Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 04 April 2026

Sahabat Sejati

* Karya Ahmad Zigkri, SMAN 2 Rantau Selatan, Rantauprapat
- Minggu, 05 Maret 2017 18:49 WIB
365 view
Berat rasanya bagi Danu harus meninggalkan kampung halaman. Bukan semata karena harus berpisah pada keluarga tapi harus pula meninggalkan sahabat dekatnya, Dana.

Danu ke kota ingin melanjut studi. Bukan tak ada sekolah di daerah asalnya tapi omnya ingin agar keponakannya memiliki pengalaman lebih dari sekadar menjalani usia. Hidup di kota memang bukan lebih baik daripada di desa, tapi setidaknya melatih mental. Menempa kemandirian.

Danu berharap pribadinya mampu hidup dan meniti keberhasilan di kota. Meski berat tapi karena harus, Danu mencoba tegar. Ketika bus yang membawanya hendak membelok dan meninggalkan kelokan terakhir, ia mencoba menoleh ke belakang.

Aduh, tiba-tiba air matanya bergulir kencang. Di sana masih melambai Dana, sahabat baiknya.

Cepat-cepat Danu SMS pada Dana. Pesannya sama seperti saat perpisahan di kedai di ujung gang rumahnya. "Doakan aku. Doakan untuk keberhasilanku. Jika semua aral terlewati, aku mau Dana pun menyusulku. Secepatnya!"

Sampai di kota, semua ucapannya diingat Danu. Ingat pada orangtuanya. Tetapi di titik inilah Dana jadi sedih. Siapa lagi yang membantu emak mengutip ranting dahan di pinggir hutan?

Biasanya bersama Dana setiap petang, menyusuri pinggir hutan. Mengutip ranting dan membawa pulang ke rumah. Di bagi berdua, untuk emak dan orangtua Dana.

Ingat kebiasaan itu, Dana SMS lagi pada Danu. Tetapi, SMSnya tak berjawab. Maklum, signal tidak sebaik di kota. Kesibukan di kota pun kini membuat Danu jarang mengirim SMS.

Di kota, serba ketat dan capek. Pagi sampai siang, sekolah. Sore les. Malam mengerjakan pekerjaan rumah. Di celah itu, Dana ikut membantu omnya. Melayani pembeli. Bahkan, sambil belajar menempel ban.

Omnya punya kedai sampai dan membuka tambah ban. Memang, Danu selalu dilarang membantu tapi manalah enak tinggal di rumah keluarga tapi tidak berkontribusi.

Harapannya, Danu ingin pindah dari rumah omnya karena ingin lebih mandiri. Apalagi, istri omnya seperti terbeban dengan kehadiran Danu. Meski dilarang, Danu memberi alasan yang tak dapat ditolak.

Saat menceritakan apa yang dihadapinya pada Dana, Danu tak kuasa menahan air mata. "Begitupun, aku berterima kasih pada seluruh keluarga om yang sudah bersedia menerimaku, Dana," cerita Danu.

"Jadi Dana tinggal di mana sekarang?"

"Ngekos!"

"Siapa yang bayar?"

"Aku sambil kerja, ngojek. Kadang, karena terlalu capek, aku bolos sekolah!"

"Aku tak bisa berbuat apa-apa, Dana. Aku cuma dapat mendoakanmu."

Dana tak kuasa menahan air matanya. Ia ingat betapa pintar dan uletnya Danu ketika di sekolah saat di desa tapi sekarang kenapa lebih mementingkan ngojek?
Meski risau, Dana sempat iri. Soalnya, emak Danu selalu cerita dapat kiriman dari anaknya yang di kota.

Kalau mengirim, bukan sedikit. Minimal sejuta. Emak Danu cerita anaknya kerja di perusahaan motor. Dana heran, ingin membantah tapi tak berani berkata seperti yang diutarakan Danu bahwa teman sejatinya itu cuma ngojek.

Udahlah... yang penting halal. Dalam setiap doa seusai shalat, Dana terus mendoakan kesuksesan sahabatnya.

Emang Danu sukses kok. Dana diminta Danu ke kota saat liburan. Semua biaya ditanggung Dana tapi Danu tetap membawa persediaan sendiri.

Ketika jumpa, Dana takjub. Emang Danu kerja siang-malam tapi sekolah benar-benar berantakan. Meski tinggal serumah, bertemu dengan Danu cuma malam hari. Itu pun sebentar saja karena Danu keburu tidur. Capeeeek.

Seminggu tinggal bersama Danu, paling cuma sejam Dana bertemu dengan sahabatnya itu. Bahkan, ketika hendak kemabli ke kampung, Danu tidak bisa mengantar. Soalnya, hari Minggu pun Danu kerja... kerja dan kerja!

Danu pesan pada Dana, jangan cerita pada siapapun kondisinya di kota. Danu justru berpesan agar Danu fokus pada sekolah serta mengejar ilmu setinggi mungkin. Soalnya, sesuai pengalaman Danu, bekerja mengandalkan tenaga pasti tidak enak ketimbang kerja dengan kekuatan otak.

Benar. Tiga bulan sekembalinya Dana ke kampung, Danu dikabarkan sakit dan kembali ke kampung untuk berobat. Betapa terkejutnya Dana melihat fisik Danu yang sekarang lebih kurus ketimbang satu kuartal lalu. (h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru