Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 04 April 2026
Cerpen

Dengarkan Suaraku, Ada Diam di Mataku

* Karya Kairul Darmono Padang - Galang, Deliserdang
- Minggu, 11 September 2016 13:51 WIB
339 view
Dengarkan Suaraku, Ada Diam di Mataku
Dari jauh aku terus mengamati gerak-geriknya. Aku sengaja datang 2 jam lebih awal. Niatnya ingin mengorek informasi, ke mana sih dia malam Minggu lalu. Dugaanku, ada yang lain di hatinya hingga ia tega-teganya membatalkan sepihak.

Uniknya, alasannya klise banget. Keujanan. Trus gak dikasih nyokap ke luar rumah. Kalau emang gak dikasih, kok tak memberi kabar. Tega banget menelantarkan aku sendiri di stasiun. Mana hujan lebat tidak seperti biasanya. Saking setia menunggunya, kulawan dingin yang menusuk tulang.

Kali ini, aku tak mau kehilangan momen lagi. Sengaja aku mendekatkan diri ke tukang parkir. Bertanya basa-basi dan ujung-ujungnya tentang dia. Dan jawaban seperti kecurigaanku mengemuka.

"Nggak kok. Kayaknya Iko pulang tepat waktu," ujar si abang dengan nada yakin. Tetapi sorot matanya menatapku dengan curiga. "Abang siapanya Iko? TTM ya!"
Kurang ajar. Lancang sekali petugas pengatur lalu-lintas ini. Geram aku dibuatnya. Apa modelku seperti pecundang?

Tetapi aku coba senyum. Kusodorkan tanganku dengan lembut padanya. Aku memperkenalkan diriku. Dengan jujur pula kukatakan aku teman istimewa Iko.

"Pacar Iko? Kayaknya...," si tukang parkir menghentikan ucapannya. Sekarang menatapku lebih dalam, menikam jantungku. Ingin kutoyorkan sorot matanya yang memberengku begitu curiga.

"Kenapa? Iko sudah punya pacar ya?"

"Maklumlah. Iko kan cantik. Pintar lagi. Wajar kalau banyak lelaki suka padanya!"

"Hmm... jadi wajarlah aku suka sama Iko, kan!"

"Terlambat!"
Aku makin geram. Baru kenal kok langsung benci pada lelaki yang badannya bau busuk. Sama seperti hatinya yang langsung mencap negatif orang lain. Contohnya aku.

Sudahlah. Aku tetap senyum tapi langsung pergi. Menyesal aku bicara sama anak tak punya pendidikan seperti itu. Maksudku, kalau Iko sudah punya pacar, tidak perlu cerita sama aku. Biar saja tahu sendiri agar tidak sakit hatiku seperti ini.

Tetapi, inilah aku. Semakin ditelikung seperti ini, semakin aku ingin menjadi pemenang. Aku memang bukan pecundang. Sekarang kuberanikan diri datang ke rumah Iko. Padahal, sudah diwanti-wantinya untuk jangan pernah berpikir apalagi mengunjunginya di rumah.

Iko beralasan orangtuanya akan murka bila tahu anaknya didekati pria. Tetapi, tidak ah. Saat aku datang, nyokapnya wellcome kok. Aku bahkan diposisikan sebagai tamu terhormat. Namun Iko tidak di rumah. Ngakunya ada kerja bakti di panti asuhan.

Aku pura-pura tak kecewa. Kuhabiskan malam itu di rumah Iko. Cerita ke sana ke mari tapi tak secuil topik pun masuk ke otakku. Kuambil saja hikmahnya.  Kehadiranku ke rumah Iko membuka kemungkinan datang lagi.

Memang, tak hanya malam Minggu, aku terus senang datang. Tetapi, kan tidak mungkin ketemu dengannya karena Iko ngekos di kota. Tiap akhir pekan pulang ke kampung.

Aku cuma curiga, jangan-jangan Iko punya profesi lain selain mahasiswi. Buktinya, ia berpenampilan modis. Tubuh seksinya dibungkus busana dari bahan pilihan. Tidak seperti gadis kampung lainnya. Padahal, orangtuanya mengaku mengirim uang pas-pasan untuk biayanya.

Kawan Iko pun ada yang berpendapat seperti aku. Setelah kucari tahu, Iko memang kerja di kelab malam. Ah, berperan ganda kah?

Aku ikuti saja langkahnya. Tiap malam aku jadi keluyuran. Sengaja menunggu di depan rumah musik tempat Iko berkarier. Begitu ia pulang diantar, kuikuti. Rutin kulakukan dan seterusnya....

Sebab tak ada kesempatan mendekat lebih dalam. Sengaja aku menjadi tamu di tempat kerjanya. Berulang aku datang tapi tak pernah ketemu dengan Iko. Banyak orang kutanya, semua tak tahu tentangnya. Kupikir, ia memakai nama palsu. Ada satu pramuria kukencani. Orangnya cantik luar biasa tapi adabnya kubenci.

Pramuria itu pun tak kenal siapa Iko. Saking geramnya selalu ditolak Iko, baik melalui telepon maupun bertemu langsung, aku limbung. Alkohol jadi rekanku.
Bahkan sampai tak sadar diri aku jatuh di kamar mandi. Antara sadar dan tidak, tiba-tiba kulihat sosok Iko sedang membersihkan kamar mandi. Membersihkan muntahku.

Saat terkapar itulah Iko memelukku. Ketika siuman, ia marah-marah, memaki dan menyumpahiku. Aku bermohon. Kukatakan, semua yang terjadi karena cintaku ditolaknya.

"Karena itu kau mabuk-mabukan, membuang uang?"

"Kaudengar suaraku, pasti tidak ada bohongku. Aku diam tapi mata hatiku mengharapmu. Aku diam karena menunggumu, tapi kau abai!"

Iko diam. Dihapusnya wajahku dengan kain segar yang memberi kehangatan hingga batinku. (q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru