosir dari Tongging, wisatawan disajikan lagu-lagu dan tarian khas yang ada di kawasan Kaldera Toba.
Komitmen Sumut Bangkit bila diteruskan secara berkesinambungan yang  langsung menyentuh titik sasaran objek wisata dengan melahirkan pelaku-pelaku wisata dan munculnya usaha kepariwisataan, akan bisa mengungkit perekonomian masyarakat bahkan bisa mencapai target kunjungan wisatawan mancanegara yang dicanangkan Gubsu hingga 350 ribu  orang. Sukses itu pula yang akan membuat Sumut siap menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, dan Asean Tourism Forum 2016. (Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba Karya Tulis Pers Memperingati Hari Jadi ke-67 Provinsi Sumatera Utara/c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru