Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 04 April 2026
Curhat

Yang Lebih Khidmat di Kantin Lek Giman

* Kamil Harahap, SMAN 2 Rantau Selatan - Sigambal Rantauprapat
- Minggu, 04 September 2016 16:33 WIB
404 view
Yang Lebih Khidmat di Kantin Lek Giman
Aku merasa jadi obyek doktrin. Di rumah, orangtua terus bilang bahwa aku harus rajin dan tekun belajar. Tiap hari. Apalagi saat dekat ujian. Begitu terima rapor, aku jadi obyek pembandingan. Jika hasil tidak maksimal, habislah aku... pasti diamukin dengan ragam umpatan.

Di sekolah begitu juga. Semua guru yang masuk, tetap mewanti: rajin belajar. Kejar nilai setingginya. Memang, ketika masuk sekolah favorit, aku ingin menjadi yang terbaik. Namun kalau dalam perjalanan, tidak demikian, kan gak bisa dipaksa! Apakah aku harus membeli agar nilaiku tinggi. Jika nilai sudah baik, lulus...trus mau ke mana?

Terus terang, aku bosan dengan yang namanya rumah dan kelas. Terbayang wajah orangtua dan guru yang mendoktrin untuk rajin belajar. Belajarrr.
Kebalikannya, semakin banyak belajar, aku semakin bodoh. Tengoklah. Kawan-kawanku gaj gila belajar justru jago main bola. Ingin jadi Messi, kali. Aku juga ingin setenar CR7. Nek coyo...

Tapi bagaimana aku bisa meraih cita-cita jadi pesepakbola jika waktuku habis di kelas dan belajar di rumah tanpa ke lapangan rumput? Jujur kukatakan, aku mulai malas belajar. Semaksimalnya aku mengikuti pelajaran di sekolah, tapi tak ada pelajaran yang kutangkap. Itulah sebabnya aku lebih suka nongkrong di kantin Lek Giman.

Duduk-duduk di kantin sambil membuka buku membuatku betah. Apalagi pakai dengar musik dari smartphone. Makin asyik dan khidmat. Hanya saja, guru-guru jadi marah dengan aksiku. Aku mulai tersudut. Aku diancam akan dikeluarkan jika masih cabut dari kelas dan nongkrong di kantin Lek Giman.

Aku mengalah. Aku memaksakan diri masuk kelas. Tapi kondisi tubuh jadi drop. Aku selalu ngantuk bahkan tertidur. Kalo sudah begitu, aku makin menderita. Bolak-balek permisi ke kamar mandi untuk membasuh wajah. Saking seringnya, guru tak percaya bahwa aku hanya sekadar ngantuk. Sedihnya, aku dicurigai narkobais. Ya, Allah segitu jeleknya aku di mata mereka.

Semakin sedih karena semakin aku melawan rasa malas di kelas, semakin susah aku belajar. Seterusnya, jika sudah di kantin Lek Giman aku mampu mengingat pelajaran. Aku sampai berpikir, apakah di kantin ini ada malaikat cantik yang membuatku betah? Ah, tahayul.

Tetapi, ketahuilah bahwa aku ingin menjadi yang terbaik. Tak hanya mengharumkan nama sekolah tapi juga bangsa dan negara seperti harapan orangtua. Amin. (r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru