Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 02 April 2026
Cerpen

Celana Koyak

* Karya: Danil Fahnizar, SMAN 2 Rantau Selatan, Labuhanbatu
- Minggu, 13 November 2016 19:04 WIB
462 view
Celana Koyak
Aku, Zul dan Golap tak bisa menahan selera. Ketika diajak tanding 3 in one langsung menyanggupi. Apalagi pake taruhan. Motto kami, orang jual harus dibeli. Siapa takut?

Trio kami dikenal sebagai kelompok tak pernah kalah. Meski waktu mepet, tetap saja memaksimalkan kesempatan. Semata-mata ingin memenangkan pertandingan dan meraup keuntungan dari taruhan.

Tetapi kali ini lawan kami tergolong tangguh. Belum satupun gol tercipta. Baik dari trio kami maupun dari grup mereka. Tak ada bola menerjang jaring gawang. Itulah sebabnya kami semakin ngotot bermain. Apalagi dengan tambahan taruhan.

Demi menundukkan lawan, segala daya dilakukan. Apalagi di depan suporter yang sebagiannya cewek dari sekolah tetangga. Aku tidak mau kecolongan satu pun. Saking asyiknya bermain, aku tak sadar celanaku koyak.

Semula aku tak menyadarinya. Kalau tidak jadi bahan tertawaan cewek dari kelas tetangga, enak saja aku melenggang. Saking malu, aku berlindung di balik tubuh Golap. Tetapi dasar anak binal, sengaja pula ia teriak-teriak menyebut celanaku koyak.

"Biar ajalah. Tak ada yang selera samakan," tambah Zul, yang bikin aku makin malu.

Cepat-cepat aku berlari ke kelas. Tapi pelajaran kadung dimulai. Alhasil ketiganya kami dihukum berdiri di depan kelas.

Ya Tuhan... aku takut alang-kepalang. Kalau berdiri di depan sama artinya mempertontonkan celanaku yang koyak. Benar juga, ketika berdiri di depan, kawan-kawan langsung ngakak. Aku mati kutu.

Tetapi, memerhatikan sorot mata rekan sekelas, sepertinya bukan mengarah padaku. Tapi pada si Zul. Setelah kuperhatikan, celananya memang koyak. Tepat di bagian belakang.

Guru pun terheran. Diperintahkannya kami menghadap ke papan tulis. Begitu berbalik, langsung seisi kelas seperti mau pecah. Kawan-kawan berteriak: "Koyaaak...!"

Rupanya, celana kami bertiga koyak. Mungkin tak sampai hati melihat kami bertiga jadi bahan olok-olok, kami diperintahkan duduk. Dari sudut mata kulihat guru kami pun ikut tersenyum tapi menutupi tawanya.

Kehebohan tak berhenti. Ketika istirahat, aku minta tolong sama kawan-kawan dicarikan hekter. Begitu dapat, langsung kubuka celanaku di dalam kelas dan melem yang koyak dengan hekter. Tetapi Zul tak bisa. Kupaksa akan buka celana, tetap saja tak mau.

"Aku gak pakai celana dalam, Lontong!"

"Jadi kayak mana menghekternya?"

"Nungging aja ya!"

"Kaupikir aku pedofil?" makiku.

"Tapi aku tidak pakai dalaman," protesnya. "Bagaimana aku mau menanggalkan celanaku!"

Pelan-pelan aku menghekter celananya. Meski tak bagus, bisalah koyaknya tertutup. Kini giliranku menghekter celana Golap. Kali ini  lebih leluasa karena celananya lebih longgar.

Selesai mengerjakan celana keduanya, justru celanaku koyak lagi. Soalnya, aku terlalu lasak. Aku yang jadi obyek tertawaan kawan-kawan. Ada sih akal, pakai kancing peniti. Tetapi sama, saja... koyak lagi.

Kuberanikan memakai jarum pentul karena bisa lebih kuat. Ditambah plester hingga makin sempurna.

Begitu sekolah bubar, bertiga kami sama-sama menghambur seperti dikejar setan. Kalau biasanya masih nongkrong-nongkring di kantin, aku langsung tancap gas ke rumah.

Langsung membuka celana sialan tersebut dan melemparkannya ke keranjang baju kotor. Meski rintangan terlewati, di sekolah insiden masih saja dibahas kawan-kawan. Aku masih dalam pembelaan mereka karena sadar bahwa celanaku koyak. Ketimbang si Golap dan si Zul yang tak tahu jadi sorotan cewek-cewek, kan lebih parah.

Saking gemas jadi obyek tertawaan, aku sengaja melepaskan celanaku di depan kawan-kawan hingga cewek di kelas berteriak-teriak. Antara takut dan suka. Aku berani melakukan seperti itu karena menggunakan celana pendek di dalam.

Minggu pagi, aku cepat-cepat bangun karena ada janji taruhan 3 in one lagi. Sebelumnya, mencuci rendaman baju kotor seminggu. Saat serius, tiba-tiba jariku terluka dan mengeluarkan darah karena benda tajam. Periiih... Rupanya jarum pentul yang semula merekatkan celana koyakku belum kuurai hingga leluasa menikami jari-jemariku.

Cepat-cepat kuselesaikan tugasku. Biar jari berdarah dan masih terasa perih, tapi aku pantang ditantang untuk tanding. (y)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru