Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 29 April 2026

Memahami Pemilih Pemula di Pilkada

* Oleh Calvinantya Basuki
- Selasa, 22 September 2015 14:19 WIB
708 view
Memahami Pemilih Pemula di Pilkada
Jakarta (SIB)- Memahami pemilih pemula dalam pemilihan umum berarti memahami pendidikan politik kepada generasi mendatang.

 Pemilih pemula adalah mereka yang pertama kali menggunakan hak suaranya dalam sebuah pesta demokrasi berwujud pemilihan umum untuk memilih aktor pemimpin sebagai wakil rakyat.

 Oleh karena itu, pandangan dan pola pikir pemilih pemula mengenai pemilihan umum menjadi hal yang perlu diperhatikan oleh semua pihak, apakah pemilih pemula akan malas untuk menggunakan hak suara atau justru antusias.

Seperti yang dikatakan oleh Presiden AS Barack Obama, "Pada akhirnya, seperti itulah sebuah pemilihan umum. Apakah kita berpartisipasi dalam sebuah politik yang mengandung sinisme atau politik yang mengandung harapan?".

Sebagai penyelenggara pemilu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) terus berupaya mengoptimalkan partisipasi pemilih pemula, guna mencapai target tingkat partisipasi pemilih pada Pilkada Serentak 2015 yang lebih tinggi dari Pemilu 2014.

"Kami targetkan partisipasi pemilih dalam pilkada kali ini mencapai 77,5 persen, atau naik dari 2,5 persen dari pileg lalu," kata Komisioner KPU Ferry Kurnia Rizkiyansyah.

Strategi KPU untuk meningkatkan partisipasi pemilih pemula adalah dengan mengoptimalkan jaringan kelompok muda di masyarakat, seperti OSIS, karang taruna, dan pramuka. "Relawan demokrasi yang dulu pernah ada juga akan kami giatkan kembali," ucap Ferry.

KPU pusat juga meminta kepada pihak KPU di daerah untuk menjamin kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) tidak hanya memberikan undangan saja kepada para pemilih.

"Petugas KPPS diharapkan juga bisa memberikan sosialisasi tentang pilkada ketika memberikan surat C6 (surat undangan pemilih)," tutur Ferry.

Dia berharap pemilih, terutama pemilih pemula, bersedia meluangkan waktunya untuk menggunakan hak suara dalam pilkada serentak 9 Desember mendatang.
 Kategori pemilih pemula yaitu para remaja yang baru memilih dalam sebuah pemilihan umum untuk pertama kalinya, karena umur yang baru mencukupi atau telah menikah.

 Pada Pemilu Legislatif 2014 lalu, jumlah pemilih pemula sebesar 52 juta orang. Untuk Pemilu Presiden 2014, jumlah pemilih pemula naik sekitar 3 juta dalam kurun waktu tiga bulan.

Terdapat sekitar 56 juta pemilih pemula, atau 30 persen dari total pemilih Pilpres 2014 yang tercatat sebanyak 187.798.441 orang.

Berdasarkan data pemilih sementara KPU pada pilkada serentak 2015, jumlah pemilih pemula secara nasional mencapai 1.820.143 orang atau 1,85 persen dari keseluruhan daftar pemilih sementara.

Angka tersebut kecil bila dibandingkan jumlah pemilih pemula pada Pemilu 2014, karena pilkada serentak tidak diselenggarakan di semua daerah.

Jumlah pemilih pemula pada pilkada 2015 terbanyak berada di Provinsi Jawa Tengah dengan 290.084 orang atau 1,87 persen dari keseluruhan daftar pemilih sementara di provinsi tersebut.

Sedangkan persentase jumlah pemilih pemula terbanyak berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yaitu sebesar 4,15 persen dari total jumlah pemilih sementara di provinsi tersebut.

Ketua Konstitusi dan Demokrasi (Kode) Inisiatif, Veri Junaidi berpendapat, KPU perlu melakukan upaya sosialisasi yang lebih demi meningkatkan partisipasi pemilih pemula.

"Pemilih pemula perlu mendapat sosialisasi kampanye pilkada yang sesuai dengan karakter lingkungan mereka," imbuh Veri.

Mekanisme sosialisasi kepada pemilih pemula harus bisa menyampaikan satu pesan yang diwujudkan dengan kegiatan-kegiatan yang menarik bagi mereka.
"Misalnya, pertemuan tatap muka dengan menggunakan media yang familiar dengan pemilih," ucap Veri.

Pertemuan tatap muka tersebut seperti mendatangi sekolah, kegiatan olahraga, atau acara musik, dengan menekankan pada kegiatan yang familiar dengan pemilih pemula.

Veri tidak memungkiri bahwa keberadaan pemilih pemula cukup signifikan dalam pilkada serentak. Kompetisi pasangan calon kepala daerah membuat selisih suara antara satu pasangan calon dengan pasangan calon yang lain kadang terpaut tipis.

 "Sehingga satu atau dua suara menjadi sangat menentukan," ujarnya.

 Pentingnya Sosialisasi Salah satu strategi yang gencar dilakukan oleh penyelenggara pemilu dalam upayanya menarik minat pemilih pemula untuk berpartisipasi adalah dengan sosialisasi, terutama dengan tatap muka langsung.

Hal tersebut bertujuan agar para pemilih pemula paham bahwa perannya dalam menggunakan hak suara dalam memilih pemimpin daerah penting.

Di Kota Magelang, kalangan pelajar sebagai pemilih pemula dalam pilkada harus memanfaatkan momentum tersebut untuk pendidikan politik dengan memberikan hak suaranya secara benar, bebas tekanan, dan cerdas.

"Pilkada mendatang dengan seluruh tahapannya menjadi ajang yang baik bagi kalangan pemilih pemula, termasuk pelajar yang sudah berhak memilih, untuk menggunakan hak suaranya itu secara benar," kata Pelaksana Harian Kepala Dinas Pendidikan Kota Magelang Sumartono.

Dia menyebut pilkada merupakan ajang pendidikan politik yang penting bagi pelajar. Pilkada dapat menjadi bagian pendidikan untuk pencapaian kedewasaan dalam berpolitik dan membangun sikap pribadi yang bertanggung jawab sebagai warga negara.

Sementara itu, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Palangka Raya juga meminta kepada KPU setempat untuk menggencarkan sosialisasi pilkada kepada pemilih pemula di daerah tersebut.

"KPU harus menyosialisasikan pilkada kepada masyarakat khususnya pemilih pemula. Sosialisasi dapat dilakukan di sekolah-sekolah atau di lokasi lainnya," tutur Wakil Ketua Komisi A DPRD Kota Palangka Raya Diu Husaini.

Sosialisasi tersebut bertujuan untuk menumbuhkan jiwa demokrasi dan mengikis jiwa apatis terhadap pemilu yang diharapkan dapat memberikan dampak positif peningkatan angka partisipasi pemilih.

Menurutnya, pemilih pemula sangat potensial dalam pelaksanaan demokrasi oleh karena itu KPU ingin menggairahkan pemula untuk aktif dalam pemilihan.
Dalam memberikan sosialisasi, KPU wajib menyampaikan regulasi kepemiluan, masalah pencalonan, tentang kampanye, alat peraga, cara memilih calon pemimpin baik atau ideal dan sebagainya.

Selain sosialisasi, belajar dari pemilu tahun lalu, berbagai penawaran menarik juga diberikan bagi mereka yang memilih di hari pemungutan suara.

Penawaran menarik tersebut dapat berwujud misalnya potongan harga memasuki kawasan wisata tertentu, potongan harga di sejumlah restoran, dan lain-lain.
Hal yang perlu diperhatikan berikutnya adalah bahwa pemilih pemula di pilkada serentak 2015 adalah kaum muda yang tumbuh di era reformasi, sebuah era di mana kematangan demokrasi menjadi salah satu indikator dari semangat reformasi itu sendiri.

Pemilih pemula, tidak dapat dipungkiri, akan selalu ada setiap kali pemilihan umum digelar. Hal tersebut seakan menunjukkan bahwa pendidikan politik untuk mematangkan pemilih muda adalah hal yang tanpa ujung.

Tugas pendidikan politik tentu bukanlah tugas penyelenggara dan pengawas pemilu saja. Partai politik dan kadernya juga menjadi faktor penting dalam menggiring pola pikir kaum muda menjadi apatis atau antusias dalam menggunakan hak suaranya.

Pemilih muda perlu mendapatkan pengalaman berharga berdemokrasi dengan menggunakan hak suara untuk menentukan masa depan mereka dengan tujuan agar tidak mengulangi kesalahan yang mungkin dilakukan karena salah pilih atau tidak menggunakan hak suaranya. Seperti pernyataan seorang tokoh besar Tiongkok Mao Zedong yang menyebut, "Semua pengetahuan sejati berasal dari pengalaman langsung". (Ant/c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru