Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 29 April 2026

The Monaco of Asia: Danau TobaMu, Danau TobaKu, Danau Toba Kita

* Oleh : Sanco Simanullang ST MT
- Rabu, 03 Februari 2016 12:41 WIB
961 view
The Monaco of Asia: Danau TobaMu, Danau TobaKu, Danau Toba Kita
Langkah Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Rizal Ramli  yang akan menjadikan "Danau Toba menjadi The Monaco of Asia," patut didukung semua pihak.
Langkah pemerintah pusat yang mulai melemparkan lirikan di kawasan ini, sungguh merupakan harapan besar bagi rakyat Sumatera Utara khususnya untuk dikembangkan sebagai salah satu destinasi wisata utama di Indonesia.

Jika Pemerintah menargetkan peningkatan jumlah turis menjadi 20 juta atau meningkat dua kali lipat dalam lima tahun, tentu salah satu strategi yang akan dilakukan yakni dengan membangun infrastruktur di lokasi wisata Danau Toba, sudah pada jalur yang tepat.

Pasalnya, Rizal yang bermimpi menjadikan kawasan Danau Toba akan menjadi Monaco-nya Asia, tentu punya dasar yang kuat untuk menggerakkan "bidadari tidur ini " menjadi destinasi wisata dunia, yang sejatinya tidak kalah dengan pulau dewata, Bali.

Agar mengerucut dalam sebuah gerakan yang terukur, rencana pembentukan Otoritas Pariwisata Danau Toba, yakni sebuah badan yang khusus mengurusi pengembangan pariwisata di kawasan itu, tentu menjadi salah satu cara yang diyakini memiliki keampuhan tersendiri, seperti kawasan pariwisata Nusa Dua, Bali,  terbentuknya Toba Tourism Authority.

Sustainable Tourism
Kini perlu adanya identifikasi dan inventarisasi tempat-tempat wisata di kawasan sekitar Danau Toba.Bagaimana menganalisa potensi dan daya tarik wisata alam Danau Toba Bagaimana membangkitkan gairah wisata yang terencana Ini merupakan tugas bersama seluruh pihak yang dimotori oleh pemerintah setempat.

Wisatawan dengan "minat khusus" (special interest tourist) secara global semakin meningkat kini semakin meningkat. Minat khusus seperti ini meliputi wisatawan yang memperhatikan konservasi lingkungan, kehidupan masyarakat tradisional, wisata spiritual, wisata belajar, dll.

Dalam konteks Danau Toba, keunikan keunikan itu perlu segera di inventarisir dan dikelola dengan bijak. Saat ini, produk yang menjadi "tren pasar" dalam penekanan daya tarik wisata pada intinya bermuara dan bertemakan keunikan, alam dan konservasi.

Menurut Wikipedia (2009), Sustainable Tourism (Pariwisata Berkelanjutan) dijelaskan sebagai industri pariwisata yang memiliki komitmen untuk menimbulkan dampak ringan terhadap lingkungan, disamping membantu penduduk setempat untuk memperoleh pendapatan dan menciptakan lapangan kerja. Istilah yang menjadi payungnya adalah Sustainable Tourism yang selanjutnya muncul nama turunan seperti CBT (Community Based Tourism), Eco-Tourism, Responsible Tourism dan Coastal Tourism.

Meningkatnya kesadaran masyarakat dunia akan perlindungan terhadap lingkungan dan kehidupan tradisional menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan kepariwisataan berbasis konservasi. Menjawab kecenderungan ini, banyak negara tertarik untuk mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan standar kehidupan rakyatnya baik secara finansial maupun sosial. Di samping hal tersebut, mengetahui bahwa wisatawan akan mengunjungi desanya, masyarakat akan termotivasi untuk melakukan perbaikan di berbagai sisi kehidupan termasuk menjaga peninggalan dan melestarikan alam sekitarnya.  Hal ini perlu perhatikan semua pihak, tatkala sudah memulai palu godam "gondang mula mula", untuk menjadikan Danau Toba menjadi The Monaco of Asia.

Monako : Surga Wisata Dunia
Monako, kawasan sempit seluas 70 hektare di pinggir Laut Tengah itu memang penuh pesona. Akibat sempitnya wilayah, tak lebih luas dari kawasan Senayan, Jakarta, untuk datang ke sana, wisatawan harus terbang lewat Nice, Perancis. Artinya, mendarat di negara tetangga. Monaco memang bukan Perancis, tetapi sebuah kerajaan berdaulat dengan bendera, pemerintahan, dan juga punya paspor sendiri.

Monegasque, sebutan untuk warga negara Monaco, jumlahnya hanya sekitar 5.000 orang. Namun, yang ikut menetap di negara ini diperkirakan lebih dari 30.000 orang. Artinya, terdapat 25.000 penduduk musiman, orang-orang kaya dari seluruh penjuru dunia.

Pendapatan utama Monaco berasal dari sektor pariwisata. Ketika wisatawan datang berduyun-duyun, mereka tanpa sadar ikut memberi sumbangan banyak sekali, sejak membayar sewa hotel berikut beragam pengeluaran tambahan, yang semua harganya selalu selangit. Kita tentu tidak heran, apabila setiap pengelola tur rohani Roma-Lourdes atau wisatawan dengan tawaran paket perjalanan darat rute Paris-Roma, pasti hanya singgah makan siang di Monaco. Kalau pakai bermalam, harga paketnya menjadi sangat mahal, dan tidak semua wisatawan akan mampu membayar. Sepanjang waktu ada beragam konser musik, aneka macam olahraga, dan rumah makan dengan sajian menu nikmat dari seluruh dunia.

Kobarkan Merah Putih

Pada waktu SD, penulis sempat bingung, yang mana bendera Indonesia dan yang mana bendera Monaco. Warna bendera Monaco persis Indonesia, merah-putih. Jika di Monaco, bendera merah putih berkibar berdampingan dengan umbul umbul yang setiap saat menyambut para turis, dimana setiap kibarannya menghasilkan dolar, sejatinya Wisata Danau Toba pun dapat memimpikan wisata Monaco terjadi di kawasan ini.

Kabupaten-kabupaten di pinggiran Danau Toba harus bangun dari tidur lelapnya. Masing masing Kabupaten dengan bangga harus memiliki ikon keparawisataan yang tidak kalah menarik dengan Monako. Kawasan Danau Toba punya ratusan desa dengan icon kepariwisataan yang menarik seperti Tomok, Tuk tuk, Bakara, Sipinsur, Tele, Sipiso-piso Parapat, dan lainnya.

WTO (World Tourism Organization) dalam situsnya menjelaskan sustainable tourism sebagai kepariwisataan yang mengarahkan kepada pengelolaan terhadap semua sumber yang dilakukan sedemikian rupa sehingga kebutuhan, ekonomi, sosial dan keindahan dapat terpenuhi sekaligus menjaga integritas budaya, proses ekologi yang esensial, keragaman hayati dan sistem pendukung kehidupan pada lingkungan yang bersangkutan. Jadi jangan sampai merusak ekosistem, karena kebutuhan ekonomi, dan jangan merusak budaya karena kebutuhan lainnya.

Getaways juga mengemukakan sebuah definisi yang mengambil sudut pandang yang seimbang antara masyarakat lokal, wisatawan dan alam, sustainable tourism didefinisikan sebagai sebuah proses yang memenuhi kebutuhan wisatawan yang berkunjung ke tempat tersebut dan masyarakat tuan rumah sekaligus melindungi dan memenuhi kebutuhan dimasa yang akan datang.

Perlu pemenuhan terhadap kebutuhan konsumen yang merupakan orientasi dasar dari praktek bisnis yang sehat di samping orientasi terhadap konservasi. Perlu mengembangkan wisata Danau Toba dengan perencanaan yang komprehensif. Langkah pemerintah untuk memperbaiki aksesibilitas ke Danau Toba seperti pembangunan Tol Medan Tebing dan selanjutnya ke kawasan Danau Toba merupakan langkah yang patut diacungi jempol.

Pada gilirannya, obyek menarik berupa alam, seni budaya, legenda, makanan lokal, dan sebagainya di wilayah ini dapat  terus dikembangkan sebagai obyek wisata. Masyarakat dan aparat desa harus lebih menerima dan memberikan dukungan yang tinggi terhadap wisata. Disamping itu keamanan harus terjamin, jangan sampai ada pengunjung kehilangan sekecil apapun seperti sandal, tas dan lainnya. Disamping itu perlu akomodasi, telekomunikasi, dan tenaga kerja yang memadai. Intinya, Manajemen daya tarik wisata adalah suatu upaya untuk memanfaatkan tempat, potensi wisata, objek wisata dengan cara mengatur, membina dan memelihara objek serta wisatawan dengan organisasi pengeola yang ada melalui perencanaan yang matang sesuai tujuan dan sasaran  sebagaimana disampaikan Fandeli, 1995.

Sembari sayup-sayup terdengar lagu "O tao toba Raja ni sude na tao Tao na samurung na lumobi ulimi", kini saatnya membangkitkan bidadari tidur Danau Toba, menjadi Monaco Asia :" Danau Tobamu, Danau Tobaku, Danau Toba Kita".
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru