Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 04 April 2026
Cerpen

Kau Mulai Ku Akhiri

* Karya Adoar Michael Hutapea, Sibolga Selatan
- Minggu, 17 Juli 2016 15:07 WIB
315 view
Kau Mulai Ku Akhiri
Siapa sih yang tak bangga dipuji cewek? Katanya, aku tampan. Memang, kuakui raut wajahku tidak jelek-jelek amat. Meski aku tinggal di pelosok kampung yang mungkin tidak ada di google map bahkan tak termasuk di Atlas, tapi face yang kumiliki tidak seperti kawan-kawan seusiaku di desaku. Meski rahangku besar tapi tak petak persegi. Justru kelihatannya kokoh dan berkarakter.

Katanya, fisikku atletis. Sungguh, ucapan itu bukan cuma manis di bibir. Bangun tubuhku mendekati 180 cm. Seukuran itu, tubuhku masuk kategori jangkung. Itulah sebabnya aku digolongkan berpostur orang Barat. Ditopang pekerjaanku di sawah, tak perlu lagi aku ikut fitnes dan lain sebagainya untuk membentuk otot biar mekar. Mencangkul justru lebih sehat dan berbobot sebab tiap saat mengirup udara segar tanpa polusi.

Katanya, aku bisa dibawa ke tengah pergaulannya. Jika bersama kawan-kawannya, aku ikut nimbrung ngerumpi. Ya iyalah aku tahu topik-topik hangat karena suka online.

Katanya, aku seperti kaum metroseksual. Handsome alami tanpa parfum. Memang, selain suka yang alami, keringat tubuhku tidak bau. Kalau yang satu ini, aku tidak tahu kenapa. Yang pasti, aku mandi minimal 4 kali sehari di air pancur di dekat sawahku.

Katanya, ia suka padaku. Ini yang membuatku meleleh dan melayang. Soalnya, baru kali ini ada perempuan terus terang suka padaku. Selama ini, aku yang nembak cewek.

Tidak sama seperti aku, perempuan yang suka padaku dari keluarga berada. Konon kabarnya, padi-padi hasil panen di wilayahku, orangtua si cewek pengelolanya untuk ekspor. Memang, kehidupan si cewek benar-benar mewah.

Tengoklah busana dan aksesoris yang menggelantung di badannya. Kayak toko berjalan. Hampir semua perhiasannya berlian. Minimal emas putih yang harganya lebih mahal ketimbang seluruh warisan orangtuaku.

Tetapi, di situ pula aku tak suka. Soalnya, bila jalan bareng, mulai dari anak muda gedongan hingga tukang becak, memerhatikannya. Ada yang bilang aku sopirnya. Ada yang bilang aku pengawalnya. Ada yang bilang aku bodyguardnya. Puih, suka-suka kalianlah.

Yang lain yang tak kusuka, ia senang dijilat. Kalau naik atau turun dari mobil, maunya dibukakan pintu. Kalau habis makan di resto, maunya aku yang membereskan piring dan menawarkan tisu. Kalau mau nonton, aku yang ngantre atau lebih dulu datang membeli karcis. Memang seluruh kebutuhan digenapinya. Tapi aku ini kan kekasihnya, bukan jongosnya. Aku ini, minimal kan rekan segandengannya, bukan pesuruhnya.

Aku sudah protes, tapi ia malah nangis. Menuduhku gak sayang padanya dan cuma memerhatikan hartanya. Aduh, sedihnya.

Suer, aku gak matre. Aku memang memerhatikan apa yang dikenakannya karena takut kenapa-kenapa. Masih mending dirampok hartanya, jika sampai-sampai kena begal dan mencederai fisik atau nyawanya? Tetapi, yah...terserahnyalah.

Aku tetap pada pendirianku. Inilah hidupku, lelaki kampung yang biasa tertimpa matahari dan mudah-mudahan tak akan silau dengan harta orang. Meski perempuan itu kekasihku, kan belum milikku. Status masih pacaran, bisa bubar sebelum tenda biru digelar. Yang sudah suami istri saja bisa cerai, tapi mudah-mudahan perpisahan dalam pernikahan di hidupku tidak terjadi. Pantang dan tak dibenarkan sesuai keyakinanku.

Ironisnya, semakin diingatkan, pacarku semakin menjadi-jadi. Kubilang bahwa kami tak sepaham, ia tak mau pisah. Sakali saja aku tak mengapelinya, sepuluh kali ia ngamuk. Marah dan memaki. Ia bahkan mengancam beraksi nekat.

Sepanjang malam aku berpikir, mau dibawa ke mana hubungan ini. Aku merasa sudah tak sanggup. Sampai-sampai, aku menulisnya di akun pribadiku. Respon yang kudapat luar biasa. Ada satu psikolog muda minta ketemu. Aku pun mau karena hendak dapat advis.

Pertemuan pertama dan kedua, lancar. Pertemuan ketika ketahuan sama pacarku. Ia datang dan berteriak-teriak. Paling fatalnya, jus alpokat disiramkannya dari rambut hingga wajah dan mengotori bajuku. Aku dibuatnya malu, sakit hatiku.

Tetapi di medsos, ia berkoar-koar aku selingkuh. Followernya bahkan bilang, aku lelaki tak tahu diuntung dan benalu.

Ah, yang gak taunya mereka itu. Biarlah, waktu akan membuktikannya siapa aku ini. (h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru