Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 04 April 2026
Cerpen

Cinta Di Atas Materai

*Karya; Thom Chadwick Panjaitan/SMP N 3 Sei Binggai-Langkat
- Minggu, 16 Oktober 2016 17:07 WIB
423 view
Cinta Di Atas Materai
Di depan cermin, Meta bolak balik menghela napas. Dalam lubuk hatinya mulai muncul kembali sifat menyalahkan sifat genetik yang bercokol dalam dirinya.
Gara-gara wajah jelek ini, hingga detik ini aku gak punya pacar. Apa kata dunia...?, Operasi plastik?" Ha..ha...ha ga mungkin No have money

"Ilmu dukun?"
Kamu cantik-cantik dari hati mu....kamu cantik-cantik dari hatimu,. Sejenak hatinya damai.

Selimut cinta memang penuh misteri. Teman sekolahnya ada yang tidak terlalu cantik, tapi beberapa laki-laki tertarik melihat saya? Apa yang salah?
"Riska....? Riska....?" teriak Meta sambil berlari mengejar teman kompaknya itu di gerbang sekolah.
"Ada apa, sobat?,"
"Bisa bantuin aku?,"
"Masalah apa?,"
Meta tidak menjawab, dia menarik tangan Riska menuju kantin yang sudah sepi.

"Jujur ya, Ris, aku cemburu loh lihat kalian semua sudah punya pacar," Meta tidak tahan lagi menyimpan isi hatinya yang berkecamuk selama ini.
"Maksudnya?
"Aku minta masukan, gimana caranya biar cowok mau melirik aku," suara Meta bergetar tanpa berani melihat wajah Riska.

"Tunggu-tunggu, sepertinya masalah serius. Kita habiskan dulu baksonya, biar ada energi kita membahas pergumulan hidupmu itu," Riska melahap baksonya cepat-cepat dengan senyum mengembang.

Hampir setengah jam, mereka larut mencari solusi percintaan itu. Akhirnya sebuah jurus jitu Riska mengakhiri pertemuan genting tersebut. Ide itu sangat berkenan di hati Meta.

"Good lucky...!" Riska menjabat Meta. Tawa mereka meledak-ledak.
***
Hari pertama Meta berhasil melakukan apa yang disarankan Riska. Perasaannya melambung di atas sepeda motor ukuran besar itu. Dia kelihatan tomboy dan dia merasakan tatapan mata cowok menohok hatinya. Suatu sore, setelah memarkirkan kereta, dengan gontai Meta menuju warnet mencari tugas-tugas yang disuruh guru. Saat menghidupkan CPU, Seorang cowok menghampirinya.

"Dek....yang naik kereta besar tadi kamu?,"
"Iya....ada apa ya?"
"Kuncinya tertinggal,"
"Terimakasih,"
"Lain kali hati-hati memarkirkan kereta," ucap cowok sambil menarik kursi di sampingnya.

"Iya...bang. Tadi buru-buru. Ada tugas yang harus dicari di internet,"
"Bisa abang bantu?,"
"Ups...satu cowok mulai masuk dalam perangkapku," ucap Meta dalam hati.

"Manjur juga, saranmu Riska....,"
"Sekolah di mana?,"
"SMU Ampera,"
"Dengar-dengar, itu sekolah anak orang kaya ya?,"
"Nggak ah...bang...!"
"Kaya hati...barangkali,"
Cowok itu tertawa lepas. Nampak deretan giginya tersusun rapi. Senyumnya terlihar menawan, membuat denyutan jantung Meta mulai agak lain.

"Inikah cinta? Aduh...nikmatnya sekali rupanya...," pikir Meta sambil pura-pura melihat monitor komputer.

Di parkiran, mereka kembali berbicara serius. Cowok itu barangkali sudah mulai terpikat dengan Meta, buktinya sebelum Meta menghidupkan kereta besarnya itu, cowok bertubuh tegap itu meminta nomor ponsel Meta.

"Hati-hati...," pesan cowok. Meta hanya menjawab dengan suara klakson.

***
Sejak melaksanakan "ritual" yang disarankan Riska, kehidupan percintaan Meta benar-benar mekar. Dan kini dia sudah resmi pacaran dengan Vino, cowok yang bertemu di warnet dua minggu lalu. Agar kelihatan lebih gaul, saat jalan-jalan berdua, Meta sengaja menyuruh Vino membawa sepeda motor besar itu. Kehadiran Vino, benar-benar mengubah penampilannya, karena Vino adalah cowok yang perduli.

"Metaa....cewek cantik itu tidak terlalu selalu dilihat dari penampilan. Cowok banyak yang tertarik melihat "inner beauty" dari seseorang wanita," gombal Vino saat mereka pacaran di taman bunga.

"Hmmm..semoga apa yang kamu ucapkan itu, tidak hanya selama berada di atas kereta besar ini," batin Meta tidak tenang.

"Ada yang mau saya sampaikan," ucap Meta saat mereka hendak pulang.

"Ada apa...sayang?,"
"Kamu benar-benar mencintai saya? Vino mengangguk.

"Saya mau, ini kamu tanda-tangani? Meta menyodorkan map dan refleks Vino membuka.

"Ha....surat pernyataan apa ini?," Vino tertawa sejenak.

Meta terdiam.

"Kenapa mesti ada surat pernyataan cinta di atas materai?,"

"Itu inisiatif saya sendiri, saya ingin, cinta yang kamu sampaikan kepadaku, dibumbuhi materai,"
"Ha..haa..ha....agak unik juga memang tapi gak apa-apa,"
Usai Vino menandatangani, ada pesan masuk dari Riska sahabat baiknya.

"Jangan lupa, dua hari lagi, abangku sudah pulang. Jika petualangan cintamu sudah berhasil, sepeda motor gede abangku jangan lupa kamu balikin, ha..ha..haa..."

'Vino ayo kita cepat pulang! Sepeda motor ini mau dipakai abangku" bohong Meta spontan.

"Sepanjang jalan, hati Meta tidak menentu....apakah Vino akan menyurutkan langkat cintanya, setelah ketahuan bahwa sepeda motor gede itu adalah pinjaman. Kalau cinta Vino palsu, dia pasti akan mundur. Mudah-mudahan materai 6000 ini akan menciutkan nyalinya untung berpaling. Materai ini jadi saksi.

Keesok harinya di kantin sekolah dua sahabat ini, tidak henti-hentinya ngakak.

Akan perjalanan sandiwara cinta yang mereka buat.

'Haha..ha....kamu licik Meta"
"Cinta di atas materai 6000?" tawa Riska metup-letup dan tangan mungil Riska bergetar saat membacanya. (y)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru