Jakarta (SIB)- Karakter dan sikap hidup sebuah bangsa menentukan bagaimana bangsa tersebut mampu menyelesaikan masalah dan menghadapi tantangan.
Presiden Joko Widodo dalam pidato kenegaraan dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-70 di hadapan sidang paripurna bersama DPR dan DPD menegaskan menjaga rasa optimisme sangat penting.
"Selama ini kita terjebak pada pemahaman bahwa melambannya perekonomian global, yang berdampak pada perekonomian nasional adalah masalah paling utama. Padahal kalau kita cermati lebih seksama, menipisnya nilai kesantunan dan tatakrama, sekali lagi, menipisnya nilai kesantunan dan tatakrama, juga berbahaya bagi kelangsungan hidup bangsa," kata Presiden di Gedung MPR/DPR/DPD Jakarta, Jumat.
Kepala negara mengatakan melunturnya rasa tenggang rasa dan budaya saling menghargai bisa membahayakan kelanjutan pembangunan nasional.
"Menipisnya budaya saling menghargai, mengeringnya kultur tenggang rasa, baik di masyarakat maupun institusi resmi seperti lembaga penegak hukum, organisasi kemasyarakatan, media dan partai politik, menyebabkan bangsa ini terjebak pada lingkaran ego masing-masing. Hal ini tentu saja menghambat program aksi pembangunan, budaya kerja, semangat gotong royong dan tumbuhnya karakter bangsa," paparnya.
Kepala Negara mengajak semua pihak untuk dapat menempatkan masalah secara proporsional dan mendorong pemahaman masyarakat atas masalah yang dihadapi sehingga bersama-sama bisa mengatasi, termasuk memberi ruang pada pemerintah untuk menyelesaikannya.
"Saat ini ada kecenderungan semua orang merasa bebas, sebebas-bebasnya, dalam berperilaku dan menyuarakan kepentingan. Keadaan ini menjadi semakin kurang produktif ketika media juga hanya mengejar rating dibandingkan memandu publik untuk meneguhkan nilai-nilai keutamaan dan budaya kerja produktif.
Masyarakat mudah terjebak pada ‘histeria publik’ dalam merespon suatu persoalan, khususnya menyangkut isu-isu yang berdimensi sensasional," katanya.
Ditambahkan Presiden,"tanpa kesantunan politik, tatakrama hukum dan ketatanegaraan, serta kedisiplinan ekonomi, kita akan kehilangan optimisme dan lamban mengatasi persoalan-persoalan lain termasuk tantangan ekonomi yang saat ini sedang dihadapi bangsa Indonesia. Kita akan miskin tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara."
Persatuan dan penyelesaian masalah
Dengan kompleksnya permasalahan yang masih dihadapi oleh bangsa, Presiden menilai bahwa persatuan merupakan salah satu kunci penting dalam menghadapi tantangan yang ada.
"Sejarah telah mengajarkan kepada kita, kunci untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut adalah persatuan. Persatuan, pada tahun-tahun awal kemerdekaan, bangsa Indonesia terus dihadapkan pada persoalan besar, yaitu melawan penjajah yang ingin kembali berkuasa," kata Presiden.
Dalam kondisi sulit saat ini, Kepala Negara mengingatkan kembali pentingnya semua kalangan saling mendukung dalam menghadapi permasalahan bangsa.
"Untuk mengatasi seluruh persoalan bangsa dewasa ini, kita harus tetap utuh, bekerja bahu membahu, tidak boleh terpecah belah oleh pertentangan politik dan kepentingan jangka pendek. Sehingga kedaulatan politik, kemandirian ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan dapat terwujud," tegasnya.
Ditambahkannya, "Konsolidasi demokrasi telah kita raih. Kini saatnya, demi menjaga kepentingan nasional, kita lakukan transformasi fundamental perekonomian nasional. Paradigma pembangunan yang bersifat konsumtif harus diubah menjadi produktif. Pembangunan harus dimulai dari pinggiran, dari daerah dan desa-desa, dengan meningkatkan produktivitas sumber daya manusia, memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan digerakkan oleh sikap mental kreatif, inovatif dan gigih. Dengan cara itu juga, kita akan manfaatkan sumberdaya alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat."
Selain persatuan nasional, Presiden juga menyerukan dukungan atas program pemerintah bertajuk revolusi mental yang dinilai bisa menanamkan kembali dasar-dasar sikap hidup dan sikap kerja bangsa Indonesia.
"Untuk itu, pada hari ini saya menegaskan kembali perlunya gerakan nasional revolusi mental. Gerakan tersebut akan menyuburkan kembali nilai-nilai semangat juang, optimisme, kerja keras, kesantunan, tata krama dan memperkokoh karakter bangsa, serta memperkuat tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila dan UUD 1945," katanya.
Meski masih banyak tantangan yang harus diselesaikan, Presiden Jokowi yang memimpin pemerintahan sejak Oktober 2015 lalu menyampaikan terima kasih atas dukungan masyarakat Indonesia terhadap pemerintah.
"Dengan dukungan tulus, kesabaran dan sikap optimis seluruh rakyat Indonesia, Insya Allah transformasi fundamental ekonomi nasional yang dijalankan pemerintah pada saatnya akan berbuah manis," kata Presiden.
"Saya ingin mengingat pesan Bung Karno pada Sewindu Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1953, ...kita tidak bertujuan bernegara hanya satu windu saja, kita bertujuan bernegara seribu windu lamanya, bernegara buat selama-lamanya.â€
(Ant/q)