Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 02 April 2026

Jam Dinding

* karya Ponita - SMAN 2 Rantau Selatan, Rantauprapat
- Minggu, 06 November 2016 21:01 WIB
413 view
 Jam Dinding
Itha sudah kehabisan sabar karena Wawan belum juga siap untuk berangkat. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 07.00 WIB. Biasanya sih jarak tempuh dari rumah ke sekolah bisa 30 menit tapi kalau jalanan lengang. Artinya, masih ada waktu lima belas menit sebelum lonceng berbunyi.

Tetapi akhir-akhir ini banyak kali yang menyesaki jalanan. Macet. Belum lagi ada penggalian drainase yang lumpur dan tanah bekas galiannya berserakan menghalangi kelancaran arus lalu-lintas. Selain itu, semakin jam meninggi, semakin padat merayaplah lajunya. Soalnya, orang-orang yang mau ke kantor pun mengejar waktu.

"Waaan, cepatlah kau!" hardik Itha. Ia heran, Wawan itu remaja gagah atau keong terluka sih. Masih SMU tapi wajahnya sudah seperti om-om. Belum lagi kalau diperhatikan kumisnya. Sudah lebat, hitam dipanjangin lagi. Kayak mau dicatatkan di Guinness Book of Record aja. "Kalau malam Minggu bukan main kau cepatnya berdandan. Tapi kalau sekolah, lama kali. Kau itu mau sekolah, bukan mau berlenggok kayak peragawan!'

"Ya. Udah siap neh," balasnya sambil bergegas ke depan membawa tas ranselnya. "Cepatlah!"
Buru-buru keduanya berlari ke kendaraan yang membawa mereka ke sekolah. Sepanjang jalan, Itha ngerep terus. Wawan yang merasa bersalah diam saja diceramahi kakaknya. Tetapi, apapun alasannya, lonceng sudah berbunyi. Lek Giman pun sudah menutup gerbang. Siapa yang berani masuk, berhadapan dengan Guru BP. Yang tak berani masuk, alamat dipanggil orangtua ke sekolah guna mempertanggungjawabkan absen.

Itha sok pe-de. Memberanikan diri masuk. Baru melangkah dan belum menjejakkan kaki ke dalam, suara petir Guru BP menyetop langkahnya. "Kok terlambat? Kutip sampah di lapangan. Bila sudah selesai, ngadap ke kantor!"

Suara itu sekarang merendah tapi nadanya tetap menikam jantung Itha. Yang bikin miris, Wawan juga dapat hukuman seperti itu. Begitu pulang sekolah, Itha merepet panjang lebar lagi. Seperti  unjuk rasa sedang orasi.

"Alah, Kak. Hukuman sudah dijalankan. Tidak mungkin diralat!"

"Besok awas kalau terlambat!"
Malam itu Wawan patuh tapi di kamar yang dikerjakannya adalah OL, surfing dunia maya dan bertuankan Mbah Google. Ketika diketahui Itha aktivitasnya, langsung dijewernya Wawan.

Meski adiknya menjerit sakit, Itha tak peduli. "Besok, kalau kau terlambat, kutinggal!" umpatnya. "Tiduuur!"

Malam yang hening jadi ingar-bingar. Mamanya ikut urun-rembug dan terlibat menasihati Wawan. Tetapi, karena sudah terbiasa tidur larut, mata Wawan tak bisa diajak mejam.

Di balik selimut, walau matanya terpejam, lamunannya berlari entah ke mana. Ada sih cewek yang ditaksirnya. Cewek berkulit putih. Cewek yang suka melihat kumis. Itulah alasannya kenapa Wawan memanjangkan bulu yang berada di antara bibir dan hidung tersebut.

Wawan ingin meraih perhatian si cewek itu seratus persen. Tak mau setengah-setengah. Soalnya, ada cowok dari sekolah tetangga yang selalu bersamanya. Cowok itu pun berkumis.

Tak dapat menahan hasratnya, Wawan nekad nelepon si cewek malam-malam. Tersambung sih, tapi di sana tidak ada respon. Dicobanya lagi. Berulang-ulang tak juga dapat. Padahal ia ingin sekali mendengar suara si cewek. Sepotong kata saja pun jadilah.

Wawan kesal karena tidak ada jawaban. Tetapi, eh... kok di sana ada jawaban. Suaranya lembut, mendesah. Suara orang bangun tidur.

"Maaf, aku mengganggu," sambar Wawan.

"Ada apa malam-malam mengubungi?"
"Boleh aku jujur?"
"Emang selama ini kau berbohong padaku ya!"
"Bukan..."
"Jadi," suara di seberang sana semakin menghangatkan malam Wawan yang masih berada di balik selimut. "Aku ingin jujur tentang isi hatiku."
"Oho," jawab suara si cewek penyuka kumis tersebut. "Besok aja ya. Pagi-pagi kita ketemu di kantin!"

Klik. Telepon langsung ditutup.
Duhai, bahagianya Wawan. Karena janji ketemu sama cewek idaman, ia tak bisa tidur sampai pagi. Itha heran, kenapa Wawan sudah bangun tanpa diteriaki. Ada malaikat apa yang bisa mengubah tabiat malas bangunnya?

Tetapi ia tak peduli. Yang penting sampai sekolah tidak terlambat. Hari ini ia lega karena tidak terlambat. Bahkan dari balik jendela dilihatnya rekan sekelasnya dapat hukuman sama seperti ketika terlambat.

Hanya saja, ketika hendak pulak, Guru BP memberi tahu padanya bahwa hari ini Wawan tidak konsentrasi belajar dan selalu tidur di kelas. Laporan itu yang membuatnya geram. (l)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru