Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 25 April 2026

Sistem Pendidikan Di Indonesia Belum Mencerminkan Rasa Merdeka

- Senin, 24 Agustus 2015 15:30 WIB
503 view
 Sistem Pendidikan Di Indonesia Belum Mencerminkan Rasa Merdeka
Yogyakarta (SIB) - Sistem pendidikan kita belum mencerminkan rasa merdeka, sebab sarjana-sarjana Indonesia masih terbelenggu dan tidak memiliki jiwa  entrepreneur.

"Pendidikan di Indonesia tidak menciptakan lapangan kerja, tapi justru merengek-rengek meminta pekerjaan, sarjana kita selalu mengandalkan lowongan kerja, berbondong-bondong melamar menjadi PNS,"  kata Prof Dr Syafii Maarif saat pidato kebangsaan kampus Universitas Sanata Dharma (USD)  dalam acara "Indonesia 70 Tahun: Kemerdekaan, Demokrasi dan Partisipasi Masyarakat", di Yogya, Jumat (21/8) malam.

Kemerdekaan, ujar Buya, masih diartikan sebatas mengusir penjajah. Sedang masalah kemiskinan, korupsi, ketimpangan pembangunan kota dan desa, kerusakan ekologi, intoleransi, kasus pelanggaran HAM dan kekerasan berlatar SARA tetap menjadi problem keseharian bangsa kita yang membuat kita tetap tertindas dan terpenjara.

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini melihat bertumpuknya persoalan seharusnya kita menyadari kemerdekaan memang tidak bisa diurus sendirian, melainkan harus diisi dengan keterlibatan masyarakat untuk memperkokoh kemerdekaan tersebut.

Syafii kemudian mengutip isi pidato Bung Karno yang disiarkan RRI dan televisi beberapa waktu lalu. Dalam pidato itu, Bung Karno mengatakan melawan penjajah itu mudah, tapi melawan bangsa sendiri itu sulit.

Buya mengatakan, sifat penjajah itu adalah eksploitatif, memeras dan diskriminatif. Meski sekarang ini Indonesia sudah tidak dijajah Belanda dan Jepang namun justru dijajah oleh londo ireng.  "Sekarang dilakukan londo ireng dan masih berlangsung," kata Buya.

Masih banyak hak-hak minoritas yang kurang dihargai. Aksi kekerasan dengan mengatasnamakan apapun juga masih ada. "Itu tidak boleh ada lagi," sebut guru besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini.

Buya kembali menegaskan, tujuan merdeka adalah kesejahteraan umum, mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh bangsa Indonesia. Namun, selama 70 tahun merdeka, keadilan sosial belum dijadikan pedoman utama dalam pembangunan.

"Semua itu adalah salah kita sendiri. Jangan ada pikiran untuk menyalahkan pihak lain," ujar Buya.

Menurut Buya, salah jika kondisi bangsa seperti ini adalah akibat dijajah selama 350 tahun. Buya menyatakan anggapan itu salah. Benar sebagian wilayah Indonesia dikuasai VOC. Aceh pun dikuasai sampai 30 tahun.

"Jadi, kalau kita mengatakan kita pernah dijajah selama 350 tahun, maka itu adalah mengingkari fakta sejarah, masih banyak wilayah yang tidak tersentuh VOC. Jika saja Belanda tidak masuk wilayah Indonesia, barang-kali sampai saat ini tidak ada NKRI," ujar Buya.

Dari kaca-mata Buya, ada baiknya Belanda menjajah Indonesia, karena dengan itu Indonesia menjadi bersatu dan merdeka.

Sebagai salah satu tokoh agama, Buya pun berkomentar bahwa segala bentuk intoleransi beragama, harus disudahi. Kuncinya, tulus beragama. "Bahkan kaum atheis pun berhak hidup di muka bumi," tegas Buya. (SP/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru