Stockholm (SIB)- PK Mahanandia, empat bulan bersepeda dari New Delhi, India menuju Boras, Swedia. Pada 22 Januari 1977 itu, usianya baru 24 tahun. Mengayuh pastinya melelahkan. Akan tetapi, tekadnya lebih besar dari rasa letih. Dia ke Swedia mengejar cinta seorang perempuan Eropa bernama Von Schedvin.
Kisah bermula ketika Mahanandia bertemu dengan Charlotte von Schedvin pada 1975, murni kebetulan. Mahanandia bekerja sebagai seniman sketsa di Connaught Place, suatu pusat perbelanjaan dan bisnis di Delhi. Sementara Schedvin waktu itu mengunjungi India sebagai wisatawan.
Dalam ulasan Oddity Central, Kamis (16/3), suatu hari, Schedvin sedang berjalan-jalan di sekitar Delhi dan melihat ada seorang pemuda berambut keriting memajang papan penanda bertuliskan, "satu foto 10 menit hanya 10 rupe." Penasaran, Schedvin pun mencobanya.
Perempuan berambut panjang dan pirang itu duduk di depan Mahanandia untuk dilukis wajahnya. Sesaat, perasaan aneh merasuki Mahanandia. Dia merasa gugup, mendadak tangannya bergetar hebat. Tak bisa berhenti. Schedvin pun kecewa dengan hasil lukisannya.
Namun begitu, keesokan harinya Schedvin kembali lagi ke tempat Mahanandia membuka lapak melukisnya. Dia minta dibuatkan yang baru. Sekali lagi, hasilnya mengecewakan. Schedvin baru tahu alasannya ketika mereka menikah.
Mahanandia lahir dalam kasta terendah di India. Jadi dia tumbuh besar dengan diskriminasi dari orang-orang yang kastanya lebih tinggi. Lalu setiap kali dia merasa terkucilkan, ibu Mahanandia selalu mengatakan, kalau saat besar nanti, dia akan menikahi seorang perempuan yang zodiaknya Taurus, datang dari negeri yang jauh, dia bisa jadi seorang pemusik dan punya hutannya sendiri.
Tepat ketika mata Mahanandia bertemu dengan dua bola mata Schedvin, seolah semua nubuat ibunya menjadi kenyataan. "Dialah belahan jiwaku," pikirnya. "Akan tetapi, saya tidak menanyakan namanya dulu. Saya malah tanya apakah dia lahir di bulan Mei, berzodiak Taurus dan punya sebuah hutan. Dan dia menjawab ya untuk semua pertanyaan itu. Sejak itu, saya yakin kami ditakdirkan untuk bertemu. Saya katakan, dia akan menjadi istri saya. Setelah saya mengatakannya, saya ketakutan. Takut dia lari melapor ke kantor polisi yang letaknya memang dekat," tutur Mahanandi.
Schedvin tentunya tidak melaporkan pria aneh tersebut. Walaupun pertanyaannya terkesan tak lazim, tetapi dia merasa Mahanandi orang jujur. Entah mengapa, dia juga merasakan ketertarikan yang sama. Wisatawan asing itu akhirnya terus menemui pelukis jalanan tersebut. Sampai tiga pekan kemudian, Mahanandia memberanikan diri membawa sang pujaan hati pulang ke kampung halamannya di Orissa (sekarang Odisha), India. Di sana, mereka menikah seturut tradisi India.
Namun tak berapa lama setelah itu, tiba waktunya bagi Schedvin bersama teman-temannya pulang ke Swedia. Dia menawarkan suaminya uang untuk membeli tiket pesawat, tetapi pemuda itu terlalu gengsi untuk menerimanya. Dia berjanji akan menyusul nanti.
Selama setahun, pengantin baru ini bercinta melalui surat saja. Keuangannya tidak kunjung membaik, jadi Mahanandia belum bisa membeli tiket pesawat menyusul istrinya. Namun dia tidak menyerah pada cintanya begitu saja. Alhasil, dia jual semua harta bendanya. Uangnya dia pakai untuk membeli sepeda, seharga 60 rupe saat itu. Dia pun mengayuhnya, sedikit demi sedikit, naik turun, belok ke kanan dan kiri, terus melaju ke daratan Eropa yang asing baginya. Mahanandi meninggalkan Delhi pada 22 Januari 1977. Dia bergerak melintasi Pakistan, Afghanistan, Iran dan Turki demi menyeberang ke Benua Biru.
"Kaki saya sakit, tetapi keinginan kuat untuk bertemu Charlotte dan melihat tempat baru membuat saya terus maju. Jiwa seni saya banyak membantu. Saya bertahan hidup dengan uluran tangan orang-orang, sebagai gantinya saya membuatkan lukisan wajah mereka," kenangnya.
Selain fisik, kendala terbesarnya adalah bahasa. Namun dia berhasil melalui semua itu. Pada 28 Mei, akhirnya dia menjejakkan kaki jua di Eropa. Dia bersepeda ke Venice, Italia. Dari situ, dia mempensiunkan sepedanya dan naik kereta menuju Gothenburg, Swedia.
Setibanya di Gothenburg, masih 70 kilometer lagi untuk sampai di Boras. Di rumahnya, Schedvin sudah menunggu. "Ketika dia melihat saya, dia sangat terharu. Saya bilang, 'Maaf saya pasti bau sekali', tetapi dia memeluk erat saya dan tertawa," sambungnya.
Tempat baru memberinya banyak pengalaman tak ternilai. Mahanandia mengaku sama sekali tidak punya gambaran soal kebudayaan Eropa. Semua terasa amat baru baginya, tetapi istrinya setia mendukung setiap langkahnya. Mahanandia kemudian menjadi guru seni lukis. Beberapa hasil guratan tangannya bahkan sudah masuk ke galeri-galeri di penjuru Eropa untuk dipamerkan. Schedvin seperti yang diramalkan ibu Mahanandia, berkarier di bidang musik.
Dari pernikahan ini lahir dua anak, Emelie (31) bekerja di bidang tekstil sebagai ekonom, da Karl Siddharta (28) berprofesi sebagai pilot helikopter. Bak Negeri Dongeng, pasangan beda benua ini hidup bahagia, mungkin untuk selama-lamanya. (okz/d)