Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 30 Juli 2026

Dan Aku Seperti Diombang-ambing

* karya Yohana Desi Artha Purba - SMAN 4 Pematangsiantar
- Minggu, 19 Maret 2017 16:17 WIB
472 view
Aku mendongak dan mendapati Ray berjalan di dekatku. Aku memalingkan wajah dan tubuhku berusaha menghindari kontak mata dengannya. Kuajak sahabatku Dina berbicara berusaha menghindari Ray mengajakku bicara. Dina bingung dengan sikap anehku. Tapi ia langsung menyadari setelah sesaat ia melihat seorang cowok yang tak asing lewat di hadapannya. Ray tidak sendiri. Ia bersama Bani. Seseorang yang pernah mematahkan hatiku. Aku tidak tahu siapa sebenarnya yang ingin kuhindari. Ray atau Bani?

***
Dina ngotot ingin pulang, selepas ke luar dari ruang ujian. Aku minta nebeng. Sebelum sampai parkiran, ada suara berat memanggilku. Aku menoleh dan mendapati keramaian dan tidak menangkap wajah orang yang memanggilku tadi. Aku kembali berjalan menyusul Dina yang sudah lima langkah mendahuluiku.

Aku menunggu Dina mengambil kendaraannya. Menunggunya bagaikan menanti datangnya jodoh. Tak ada tanda-tanda apapun bahwa dia akan datang. Pasti Dina sedang berdandan menghadap kaca spion. Padahal tak ada gunanya ia berdandan karena setelah itu rambutnya pasti akan berantakan karena helm. Aku sibuk dengan telepon genggamku. Aku mendapati kebosanan di sana dan memilih untuk mendongak. 

Sudah 10 menit aku menunggunya. Aku menghela napas. Kudapati Bani berjalan menuju parkiran. Ia bersama seseorang yang tak asing bagiku namun aku tak tahu namanya. Seketika jantungku berhenti berdetak walaupun hanya sepersekian detik. Kenapa aku harus melihat wajahnya lagi? Dan Bani menangkap mataku yang sedang menatapnya. Ia tersenyum seolah tak merasa bersalah dengan sikapnya yang membuatku patah hati. Cepat-cepat aku melompat ke boncengan, begitu Dina datang.

***
Risih rasanya melihat dua insan berjalan bergandeng tangan dan berjalan bersama sebagai sejoli. Baik kakak kelas maupun adik kelas. Aku merasakan suatu ketidaknyamanan di dalamnya. Mungkin karena aku tidak mempunyai seorang kekasih. Pikiran itu langsung menghantui saat melihat kerumunan sejoli yang memamerkan kemesraan mereka di depan publik. Kulangkahkan kaki menuju ruang ujian. Satu minggu ini sekolah kami memang sedang melangsungkan ujian bagi murid-muridnya untuk menguji sejauh mana kemampuan kami. Tak terasa langkah yang kutancapkan di atas bumi telah mengantarku sampai ke tujuan. Dan tidak lama setelah itu ujian dilangsungkan.

Begitu ke luar kelas, Bani sekonyong-konyong muncul di hadapanku. Denyut jantungku kembali terganggu. Aku buru-buru menghindar tapi ia ngotot menghalangi langkahku.
"Aku mau bicara sebentar."
"Tentang apa? Tidak ada yang perlu diperbincangkan."
"Apakah kau marah padaku? Sudah kukatakan itu semua cuma salah paham."
"Ya sudah. Itu saja kan? Sekarang biarkan aku untuk pulang."
"Aku akan mengantarmu. Ikutlah bersamaku."
Aku ngotot. Bani tak lagi menahanku. Dia membiarkanku berjalan menyusuri lorong sekolah. Aku berjalan dengan hati yang sedang berusaha menahan tangis. Sakit hatiku belum juga usai. Apakah yang dikatakannya benar atau tidak aku tidak perduli lagi. Aku sedang berusaha melupakannya dan segala kenanganku bersamanya.

***
Kurebahkan tubuhku di atas kasur nyamanku. Kurenungkan semua kejadian yang tak terduga tadi. Apa yang dilakukan Bani membuatku semakin sulit untuk melupakannya. Dirinya selalu bertamu ke pikiranku tanpa seizinku.

Telepon pun bergetat. Ada pesan dari Ray. Suatu gambar lucu yang membuatku tersenyum. Ray emang orang yang humoris. Kami sangat akrab didunia maya. Namun di kenyataan hanya sesekali kami memiliki kesempatan untuk mengobrol. Tidak ada sesuatu pun yang penting yang harus kubicarakan dengannya. Aku hanya memberi tanda "suka" pada kirimannya tersebut. Dan aku kembali pada pikiran panjangku tadi. Tak terasa aliran air mata mendarat deras di pipiku. Tak bisa kubendung lagi semua rasa kesal dan senangku pada Bani. Semua bercampur aduk.

Telepon genggamku kembali bergetar untuk yang kesekian kalinya. Mungkin itu hanya pesan tak penting dari Ray. Aku tidak tahu mengapa dia seantusias itu padaku. Padahal aku jarang menggubris obrolannya. Kulihat lagi telepon genggamku untuk yang kedua kalinya. Dan ada sebuah kiriman video dari Bani. Video yang menambah laju kecepatan air mataku. Bahkan mengalahkan kecepatan air terjun Niagara. Bani. Mengapa kau selalu bisa membuatku tersenyum dan menangis? Mengapa kau selalu bisa membuatku tak bisa melupakanmu? Apakah kau seorang dewa cinta? Tetapi mengapa hanya aku saja yang menjadi korban kemanisan cintamu itu?  (d)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru