Jakarta (SIB)- Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional atau Kepala Bappenas Sofyan Djalil mengatakan, pendidikan tinggi justru tidak membuat seseorang menjadi independen tetapi malah semakin bergantung.
"Pendidikan tinggi tidak mendorong seseorang menjadi wirausaha. Malah semakin tinggi pendidikan seseorang, maka dia semakin bergantung kepada pekerjaannya," ujar Sofyan dalam pembukaan rapat kerja Pengurus Besar Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB PII) di Jakarta, Jumat.
Dia menambahkan seseorang yang berpendidikan tinggi enggan untuk memulai menjadi pengusaha. Sebaliknya justru masyarakat yang berasal dari pendidikan rendah banyak yang menjadi pengusaha.
"Hanya empat persen lulusan perguruan tinggi yang memilih menjadi pengusaha, 96 persen lainnya memilih bekerja. Sementara untuk yang tamat Sekolah Dasar (SD) sebanyak 52 persen berwirausaha," tambah dia.
Dengan kata lain, lanjut dia, sistem pendidikan di Tanah Air tidak membuat seseorang menjadi independen. Masyarakat masih memandang sebelah mata para wirausaha.
Sofyan menceritakan dulu di Kudus, merk rokok Jambu Bol sangat terkenal bahkan melebihi Gudang Garam. Akan tetapi kemudian, anak-anak dari pemilik pabrik rokok tersebut malah memilih berkarir di tempat lain. Akibatnya pabrik rokok tersebut tidak berkembang, malah di kemudian hari bangkrut.
Sebaliknya Gudang Garam, anak-anak dari pemilik pabrik rokok tersebut berkarir di perusahaan itu dan berhasil mengembangkan perusahaan rokok tersebut.
"Saya bertemu dengan anak bungsu dari pemilik pabrik rokok Jambu Bol tersebut, waktu itu sudah menjadi "General Manager" di PLN, dia mengatakan kalau jarum jam bisa diputar kembali maka saya selepas dari Institut Teknologi Bandung (ITB) akan balik ke Kudus," kata dia.
Begitu juga di Tanah Abang, Sofyan menyebut pada 1970-an banyak pengusaha Muslim yang berjaya di daerah tersebut. Akan tetapi seiring waktu, banyak anak-anak dari pengusaha itu yang memilih berkarir di tempat lain.
"Kita lebih menghargai pekerja kantoran dan jarang menghargai bisnis."
Sofyan yang juga alumni dari PII tersebut menambahkan bahwa saat ini sektor wirausaha harus menjadi fokus umat Islam.
"Beberapa waktu terakhir, kita terlena dengan euforia politik dan sedikit yang masuk ke wirausaha. Oleh karena itu harus diubah trennya, saran saya buat adik-adik jangan terlalu lama menjadi aktivis melainkan harus berwirausaha," imbuh dia.
Ketua Umum KB PII, Nasrullah Larada, mengatakan dalam raker tersebut terdapat tiga isu strategis yang dibahas yakni pendidikan, kemandirian ekonomi serta politik yang berdaulat.
"Pada era kemarin, kita terlalu sibuk dengan euforia politik sekarang saatnya kita memperhatikan dua sektor lainnya yakni pendidikan dan kemandirian ekonomi."
Nasrullah mengatakan hasil raker tersebut akan dijadikan rekomendasi ke pihak pemerintah.
(Ant/h)