Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 29 April 2026

Alergi Wi-Fi, Gadis 15 Tahun Bunuh Diri di Hutan

- Minggu, 06 Desember 2015 15:39 WIB
418 view
Alergi Wi-Fi, Gadis 15 Tahun Bunuh Diri di Hutan
Oxfordshire (SIB)- Seorang Ibu mengklaim anak gadisnya meninggal dunia karena alergi Wi-Fi, dan menuduh sekolahnya gagal dalam menghadirkan lingkungan sekolah yang aman. Jenny Fry, seorang gadis 15 tahun dari Chadlington. Oxfordshire, ditemukan tewas di area hutan dekat rumahnya, pada 11 Juni tahun ini. Sebelum meninggal ia mengirim SMS ke temannya, mengatakan ia tidak pergi ke sekolah dan berencana bunuh diri.

Pemeriksaan resmi mendengar bahwa remaja ini cerdas dan terorganisasi, namun hidupnya dibuat sulit karena ini memiliki k o n d i s i e l e c t r o - hypersensitivity (EHS)— sensitifitas berlebihan terhadap sinyal elektronik. Ibu Jenny, Debra Fry, mengungkapkan bahwa anak perempuannya mengalami kelelahan, sakit kepala, dan masalah buang air kecil, karena koneksi internet nirkabel di sekolah Chipping Norton tempatnya belajar. Jenny sudah menunjukkan tanda-tanda EHS sejak November 2012. Semakin dekat dengan ruter nirkabel, semakin buruk kondisi tubuhnya. “Jenny merasa tak enak, dan begitu juga saya,” ungkap Debra dikutipT elegraph, Selasa (1/12), “Saya melakukan riset dan menemukan bagaimana bahayanya Wi-Fi, sehingga harus dibawa ke luar rumah. “Baik Jenny dan saya baikbaik saja di rumah, namun Jenny merasa tak enak badan di area-area tertentu di sekolahnya.

“Ia sering dihukum, bukan karena mengganggu murid lainnya atau berperilaku buruk. Namun seringkali karena ia keluar ruang kelas untuk mencari tempat mengerjakan pekerjaan sekolahnya. Ia menganggap serius tugas sekolahnya. “Saya mengambil banyak informasi ke sekolah untuk menunjukkan pada kepala guru, Simon Duffy— namun ia mengatakan ada banyak informasi serupa yang meng-klain bahwa Wi-Fi aman. “Saya juga berdebat dengan para guru, menjelaskan bahwa Jenny alergi terhadap Wi-Fi dan tak masuk akal menghukumnya di dalam ruangan yang membuatnya merasa sakit.” Debra mengatakan, “Jenny meninggal setelah berteriak meminta pertolongan. Ia mengirim pesan ke temannya bahwa ia ingin mati, namun tidak mengatakan lokasi keberadaannya.” “Jika ia berencana bunuh diri, ia tak akan mengungkapkan keberadaannya. Namun, temannya tak memegang ponselnya, sehingga tidak melihat pesan Jenny tepat waktu. “Jenny meninggalkan surat pada kami, mengatakan ia tak sanggup mengatasi kondisinya.

“Ia ingin mendapat nilai bagus dan ingin masuk universitas, namun Wi-Fi berdampak buruk pada pendidikannya. Sampaisampai, ia harus bersembunyi di kelas tak terpakai untuk menghindari Wi-Fi. “Dalam kelas ada aturan duduk, namun jika ia dekat dengan ruter, ia akan mengalami sakit kepala dan menjadi sangat terganggu. Jika menjauh, ia akan merasa lebih baik— sehingga ia mencari-cari area sekolah yang tidak diliputi sinyal Wi-Fi untuk melakukan tugas-tugasnya. “Saya ingat ketika saya menghadap sekolah dan berkata ‘jika seseorang punya alergi kacang, Anda tidak memaksa mereka belajar dikelilingi kacang. “Hanya karena Wi-Fi baru, tidak berarti membuat kita aman. Wi-Fi dan anak-anak tidak cocok.

Perlu banyak riset dilakukan mengenai topik ini, karena saya percaya Wi-Fi membunuh anak saya.” Simon Duffy, guru kepala mengatakan, “Keamanan muridmurid di sekolah itu penting, dan keamanan jenny di sekolah sama pentingnya dengan anak-anak lainnya. “Seperti ruang publik kainnya, sekolah Chipping Norton memasang Wi-Wi untuk membuat pekerjaan lebih efektif. “Pemerintah cukup puas dengan memasang perlengkapan dengan pengaturan yang relevan dan memastikan kasus ini akan berlanjut.” Koroner Oxfordshire merekam prediksi naratif, namun tidak mengikutsertakan faktor terkait EHS, dengan menyatakan bahwa tak ada catatan medis yang membuktikan Jenny menderita kondisi itu. (Mdk.com/l)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru