Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 04 April 2026
Curhat

Membecak Itu Mulia Lho...

* Eggy Tarigan - Tanahtinggi Binjai
- Minggu, 09 Oktober 2016 16:41 WIB
373 view
Membecak Itu Mulia Lho...
Dulu, waktu masih di sekolah, kalau malas mengerjakan PR dan belajar, mamakku bilang: "Mau jadi apa kau nanti, tukang becak!"

Mamakku memang guru. Namanya Agustina Rehulina Br Panggabean. Mendidik anaknya seperti muridnya di kelas. Membimbing dengan total. Bapakku, B Tarigan, petani. Menggarap lahan di Namusirasira, Binjai dekat dengan Raider 100 / PS. Keduanya menanamkan hidup disiplin yang sehat pada anak-anaknya.

Dari keduanya kutahu dan kumiliki semangat serta perjuangan hidup agar memiliki masa depan gemilang. Menurut mereka, hanya pendidikan dan moral agama yang mampu mengantar individu ke cita-citanya. Andai tidak berhasil, berarti takdir berkata lain.

Seperti aku. Berminat menimba ilmu semaksimalnya tapi karena biaya tak ada, harus memrioritaskan kedua adikku melanjut studi ke AMIK MBP. Itu pun dilakukan dengan susah payah. Kedunya ngekos di rumah kerabat di Pancurbatu. Bagiku anak perempuan yang harus sekolah setingginya karena tidaklah mungkin kaum Hawa dapat kerja dengan mengandalkan fisik. Kalau lelaki, tentu mampu. Membecak, misalnya.

Seperti aku. Semula aku menjadi sopir mengangkut air gunung. Karena ada insiden yang mengakibatkan nyawa orang melayang, aku trauma berkarier sebagai sopir. Menarik becak pun tak apalah. Sebagian dari hasil kerja itulah yang kuperuntukkan membantu orangtua.

Yang jadi soal adalah yayangku. Kami sudah jauh berjalan bersama, tapi karena profesiku, belahan hatiku gengsi. Ia memiliki ijazah S1 dari UHN Medan. Apalagi sekarang sedang proses menjadi PNS. Status sosialnya semakin tinggi kebanding aku.

Kadang, sakit hatiku kena diskriminasi seperti itu. Apalagi jika dikaitkan dengan keluarganya yang rata-rata birokrat. Aku kadung menyayanginya. Yayangku minta hubungan ditingkatkan. Aku sih oke-oke tapi tak punya modal untuk membeli cincin atau apalah-apalah lain.

Sarannya, aku memilih kerja lain, misalnya jadi TKI. Masuk di akalku tapi sama saja. Membecak pun mendapatkan hasil. Bukankah bekerja yang halal adalah mulia? Aku pun bisa lebih mudah bertemu dengannya. Minimal saat mengantarkannya pulang pergi kerja!
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru